Kondisi Darurat di Rumah Sakit Lebanon
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan bahwa beberapa rumah sakit di Lebanon mungkin akan kehabisan pasokan medis penting dalam beberapa hari mendatang. Situasi ini terjadi akibat jumlah korban jiwa yang meningkat pesat akibat serangan besar-besaran Israel dalam beberapa hari terakhir.
“Sebagian perlengkapan penanganan trauma sudah dalam kondisi terbatas, dan kami bisa kehabisan dalam beberapa hari,” kata Abdinasir Abubakar, perwakilan WHO di Lebanon, seperti dilansir dari berbagai sumber.
Perlengkapan yang dimaksud mencakup perban, antibiotik, dan anestesi untuk merawat pasien yang mengalami cedera akibat perang. Pada Rabu (8/4/2026), Israel melancarkan serangan terbesarnya di Lebanon sejak perang dengan Hizbullah kembali meletus pada awal Maret. Serangan tersebut mengebom lebih dari 100 sasaran di seluruh negeri hanya dalam waktu 10 menit, menewaskan 303 orang dan melukai 1.150 lainnya.
“Jika ada korban massal lagi, seperti yang terjadi kemarin, itu akan menjadi bencana. Mungkin kita akan kehilangan lebih banyak nyawa hanya karena kita tidak memiliki cukup persediaan,” ujar Abu Bakar. Ia menambahkan bahwa saking banyaknya jumlah korban belakangan ini, pasokan medis yang seharusnya cukup untuk sekitar 3 pekan habis hanya dalam 1 hari. Selain itu, obat-obatan untuk pasien dengan penyakit kronis, seperti insulin bagi penderita diabetes, juga diperkirakan akan habis dalam beberapa pekan ke depan setelah rantai pasokan terganggu akibat perang di kawasan Teluk dan penutupan Selat Hormuz.
Korban Jiwa Banyak Terdiri dari Warga Sipil
Lebanon tidaklah asing dengan perang atau serangan udara dari Israel. Tenaga medis di negara tersebut telah menghadapi berbagai krisis dalam beberapa tahun terakhir, terutama selama perang dengan Israel pada 2023-2024. Namun, Salah Zeineldine, kepala petugas medis Rumah Sakit Universitas Amerika Beirut (AUB), mengatakan serangan pada Rabu sangat berbeda dari situasi sebelumnya.
“Itu merupakan tantangan besar bagi kami, terutama di Beirut. Kami belum pernah kehilangan begitu banyak orang dalam satu hari. Intensitas seperti ini belum pernah kami alami sebelumnya,” ujarnya, seperti dilansir dari Al Jazeera. Meskipun Israel mengklaim bahwa mereka menyasar kelompok Hizbullah yang didukung Iran, Zeineldine mengatakan bahwa serangan pada Rabu sangat acak dan tidak menargetkan lokasi atau kelompok tertentu. Ia menambahkan bahwa seluruh pasien yang tiba di Rumah Sakit Universitas Amerika Beirut (AUB) merupakan warga sipil, termasuk anak-anak, perempuan, dan lansia.

Risiko Runtuhnya Gencatan Senjata AS-Iran
Serangan pada Rabu terjadi hanya beberapa jam setelah diumumkannya kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran, yang menurut banyak pihak juga mencakup Lebanon. Namun, Israel dan AS bersikeras bahwa penghentian permusuhan tersebut hanya berlaku untuk AS, Israel, dan Iran.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, sendiri menyatakan bahwa serangan Israel di Lebanon melanggar kesepakatan gencatan senjata dan berisiko membuat perundingan menjadi tidak berarti. Ia juga menegaskan bahwa Iran tidak akan meninggalkan rakyat Lebanon. Perbedaan tajam terkait cakupan gencatan senjata ini memicu kekhawatiran bahwa kesepakatan tersebut bisa runtuh bahkan sebelum perundingan untuk penyelesaian konflik secara permanen dimulai. Perundingan dijadwalkan akan dimulai di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu (11/4/2026).












