Perjalanan Nadia Angelina: Dari Rasa Minder Hingga Menjadi Duta dan Brand Ambassador
Nadia Angelina, seorang mahasiswa Hubungan Internasional Universationally Brawijaya asal Tuban, telah menorehkan berbagai prestasi akademik dan non akademik. Dari kompetisi hingga keterlibatannya menjadi duta dan brand ambassador sebuah komunitas atau instansi, perjalanan Nadia menginspirasi banyak orang.
Awal Perjalanan yang Tidak Terduga
Kabupaten Tuban menjadi saksi bisu bermulanya perjalanan Nadia. Ia tidak pernah menyangka jika langkah kecil untuk belajar bahasa Inggris sejak SMP akan membawanya ke kancah nasional hingga internasional. Sebagai mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Brawijaya jalur International Undergraduate Program (IUP), Nadia membuktikan bahwa perjalanan yang ia lalui bukan tanpa hambatan. Namun, perjuangan keras dalam mengatasi keraguan diri dan membuktikan kemampuannya melalui tindakan nyata.
Di Balik Sosok Percaya Diri
Di balik sosok Nadia yang kini aktif dan selalu percaya diri, ia berjuang melawan rasa mindernya. Latar belakang keluarga yang tidak utuh sempat membuat ia merasa overthinking dan merasa tertinggal dibandingkan orang lain. Rasa itu terbawa hingga masa kuliah. Namun, perasaan-perasaan negatif itulah yang membuat Nadia bangkit dan membuktikan kepada semua orang bahwa ia juga memiliki peluang yang sama untuk berkembang.
“Saya berasal dari keluarga broken home, dan dari situ muncul keinginan dalam diri saya bahwa anak dari latar belakang seperti saya juga punya hak dan kesempatan untuk sukses,” ujarnya.
Bahasa Inggris Jadi Fondasi Utama
Bahasa Inggris menjadi fondasi utama dalam perjalanan Nadia. Program Kumon ELF sudah ia tekuni sejak SMP. Selama berproses disana, ia kerap kali mengalami kegagalan. Meski demikian, ia tidak pernah menyerah. Konsistensi dan ketekunannya selama hampir dua tahun membawa keberhasilan karena ia lulus dengan level bahasa Inggris yang setara mahasiswa.
“Bahasa Inggris bagi saya bukan cuma pelajaran, tapi bekal untuk membuka banyak pintu,” katanya.
Top Ten Debat Nasional, Titik Balik Kepercayaan Diri
Fondasi utama itulah yang menjadi bekal Nadia untuk memilih jalur International Undergraduate Program (IUP) di jurusan Hubungan Internasional Universitas Brawijaya. Meski bukan cita-cita pertamanya, Nadia memandang lingkungan baru tersebut bukan sebagai beban, melainkan kesempatan untuk meningkatkan kemampuannya.
Culture Shock juga pernah ia alami, dan kemampuan bahasa-lah yang membantu ia beradaptasi dan membangun relasi hingga lebih percaya diri. Keaktifan berdebat di kelas menjadi kunci peningkatan rasa percaya diri Nadia hingga ia berani berlaga di kompetisi nasional.
Melalui persiapan otodidak yang singkat, timnya sukses menembus sepuluh besar dari ratusan peserta di lomba debat tingkat nasional yang diadakan oleh @ikutlomba. Momen tersebut menjadi titik balik baginya untuk menyadari bahwa rasa minder tidak menghalangi sebuah keberhasilan.
“Waktu nama tim kami disebut di Top Ten, aku sempat nggak percaya. Di situ aku sadar, keberanian mencoba itu lebih penting daripada merasa siap,” ungkapnya.
Aktif di Bidang Non Akademik
Tak hanya di bidang akademik, Nadia juga aktif dalam berbagai kegiatan yang mendukung pengembangan dirinya. Berbagai peran ia jalankan dari menjadi Duta Potensi Pemuda Indonesia 2025 hingga brand ambassador dari sebuah program edukasi. Dalam perannya, ia terlibat dalam kegiatan kampanye untuk menyampaikan dan menyebarkan visi, misi, serta nilai dari institusi atau program yang ia ikuti.
Baginya, setiap peran yang ia emban selalu memberikan ruang pembelajaran sendiri untuk memperluas kemampuannya. “Buat aku, setiap kesempatan adalah ruang belajar, bukan sekadar titel,” tuturnya.
Program EduTrip ke Asia Tenggara
Bahasa Inggris kembali membuka pintu pengalaman ke jenjang internasional. Nadia diberi kesempatan untuk mengikuti program EduTrip ke Malaysia, Singapore, dan Thailand. Tak hanya sebagai kunjungan akademik, ia juga menjalankan kompetisi bisnis yang memberinya gambaran nyata terkait sistem pendidikan dan dinamika sosial di kawasan Asia Tenggara. Pengalaman itu membuat teori yang dipelajari di kelas terasa nyata.
Belajar Menjaga Diri di Tengah Ambisi
Di balik segala pencapaian yang telah Nadia capai, ada ambisi yang selalu muncul demi memberikan hasil yang terbaik. Hal ini membuatnya mengabaikan kesehatan hingga menjalani perawatan. Dari situ, Nadia belajar bahwa keberhasilan tidak boleh dibayar dengan mengorbankan diri sendiri. Kini ia lebih bijak dalam mengatur ritme, memberi ruang istirahat tanpa kehilangan semangat.
Nadia membuktikan bahwa keberanian, keteguhan hati, dan semangat untuk tumbuh adalah kunci mengubah keraguan menjadi kekuatan. Kisahnya bukan hanya tentang keberhasilan ke luar negeri, tetapi tentang perjalanan yang menunjukkan bahwa usaha yang konsisten selalu berbuah manis.











