Krisis Geopolitik di Timur Tengah: Dampak Serangan AS dan Israel ke Iran
Serangan terkoordinasi yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah wilayah di Iran pada hari Sabtu (28/2/2026) memperburuk krisis geopolitik yang telah dipicu oleh kebuntuan negosiasi nuklir Teheran. Peristiwa ini menimbulkan risiko retaliasi atau serangan balasan dari pihak Iran, yang secara langsung memengaruhi pasar global.
Pasar minyak dunia merespons cepat dengan lonjakan harga. Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, mengatakan bahwa dampak konflik Timur Tengah terhadap harga energi akan sangat signifikan dan berpotensi memicu gejolak ekonomi global.
“Harga minyak Brent saat ini sudah menyentuh US$ 73 per barel, naik dari US$ 65 per barel di awal Februari. Jika situasi memburuk, harga minyak bisa mencapai US$ 120 per barel, seperti ketika Rusia menginvasi Ukraina,” ujar Nailul dalam wawancara.
Menurutnya, eskalasi konflik yang dipicu oleh Washington berpotensi memicu turbulensi serupa dengan invasi Moskow ke Kyiv. Konflik tidak hanya terbatas pada serangan langsung, tetapi juga bisa melebar ke jalur distribusi energi strategis.
Ancaman Penutupan Selat Hormuz
Salah satu ancaman terbesar adalah jika Iran atau sekutunya menutup Selat Hormuz. Sekitar 30% perdagangan minyak mentah global melalui jalur ini. Penutupan selat tersebut dapat mengurangi pasokan minyak secara signifikan dan otomatis meningkatkan harga minyak mentah dunia.
Selain itu, potensi keterlibatan kelompok Houthi di Laut Merah juga membuka risiko gangguan di Bab el-Mandab. Jika jalur tersebut terganggu, arus perdagangan yang melewati Terusan Suez dan Mesir terancam tersendat. Kapal-kapal terpaksa memutar lewat Afrika, memicu kenaikan ongkos logistik global dan harga barang.
Dampak pada Fiskal dan Biaya Logistik
Dari sisi domestik, Nailul mengingatkan bahwa lonjakan harga minyak akan membebani fiskal. Kenaikan harga minyak mentah dan barang impor akan memperbesar subsidi energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM).
“Anggaran kita akan jebol apabila tidak ada realokasi anggaran ke subsidi BBM,” kata dia.
Nailul pesimistis terhadap kemampuan pemerintah untuk mengandalkan penerimaan negara di tengah ketidakpastian global. Opsi penambahan utang dinilai tidak mudah, mengingat lembaga pemeringkat seperti Moody’s dan S&P sebelumnya menyoroti kualitas pengelolaan fiskal Indonesia.
Dampak bagi Dunia Usaha
Bagi dunia usaha, Nailul menyarankan langkah efisiensi segera dilakukan. Kenaikan harga energi akan mendorong biaya freight dan premi asuransi yang berdampak pada pelaku usaha berorientasi ekspor maupun yang bergantung pada bahan baku impor.
“Harga impor akan naik dan bisa menyebabkan imported inflation,” katanya.
Efek pada Rantai Pasok dan Transportasi Darat
Tekanan tersebut terkonfirmasi dari sisi rantai pasok. Founder dan CEO Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi, mengatakan bahwa kenaikan harga minyak akibat potensi gangguan Selat Hormuz akan memengaruhi harga solar domestik, komponen utama biaya operasional transportasi darat.
Setijadi menjelaskan bahwa dengan porsi BBM mencapai 35%–40% dari total biaya operasi truk, kenaikan harga solar akan langsung diterjemahkan ke ongkos angkut.
“Dengan asumsi komponen BBM mencapai 35%–40% dari total biaya operasi truk, kenaikan harga solar 10% dapat mendorong kenaikan ongkos angkut sekitar 3,5%–4%,” tutur Setijadi dalam keterangan tertulis.
Ia menambahkan, bila solar naik 20%, ongkos truk berpotensi terdongkrak 7%-8%. Dalam skenario lebih berat, kenaikan 30% dapat memicu lonjakan ongkos hingga 10,5%-12%.
Struktur logistik Indonesia yang masih bertumpu pada transportasi jalan membuat sensitivitas terhadap harga solar sangat tinggi. Rata-rata biaya logistik nasional diperkirakan sekitar 14% dari harga produk, dan sekitar separuhnya berasal dari transportasi darat.
Dengan struktur tersebut, kenaikan ongkos truk 7%-8% saja dapat mengerek harga barang rata-rata sekitar 0,5%. Dalam kondisi ekstrem, kenaikan ongkos angkut di atas 10% bisa mendorong harga barang mendekati 0,8%, terutama pada komoditas pangan, bahan bangunan, dan produk konsumsi bermargin tipis.
Langkah yang Diperlukan
SCI mendorong pemerintah menjaga stabilitas harga BBM melalui kebijakan fiskal yang adaptif dan mempercepat diversifikasi energi. Optimalisasi angkutan laut dan kereta api dinilai krusial untuk menurunkan ketergantungan pada transportasi jalan.











