"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Budaya  

Ibu Bangsa: Menghormati Perempuan, Melestarikan Peradaban

Perempuan dan Peran Ibu dalam Membangun Peradaban

Setiap tahun, bulan Maret menjadi momen penting bagi dunia untuk merayakan Hari Perempuan Internasional. Tema-tema yang diusung tidak hanya sekadar seremonial, tetapi juga mencerminkan tantangan nyata yang dihadapi perempuan di berbagai belahan dunia. Tidak hanya merayakan, masyarakat diajak untuk membaca ulang realitas dan bergerak bersama menjawabnya.

Namun, di balik perayaan global tersebut, ada satu sosok yang sering kali dianggap biasa: ibu. Di tengah kampanye kesetaraan dan pemberdayaan perempuan, kita sering lupa bahwa perjuangan terbesar justru terjadi di ruang-ruang rumah. Seorang ibu yang mendidik generasi tanpa sorotan. Dari rahim serta doa merekalah masa depan itu dilahirkan.

Dalam khazanah Islam, ibu bukan hanya figur domestik. Ia adalah madrasah pertama dalam kehidupan manusia—ruang di mana nilai, empati, dan ketangguhan dibentuk. Ia adalah delegasi yang Allah SWT amanahkan untuk menjaga, melindungi, dan mendidik generasi dengan cinta yang nyaris tak bersyarat. Keringatnya adalah tanda pengorbanan yang tak bersyarat.

Rasulullah SAW pernah ditanya, “Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?” Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Ibumu. Lalu siapa lagi? Ibumu. Lalu siapa lagi? Ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya (HR. Bukhari). Pengulangan tiga kali itu bukan tanpa makna. Ia adalah penegasan tentang kedudukan ibu yang istimewa—bukan hanya secara emosional, tetapi juga spiritual dan sosial. Islam meletakkan ibu pada posisi yang sangat tinggi, bahkan sebelum ayah dalam urusan bakti.

Di Aceh, di mana nilai-nilai agama dan adat berjalan berdampingan, penghormatan kepada perempuan menjadi keniscayaan. Banyak ibu di negeri ini memikul beban ganda: mendidik generasi di rumah, sekaligus membantu ekonomi keluarga. Mereka bekerja dalam diam, sering tanpa pengakuan. Padahal dari tangan merekalah lahir generasi yang kelak memimpin bangsa.

Islam tidak memenjarakan perempuan dalam ruang sempit. Yang ditekankan adalah tanggung jawab dan kehormatan, bukan pembatasan potensi. Sejarah mencatat perempuan-perempuan mulia yang dapat berkontribusi di ruang publik tanpa kehilangan martabatnya. Masalahnya, sering kali yang kita warisi bukan nilai Islamnya, melainkan tafsir sosial yang membatasi.

Peran media dan meneguhkan perempuan sebagai fondasi peradaban

Sebuah riset terbaru dalam Journal of Development Economics (2026) berjudul “Leveraging Women’s Views to Influence Gendered Attitudes to Women Working: Evidence from an Online Intervention in Indonesia”, menunjukkan temuan menarik. Penelitian yang dilakukan oleh Lisa Cameron dan timnya menemukan bahwa norma sosial di Indonesia masih kuat menempatkan perempuan sebagai penanggung jawab utama pengasuhan anak. Banyak perempuan yang tidak bekerja bukan karena tidak mampu, tetapi karena beban domestik dan persepsi sosial yang membatasi.

Temuan penelitian itu menegaskan bahwa hambatan terbesar perempuan Indonesia bukan semata kemampuan, tetapi norma sosial yang membentuk persepsi publik. Intervensi berbasis informasi dalam penelitian tersebut terbukti mampu mengubah sikap terhadap perempuan bekerja. Artinya, perubahan bukan hal mustahil—ia hanya membutuhkan ruang dialog dan keberanian kolektif untuk merevisi cara pandang.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa media massa memiliki kemampuan signifikan dalam membentuk dan menggeser norma sosial. Banerjee et al. (2019) membuktikan bahwa paparan media—baik melalui televisi, kampanye publik, maupun narasi populer—dapat memengaruhi sikap masyarakat terhadap isu keluarga, pendidikan anak, hingga peran gender. Di titik inilah peran media massa menjadi strategis.

