"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Penelitian: Perkembangan Autisme Berbeda pada Anak Laki-laki dan Perempuan

Autisme: Perkembangan yang Berbeda pada Anak Laki-Laki dan Perempuan

Autisme adalah gangguan neurologis dan perkembangan yang kompleks yang dapat memengaruhi keterampilan sosial, pembelajaran, dan komunikasi. Meskipun gangguan spektrum autisme (ASD) hadir sejak lahir, biasanya tidak didiagnosis hingga masa kanak-kanak. Namun, para ahli telah mengidentifikasi beberapa tanda awal autisme pada bayi.

Studi terbaru menunjukkan bahwa perkembangan ASD berbeda antara anak laki-laki dan perempuan. Penelitian ini menemukan bahwa efek ASD pada anak perempuan kurang diteliti karena diagnosis ASD empat kali lebih umum pada anak laki-laki. Para peneliti menggunakan teknologi pencitraan otak seperti fMRI untuk melihat aktivitas otak selama interaksi sosial, melacak hal-hal seperti ekspresi wajah dan gerak tubuh.

Peneliti menemukan bahwa anak perempuan dengan autisme menggunakan bagian otak yang berbeda dari anak perempuan tanpa autisme. Perbedaan antara anak perempuan dengan dan tanpa autisme tidak sama dengan perbedaan antara anak laki-laki dengan dan tanpa autisme. Temuan ini menunjukkan bahwa mekanisme otak yang berbeda mungkin terlibat dalam autisme berdasarkan jenis kelamin biologis seseorang.

Para peneliti juga menemukan bahwa kontributor genetik antara kedua jenis kelamin sangat berbeda. Anak perempuan memiliki lebih banyak varian gen langka yang aktif selama perkembangan awal striatum, wilayah otak yang berperan dalam mengatur perilaku motorik, menafsirkan interaksi sosial, persepsi penghargaan, dan banyak lagi. Peneliti percaya bahwa efek pada striatum mungkin berperan dalam risiko ASD pada anak perempuan.

Tanda-Tanda Autisme pada Bayi

Beberapa orangtua mulai memerhatikan tanda-tanda awal autisme ketika bayi mereka berusia sekitar 6 hingga 12 bulan—dan mungkin bahkan lebih awal. Semua bayi berkembang pada garis waktu yang berbeda, tetapi bayi dengan autisme mungkin lebih lambat mencapai tonggak perkembangan tertentu atau mereka mungkin melewatkannya sama sekali.

Kemungkinan tanda-tanda awal autisme pada bayi baru lahir hingga usia 3 bulan meliputi:
* Tidak mengikuti objek bergerak dengan mata

Sensitif terhadap suara keras

Ekspresi wajah terbatas

* Pengenalan wajah yang buruk (terutama wajah baru)

Tanda-tanda autisme pada bayi usia 4 hingga 7 bulan meliputi:
* Menunjukkan ketidakminatan terhadap suara tertentu (seperti tidak menoleh untuk mencari sumber suara)

Kurangnya kasih sayang

Ocehan terbatas

Ekspresi verbal terbatas (seperti tidak tertawa atau mengeluarkan suara melengking)

Tidak meraih benda

Tidak menggenggam atau memegang benda

Menunjukkan ekspresi wajah dan/atau reaktivitas emosional yang terbatas (seperti tidak tersenyum sendiri)

Tanda-tanda autisme pada bayi usia 8 hingga 12 bulan meliputi:
* Mungkin tidak merangkak

Mungkin menghindari kontak mata

Ucapan terbatas atau tidak dapat dipahami

Mungkin tidak menggunakan isyarat seperti melambaikan tangan atau menggelengkan kepala

Mungkin tidak menunjuk ke benda atau gambar

* Mungkin tampak tidak seimbang atau tidak mampu berdiri bahkan saat ditopang

Jika Bayi Menunjukkan Tanda-Tanda Autisme

Jika orangtua melihat beberapa tanda potensial autisme pada bayi, orangtua disarankan menjadwalkan kunjungan dengan dokter anak. Orangtua akan membahas masalah perkembangan, dan dokter akan mengevaluasi bayi untuk autisme. Ada bukti yang menunjukkan bahwa semakin cepat orangtua mendapatkan diagnosis, semakin awal orangtua dapat mengikuti intervensi perkembangan dan perilaku.

Intervensi dini dimaksudkan untuk membantu anak-anak autis berkembang hingga potensi penuh mereka. Otak dapat merespons perawatan lebih efektif pada usia yang lebih muda, yang dapat membuat intervensi lebih efektif. Seiring bertambahnya usia anak, intervensi tersebut mungkin termasuk terapi wicara, terapi okupasi, konseling kesehatan mental, dan apa pun yang orangtua dan tim perawatan kesehatan yakini akan membantu si Kecil berkembang.

Cara Mengelola Diagnosis Autisme

Meskipun diagnosis autisme mungkin tampak mengkhawatirkan, orang dengan autisme dapat dan memang menjalani kehidupan yang bahagia dan memuaskan. Mengetahui bahwa anak berada dalam spektrum autisme bukanlah hal yang buruk. Mendapatkan diagnosis dapat membantu orangtua lebih memahami cara kerja otak anak dan cara mendukungnya.

Meskipun tidak ada jaminan atau jawaban pasti, prognosis untuk anak dengan autisme dapat dipengaruhi oleh intervensi dan pengobatan dini. Autisme tidak dapat disembuhkan, tetapi ada pengobatan berbasis bukti yang dapat membantu dan mendukung orang dengan autisme. Penting untuk dicatat bahwa pengobatan ini dimaksudkan untuk mendukung orang dengan autisme, bukan untuk menyembuhkan mereka.







Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *