Deddy Mizwar Menilai Jilid 16 Para Pencari Tuhan Paling Ikonik
Sebagai salah satu sinetron yang selama ini menjadi hiburan utama selama bulan Ramadan, Para Pencari Tuhan telah memberikan pengalaman menonton yang tak terlupakan bagi banyak masyarakat Indonesia. Dari jilid pertama hingga kejilid sekarang, cerita-cerita yang diangkat selalu menggambarkan realitas sosial dengan cara yang unik dan mendalam.
Salah satu jilid yang paling dikenang adalah Para Pencari Tuhan Jilid 16. Menurut Deddy Mizwar, yang akrab disapa Pak Haji, jilid ini memiliki kesan yang sangat kuat karena mengangkat isu-isu yang relevan dengan kehidupan masyarakat saat itu. Ia menyatakan bahwa jilid ini layak disebut sebagai yang paling ikonik.
Deddy Mizwar menjelaskan bahwa dalam jilid tersebut, alur cerita menampilkan pemberontakan sebagai bentuk kritik terhadap sistem sosial yang sering kali dianggap biasa. “Ada satu pemberontakan terhadap nilai-nilai. Mungkin bisa menghajar macem-macem. Ada DPR (Di bawah Pohon Rindang) segala macem, karena ada sikap pemberontakan terhadap nilai-nilai kemapanan yang ada di masyarakat dengan menciptakan nilai yang baru di komunitas,” ujarnya dengan nada santai.
Menurutnya, konflik-konflik yang ditampilkan pada musim tersebut berhasil menggambarkan realitas sosial. Karena menurutnya, alih-alih nilai pendidikan, anak-anak punk lebih muda tersentuh dengan nilai-nilai agama yang universal.
“Agama bisa tembus ke mana-mana. Kepada komunitas mana pun bisa tembus. Gak ada nilai-nilai pendidikan, susah masuk ke mereka, kecuali pada nilai agama. Karena manusia kan cenderung berbuat baik. Tinggal bagaimana menyentuhnya saja. Sebenarnya, fitrahnya memang manusia itu baik,” lanjutnya dengan mata-mata yang berkaca-kaca.
Penulis Naskah Sebut Riset Jilid 16 Sangat Totalitas
Amiruddin Olland, penulis naskah Para Pencari Tuhan, mengungkapkan bahwa proses riset untuk pengembangan ide cerita Para Pencari Tuhan Jilid 16 dilakukan secara totalitas. Ia dan tim bahkan terjun langsung ke berbagai komunitas anak punk, termasuk berkunjung ke salah satu pesantren khusus anak punk yang berlokasi di Tangerang.

“Itu riset-risetnya gila juga, karena kita riset ke berbagai macam komunitas punk, termasuk salah satunya itu pesantren yang di Tangerang itu, yang pesantren khusus anak punk,” kata Amiruddin Olland.
Ia juga menjelaskan bahwa isu-isu sosial yang diangkat dalam sinetron ini bukan hanya tentang relevansi dalam kehidupan masyarakat, tetapi juga bagaimana isu tersebut bisa ditinjau dari perspektif religius.
“Karena berdasarkan dari cerita, PPT itu religi. Bagaimana solusi-solusi agama mencoba untuk diaplikasikan ke dalam sosial, ke dalam cerita bahwa kita meyakini agama Islam itu agama yang sempurna. Sesempurna apa? Kita coba uji. Ketika kita melihat fenomena sosial, apakah agama itu punya solusi? Di situ kita mencoba untuk salah satunya menjawab tantangan itu,” ungkapnya.
Awalnya Ingin Ajak Anak Punk Asli, Tapi Batal
Setelah bertemu dan berinteraksi langsung dengan anak-anak punk, Deddy Mizwar sempat berencana untuk melibatkan mereka dalam produksi. Namun, rencana tersebut dibatalkan karena anak-anak punk yang ditemuinya itu keburu tobat setelah mengenal agama.

Sambil tersenyum tipis mengenang momen risetnya, Pak Haji menceritakan bahwa saat itu, anak-anak punk tersebut memperlihatkan sikap yang lebih tenang dan ramah. Perubahan karakter tersebut lah yang membuat ia dan timnya jadi kesulitan untuk menemukan sosok anak punk yang masih menampilkan kesan sangar sesuai kebutuhan cerita.
“Tadinya saya mau ambil dari anak punk beneran. Tapi setelah mereka kenal agama, mereka lebih banyak senyum hidupnya. Jadi susah gue ambil dari anak punk beneran. Setelah kita mendapatkan anak punk yang udah insaf, dia susah memainkan tokoh punk yang liar,” kata Deddy Mizwar.
Berdasarkan pengalaman nyata yang ia alami tersebut, Deddy Mizwar pun mengungkapkan rasa kagumnya atas nilai-nilai agama yang bisa menyentuh hati anak-anak punk untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
“Anak punk luruh dengan nilai agama. Menjadi orang yang lebih baik daripada orang biasa yang kenal agama dari kecil. Bagaimana dia hati yang begitu keras, begitu menolak nilai-nilai, kemudian tembus dengan nilai-nilai keilahian. Karena dalam dirinya memiliki nilai itu. Dia juga mencari Tuhan.”