Pesanan pemberdayaan tidak cukup disebarkan melalui platform nasional atau kanal digital semata, tetapi perlu diterjemahkan dalam bahasa budaya yang kontekstual—melalui forum media massa yang dekat dengan keseharian masyarakat. Ketika media menghadirkan representasi yang proporsional dan berkeadilan, norma sosial perlahan mengalami pergeseran. Dan ketika norma bergeser, ruang kebijakan yang lebih inklusif menjadi semakin terbuka.

Perubahan sosial kerap berawal dari perubahan narasi. Pemahaman yang lebih mendalam tentang norma sosial terhadap perempuan bekerja di Indonesia membuka peluang perumusan kampanye komunikasi yang lebih tepat sasaran. Perubahan norma bukan hanya persoalan kebijakan, tetapi juga persoalan bagaimana realitas dikonstruksi dan direpresentasikan di ruang publik.

Ini sejalan dengan fakta bahwa peningkatan partisipasi kerja perempuan berkontribusi langsung pada pertumbuhan ekonomi. Laporan Bank Dunia menunjukkan bahwa kesenjangan gender dalam partisipasi ekonomi dapat menurunkan potensi Produk Domestik Bruto (PDB) secara signifikan. Memberdayakan perempuan bukan sekadar isu moral, tetapi juga strategi pembangunan.

Sejarah membuktikan, ketika perempuan dimuliakan, peradaban terangkat. UN Women dalam laporan globalnya menegaskan bahwa negara-negara dengan indeks kesetaraan gender yang lebih baik cenderung memiliki tingkat kesejahteraan sosial, kesehatan anak, dan stabilitas ekonomi yang lebih tinggi. Ini bukan kebetulan.

Ketika ibu sehat, terdidik, dan terlindungi, anak-anak tumbuh dengan nutrisi, pendidikan, dan nilai yang lebih baik. Ketika ibu dihormati dan diberdayakan, generasi tumbuh dengan karakter dan empati. Banyak penelitian membuktikan bahwa suara perempuan sebenarnya lebih progresif daripada yang dipersepsikan publik, maka Hari Perempuan Internasional 2026 hendaknya menjadi momentum muhasabah.

Menghormati perempuan tidak berarti menanggalkan kodrat, tetapi memastikan martabatnya terjaga. Momen ini seharusnya menjadi wadah untuk mengangkat suara itu—bukan menggantikannya dengan stereotip. Pada ujungnya, perempuan tidak membutuhkan sekadar pujian, tetapi keberpihakan yang nyata. Pemuliaan dalam ajaran agama harus diterjemahkan dalam perlindungan, akses pendidikan, ruang partisipasi, dan kebijakan yang adil. Menghormati ibu bukan hanya soal bakti personal, melainkan juga komitmen sosial untuk memastikan mereka hidup dalam martabat.

Dalam Islam diajarkan, kemuliaan tidak diukur dari luasnya ruang yang dikuasai, tetapi dari tanggung jawab yang ditunaikan dengan amanah. Karena itu, ketika perempuan—terutama para ibu—diberi ruang untuk tumbuh, belajar, dan berkontribusi, yang sesungguhnya sedang dibangun adalah fondasi peradaban itu sendiri.

Perubahan sosial selalu berawal dari cara pandang. Dan ketika masyarakat memilih untuk melihat perempuan bukan sebagai batas, melainkan sebagai kekuatan; bukan sebagai beban, melainkan sebagai penopang generasi—maka di situlah nilai agama, nalar kebijakan, dan kesadaran kemanusiaan bertemu.

Memberdayakan ibu berarti memberi ruang agar potensinya berkembang. Karena, dari rahim serta doa perempuan lah, masa depan itu dilahirkan. Dan, tugas bersama adalah memastikan masa depan itu tumbuh dalam keadilan, bukan dalam pembatasan.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *