"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Kisah Kepsek SD Tibawa yang Rela Ganti Kendaraan 3 Kali Sehari untuk Murid

Pelantikan Kepala Sekolah di Kabupaten Gorontalo

Momentum penting baru saja terjadi di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Gorontalo. Pada Jumat, 6 Maret 2026, Bupati Gorontalo Sofyan Puhi melantik 171 kepala sekolah dan 19 koordinator wilayah pendidikan. Prosesi pelantikan ini berlangsung dengan penuh semangat, menandai awal dari perjalanan baru bagi para tenaga pendidik yang terpilih.

Di antara mereka, Fatmawaty Mile (41) menjadi salah satu tokoh yang mengundang perhatian. Ia memakai jas hitam dan kerudung coklat muda saat berdiri dalam barisan tersebut. Bagi Fatmawaty, hari itu adalah momen penting karena ia kembali dikukuhkan sebagai nakhoda SDN 29 Tibawa. Meskipun tidak menyangka akan ada prosesi pengukuhan pada tahun 2026 ini, ia menyadari bahwa hal ini merupakan bagian dari penyesuaian regulasi manajemen pegawai yang baru.

Fatmawaty bukan hanya seorang kepala sekolah biasa. Ia adalah pejuang yang telah menjalani perjalanan melelahkan setiap harinya. Setiap pagi, sebelum matahari terbit, ia harus meninggalkan rumahnya di pusat Kota Limboto untuk menuju Desa Buhu, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo. Jarak yang harus ia tempuh mencapai 36 kilometer. Perjalanan ini dimulai dengan kendaraan pribadi, lalu dilanjutkan menggunakan ojek motor atau mobil open cup jika diperlukan. Debu jalanan dan terik matahari telah menjadi teman setianya selama lebih dari 20 tahun.

Sejak lulus sebagai Guru Penggerak pada tahun 2024, dedikasi Fatmawaty semakin kuat. Status ini menjadi jembatan baginya untuk dipromosikan menjadi Kepala Sekolah. Namun, tantangan yang ia hadapi di SDN 29 Tibawa justru semakin nyata.

Salah satu tantangan utama yang ia hadapi adalah ketiadaan sinyal internet di sekolahnya. Di saat dunia membicarakan kecerdasan buatan, SDN 29 Tibawa masih kesulitan mencari sinyal internet. Kondisi ini membuat para guru sulit menerapkan model pembelajaran berbasis digital secara maksimal. Fatmawaty hanya mengandalkan voucher internet, yang kecepatannya sangat terbatas.

Puncak kesulitan terjadi saat agenda nasional seperti Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) tiba. Lantaran sinyal di sekolahnya timbul tenggelam, Fatmawaty terpaksa “mengungsi” bersama siswa-siswanya menuju sekolah lain yang memiliki akses internet lebih stabil. Sekolah tujuan mereka adalah SDN 20 Tibawa, yang jaraknya sekitar 6 kilometer dari lokasi belajar mereka.

Selain soal internet, Fatmawaty juga menitipkan pesan mendalam terkait perlindungan bagi rekan-rekan sejawatnya. Ia memohon agar pemerintah memberikan jaminan perlindungan hukum bagi guru dalam menjalankan tugas profesinya. Sebab, guru di pelosok sering kali rentan menghadapi konflik sosial maupun tekanan dari pihak luar.

Proses pengukuhan Fatmawaty ini merupakan bagian dari agenda besar Pemerintah Kabupaten Gorontalo. Bupati Gorontalo, Sofyan Puhi, secara total melantik 171 Kepala Sekolah serta 19 Koordinator Wilayah Pendidikan. Dalam sambutannya, Bupati menekankan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi besar untuk mewujudkan visi ‘Restorasi Pendidikan’ di Kabupaten Gorontalo.

Bupati menganalogikan pembaruan Surat Keputusan (SK) ini sebagai upaya memperkuat “pasukan” agar selaras dengan target pembangunan daerah. “Untuk menjalankan visi dan misi yang besar, butuh skuadron atau pasukan yang utuh. SK harus diperbaharui agar kita yakin pasukan ini siap bergerak bersama mencapai target RPJMD,” ujar Bupati dalam arahannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *