Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi: Dampak dan Perspektif
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menilai bahwa keputusan pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi adalah langkah yang tepat. Ia menekankan pentingnya menjaga kesehatan keuangan Pertamina di tengah tekanan global.
“Kalau seandainya tidak dinaikkan, ini kan juga menjadi pertanyaan, siapa yang akan menanggung,” ujar Faisal saat dihubungi di Jakarta, Ahad (19/4/2026).
Faisal menilai bahwa neraca yang sehat akan memastikan keberlanjutan penugasan energi nasional. Oleh karena itu, ia mengingatkan bahwa beban Pertamina akan kian membengkak jika tak ada penyesuaian harga BBM nonsubsidi dan memberikan konsekuensi besar terhadap arus kas Pertamina.
“BBM nonsubsidi ini semakin menambah beban Pertamina. Ini memang sudah selayaknya kemudian disesuaikan dengan harga internasional,” ucap Faisal.
Menurut Faisal, kenaikan harga BBM nonsubsidi tidak akan berdampak signifikan terhadap tingkat inflasi lantaran menyasar kalangan atas. Ia menjelaskan bahwa kontribusi harga BBM nonsubsidi terhadap total inflasi jauh lebih sedikit dibandingkan kontribusi BBM subsidi.
“Untuk kalangan atas, saya rasa dari sisi daya belinya masih relatif kuat untuk bisa menyerap kenaikan harga BBM nonsubsidi,” sambung Faisal.
Dampak Kenaikan Harga BBM bagi Industri
Sementara itu, Founder & Chairman Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi, mengatakan bahwa kenaikan harga BBM nonsubsidi memiliki dampak yang cukup signifikan terhadap industri, terutama karena BBM merupakan komponen biaya utama dalam aktivitas logistik dan distribusi.
Di Indonesia, struktur logistik masih sangat bergantung pada transportasi darat berbasis truk, sehingga perubahan harga BBM langsung memengaruhi biaya pengangkutan barang.
“Secara umum, porsi biaya transportasi dalam total biaya logistik dapat mencapai 40 persen-60 persen dan dari komponen tersebut, biaya bahan bakar bisa menyumbang sekitar 30 persen-40 persen,” ujar Setijadi.
Artinya, kenaikan harga BBM akan secara langsung meningkatkan struktur biaya industri, terutama bagi sektor manufaktur, distribusi, dan pangan. Setijadi memaparkan bahwa kenaikan biaya operasional (cost push) akan membuat industri mengalami peningkatan biaya distribusi, inbound logistics (pengadaan bahan baku), hingga outbound logistics (distribusi produk jadi). Hal ini berpotensi menekan margin, terutama bagi industri dengan margin tipis.
“Dampak kedua ialah efek berantai ke harga barang (inflationary pressure). Kenaikan biaya logistik cenderung diteruskan ke harga jual produk, sehingga berpotensi mendorong inflasi, khususnya pada komoditas sensitif seperti pangan,” ucap Setijadi.

Kenaikan BBM Nonsubsidi juga dirasakan kendaraan logistik. – (/Thoudy Badai)
Dampak Berikutnya: Tekanan pada Efisiensi Rantai Pasok
Dampak berikutnya ialah tekanan pada efisiensi rantai pasok. Setijadi menyampaikan bahwa perusahaan akan terdorong untuk melakukan efisiensi, seperti optimasi rute distribusi, peningkatan load factor, hingga konsolidasi pengiriman.
“Disrupsi pada UMKM dan industri kecil. Pelaku usaha kecil relatif lebih rentan karena keterbatasan skala ekonomi dan kemampuan menyerap kenaikan biaya,” lanjut Setijadi.
Ia menyampaikan kondisi ini sebenarnya juga menjadi momentum untuk melakukan transformasi logistik, antara lain peralihan ke moda transportasi yang lebih efisien, seperti kereta api dan laut (multimoda), digitalisasi supply chain, termasuk penggunaan transport management system (TMS), optimalisasi jaringan distribusi (network redesign), dan penerapan strategi persediaan yang lebih adaptif.
Empat Harapan dari Pelaku Industri
Setijadi menyampaikan empat harapan dari pelaku industri. Pertama, kepastian dan stabilitas kebijakan energi. Ia menyebut industri membutuhkan predictability agar dapat merencanakan biaya dan investasi secara lebih akurat.
Kedua, pelaku usaha mendorong insentif untuk efisiensi logistik seperti penggunaan moda kereta api, penguatan infrastruktur pelabuhan, serta pengembangan kawasan logistik terpadu.
“Ketiga, percepatan integrasi multimoda dengan mengurangi ketergantungan pada transportasi darat yang sangat sensitif terhadap harga BBM. Keempat, dukungan bagi sektor rentan, terutama UMKM dan sektor pangan agar tidak terlalu terdampak pada sisi harga dan daya saing,” kata Setijadi.











