"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Bisnis  

Dari Garasi ke Pasar, Idew Bakery Jual Ribu Toples Kue Lebaran

Sejarah Perjalanan Idew Bakery dari Garasi Rumah ke Toko yang Ramai

Idew Bakery, sebuah usaha kue rumahan yang kini cukup ramai di Bandar Lampung, memiliki kisah perjalanan panjang dan penuh proses. Awalnya, toko ini adalah garasi rumah yang kemudian direnovasi secara bertahap hingga menjadi tempat produksi dan penjualan kue yang menarik minat banyak pelanggan.

Di Jalan Merbau Nomor 33, Tanjung Gading, Kecamatan Kedamaian, Kota Bandar Lampung, tumpukan kue kering khas Lebaran serta lapis legit berjejer rapi di outlet Idew Bakery. Tempat ini tidak hanya menjadi salah satu tujuan utama bagi warga setempat, tetapi juga pengunjung dari daerah lain yang ingin mencicipi kue-kue lezat yang dibuat oleh Apridayani.

Dari Pekerja Bank ke Pengusaha Kue

Sebelum membangun Idew Bakery, Apridayani bekerja di salah satu bank di Bandar Lampung. Namun, pada tahun 2019, ia memutuskan untuk resign saat sedang hamil. Keputusan ini membuka jalan baginya untuk mencari peluang usaha dari rumah.

Awalnya, Apridayani tidak langsung membuka usaha bakery. Ia mencoba berbagai jenis bisnis seperti menjual kurma, buah-buahan, hingga aneka makanan ringan. Ia mengakui bahwa ia selalu tertarik dengan dunia jual beli sejak dulu.

“Saya suka jualan dari dulu. Jadi setelah resign, saya coba jual apa saja, dari kurma, buah-buahan sampai kue-kue,” ujarnya.

Belajar Membuat Makanan dan Produksi Bertahap

Keinginan untuk memiliki usaha sendiri mendorong Apridayani untuk belajar membuat makanan. Ia mengikuti beberapa kursus memasak dan mulai memproduksi makanan seperti pempek dari rumah.

Produksi dilakukan secara bertahap sambil masih bekerja hingga akhirnya fokus sepenuhnya pada usaha kue. Tempat usahanya pun memiliki cerita tersendiri. Toko Idew Bakery yang kini cukup ramai ternyata dulunya adalah garasi rumah yang direnovasi sedikit demi sedikit.

“Awalnya ini benar-benar garasi. Pertama cuma sepertiga bagian saja yang dipakai. Setelah Lebaran dapat tambahan modal, baru diperluas lagi sampai seperti sekarang,” katanya.

Nama Idew Bakery yang Berawal dari Panggilan Harian

Nama Idew Bakery sendiri muncul setelah Apridayani gagal mendaftarkan merek sebelumnya. Awalnya, usaha ini bernama Warung Bunda Amanda, namun pengajuan hak kekayaan intelektual pada 2024 ditolak karena nama tersebut sudah digunakan oleh merek lain.

Akhirnya, ia memilih nama “Idew”, yang berasal dari panggilan sehari-harinya. “Nama saya Apridayani, biasanya dipanggil Ida. Tapi teman-teman sering manggil Idew. Jadi akhirnya dicoba saja pakai nama itu, ternyata Alhamdulillah disetujui,” jelasnya.

Varian Produk yang Menarik Minat Konsumen

Memasuki bulan Ramadan, Idew Bakery memproduksi berbagai jenis kue kering dan kue khas Lebaran. Beberapa di antaranya adalah nastar, putri salju, lidah kucing, almond cookies, hingga hafermut. Selain itu juga tersedia kue lapis legit, legit gulung, dimsum, pempek, hingga jajanan pasar.

Dari berbagai produk tersebut, nastar menjadi kue yang paling banyak diminati. “Kalau orang bilang, tidak ada nastar itu rasanya belum Lebaran,” kata Apridayani.

Selama Ramadan, penjualan kue kering di Idew Bakery bisa mencapai sekitar 500 hingga 1.000 toples. Omzet penjualan kue kering saja dapat menembus lebih dari Rp. 50 juta selama Ramadhan ini.

Harga dan Paket Spesial untuk Lebaran

Harga produk di Idew Bakery pun cukup beragam. Kue kering dijual mulai dari Rp. 45.000 hingga Rp. 50.000 per toples, sementara lapis legit premium bisa mencapai Rp. 425.000. Untuk hampers Lebaran, Idew Bakery menyediakan paket mulai dari Rp. 95.000 yang berisi 3 kue kering yang diberi nama “paket rebutan” karena harganya terjangkau dan sering cepat habis karena dibeli pelanggan.

Tantangan Persaingan Harga

Meski usaha semakin berkembang, Apridayani mengakui persaingan harga menjadi salah satu tantangan terbesar dalam bisnis bakery. “Kadang ada yang bilang di tempat lain lebih murah. Tapi kalau kita ikut menurunkan harga, takutnya kualitas juga ikut turun. Jadi kita tetap jaga kualitas bahan,” ujarnya.

Menurutnya, konsumen kini semakin memahami kualitas produk. Jika rasa dan kualitasnya baik, pelanggan biasanya akan kembali membeli meski harganya tidak paling murah. “Kalau orang sudah cocok dengan rasanya, biasanya mereka akan kembali lagi,” tutupnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *