"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

OSOP Bukan Hanya Produk, Rofinus Lamawato Tekankan Pembentukan Karakter dan Mental Tangguh Siswa

Program One School One Product (OSOP) sebagai Wadah Pembelajaran Keterampilan dan Karakter

Program One School One Product (OSOP) bukan sekadar aktivitas produksi di sekolah, melainkan menjadi wadah pembelajaran yang bertujuan membentuk karakter, mental tangguh, kreativitas, serta pola pikir kewirausahaan siswa. Hal ini disampaikan oleh Kepala Cabang Dinas (Cabdin) Pendidikan Wilayah 4 Provinsi NTT, Rofinus Laga Lamawato, yang mengatakan bahwa pemahaman sebagian pihak yang menilai OSOP hanya sebatas aktivitas produksi adalah keliru.

Esensi utama dari OSOP terletak pada proses pembelajaran yang membentuk kepribadian siswa secara utuh. Peserta didik dituntut untuk menghasilkan sebuah produk tanpa merasa takut akan gagal. Proses ini memberi pelajaran tentang bagaimana belajar membuat sesuatu, menghadapi kegagalan, lalu mencoba lagi. Dari situ karakter siswa dibentuk.

Proses Pembelajaran dalam OSOP

Siklus OSOP dimulai dari mimpi dan visi siswa. Mereka diajak menentukan apa yang ingin mereka ciptakan dan bagaimana mewujudkan ide tersebut menjadi karya nyata. Dari visi itu, siswa dilatih menyusun perencanaan secara sistematis, mulai dari mencari referensi, membaca literatur, mempelajari teknik pembuatan, hingga memahami kebutuhan pasar secara sederhana.

“Semua dimulai dari literasi. Anak-anak membaca, mencari informasi, mengunduh referensi, mempelajari tulisan orang lain, lalu mempraktikkannya. Inilah real literasi,” ujar Rofinus.

Kegagalan merupakan bagian penting dari proses OSOP. Dalam praktik, siswa kerap menghadapi berbagai kendala, mulai dari kemasan yang rusak, rasa produk yang belum sesuai, hingga desain yang kurang menarik. Di situ mereka belajar bangkit dan mencoba lagi. Dari proses itu mental tangguh dibangun.

Pengembangan Keterampilan dan Nilai Ekonomi

Tidak hanya soal produksi, OSOP juga mengajarkan siswa memahami nilai ekonomi sebuah karya. Siswa dilatih membuat logo, membangun identitas produk, memperbaiki kemasan, hingga mempelajari teknik pemasaran sederhana.

“Ini bukan memindahkan sistem tata niaga ke sekolah. Tujuannya melatih cara berpikir dan pendewasaan siswa agar siap menghadapi kehidupan nyata,” jelas Rofinus.

Ia menekankan bahwa OSOP berbeda dengan konsep One Village One Product yang berorientasi bisnis. OSOP lebih menitikberatkan pada pembentukan metodologi berpikir dan pengalaman praktis siswa.

“Yang dibangun adalah pola pikir. Dari ide, perencanaan, produksi, sampai bagaimana karya itu punya nilai,” katanya.

Relevansi OSOP dalam Kehidupan Nyata

Rofinus menilai OSOP sangat relevan karena tidak semua lulusan SMA melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Melalui program ini, siswa memiliki alternatif keterampilan hidup yang nyata. Minimal mereka punya pengalaman menghasilkan sesuatu dan memahami prosesnya. Itu bekal penting dalam hidup.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa produk OSOP tidak harus berupa barang fisik. Karya tulis, puisi yang dibukukan, berita yang dipublikasikan, konten digital, hingga jasa desain grafis bagi siswa SMK juga termasuk produk OSOP.

“Literasi adalah bagian dari OSOP. Menulis puisi lalu dibukukan dan dijual, menulis berita yang dipublikasikan, atau jasa desain grafis, semuanya OSOP,” kata dia.

OSOP sebagai Bagian dari Visi Pembangunan SDM NTT

Program OSOP sendiri merupakan salah satu program strategis Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena dan Johni Asadoma, sebagai bagian dari visi besar pembangunan sumber daya manusia NTT yang unggul, mandiri, kreatif, dan berdaya saing.

“Segala hal yang melatih karakter siswa, itulah OSOP yang sebenarnya,” ujar Rofinus.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *