"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

BI Mulai Pro-Growth, Ekspansi Kredit Terancam Lesu Permintaan

Bank Indonesia Terus Berupaya Mendorong Pertumbuhan Kredit



Jakarta – Bank Indonesia (BI) akan terus memberikan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) sebagai komitmen untuk mendukung kebijakan bank sentral yang pro-growth. Otoritas moneter berharap, insentif tersebut dapat mendorong pertumbuhan kredit pada tahun 2026 dengan target batas bawah sebesar 8% dan batas atas hingga 12%.

Pada tahun 2025 lalu, realisasi pertumbuhan kredit perbankan hanya mencapai 9,69%, meskipun masih berada dalam target BI yaitu 8%-11%. Namun, pertumbuhan kredit tersebut melambat dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 10,39%. Kendati demikian, BI tetap optimis bahwa penerapan insentif KLM akan mempercepat transmisi suku bunga dan meningkatkan kinerja kredit.

Pemanfaatan Insentif KLM Masih Di Bawah Target

Sayangnya, BI mencatat bahwa pemanfaatan insentif KLM tidak optimal. Pemanfaatan KLM jalur penyaluran kredit (lending channel) hanya mencapai 4,17% dari plafon yang tersedia, sementara KLM jalur suku bunga (interest rate channel) hanya 0,38% dari plafon sebesar 1%. Direktur Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia (BI), Alexander Lubis, menyatakan bahwa permintaan dari sektor ekonomi perlu dipercepat agar insentif ini bisa lebih efektif.

“Risiko pasti ada, tetapi sejauh ini masih kita mitigasi,” ujar Alex saat berbicara di Pontianak, Kalimantan Barat. Meski mengakui adanya risiko, Alex menekankan bahwa transmisi kebijakan butuh waktu. Selain itu, BI belum melihat adanya faktor signifikan yang bisa mengganggu sektor keuangan.

Tetap Menjaga Stabilitas Ekonomi

Di sisi lain, BI tetap berupaya menjaga inflasi dan stabilitas nilai tukar meskipun fokus utamanya adalah pro-pertumbuhan. Alex menegaskan bahwa BI telah melakukan evaluasi terhadap ketahanan sistem keuangan dan hasilnya menunjukkan bahwa semua indikator relatif terjaga.

Alex juga memastikan bahwa kondisi perekonomian yang terjadi tidak akan mengubah arah kebijakan BI yang tetap pro-pertumbuhan. “Sejauh ini dari indikator kami, belum menunjukkan harus berganti stance,” ujarnya.

Prospek Ekonomi Tahun 2026 dan 2027

Prospek perekonomian Indonesia pada tahun 2026 hingga 2027 diperkirakan masih penuh tantangan. Stabilitas politik global serta kemungkinan tekanan neraca perdagangan jika tarif impor Amerika Serikat (AS) berlaku, berpotensi menekan laju ekonomi Indonesia.

Bank Indonesia (BI) menetapkan proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2026 di kisaran 4,9% hingga 5,7%, sedangkan untuk tahun 2027, proyeksinya mencapai 5,1% hingga 5,9%. Angka ini jauh lebih konservatif dibandingkan target pemerintah yang sebesar 5,4% hingga 6% pada 2026.

Selain itu, BI juga meramal defisit transaksi berjalan berada di kisaran 0,1% hingga 0,9% untuk tahun 2026 dan 0,4% hingga 1,9% pada tahun 2027 dari produk domestik bruto (PDB). Proyeksi ini jauh lebih lebar dibandingkan realisasi pada tahun 2024 yang hanya 0,6% atau proyeksi 2025 di kisaran 0,1% hingga 0,7% dari PDB.

Direktur Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juli Budi Winantya menjelaskan bahwa angka-angka ini bukanlah pesimisme terhadap prospek ekonomi Indonesia, melainkan proyeksi berdasarkan horizontal time.

Lima Agenda Transformasi Ekonomi

Juli menekankan bahwa transformasi sektor riil diperlukan untuk mencapai pertumbuhan yang lebih tinggi dan berdaya tahan, terutama melalui kebijakan industrial dan struktural yang meningkatkan kapasitas ekonomi nasional. Ia merinci lima agenda transformasi yang diperlukan:

  1. Sinergi memperkuat stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan.
  2. Sinergi mendorong pertumbuhan lebih tinggi dan berdaya tahan.
  3. Sinergi meningkatkan pembiayaan perekonomian dan pasar keuangan.
  4. Sinergi akselerasi digitalisasi ekonomi hingga keuangan nasional.
  5. Sinergi kerja sama ekonomi bilateral dan regional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *