"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Target Pembangunan 12.100 Km Rel Berisiko Tanpa Kajian Mendalam

Ambisi Pembangunan Jaringan Rel Kereta Api 12.100 Kilometer

Pembangunan jaringan rel kereta api sepanjang 12.100 kilometer hingga tahun 2030 oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dinilai memiliki potensi risiko besar jika tidak didukung kajian yang komprehensif. Seorang ahli perkeretaapian nasional, Prof. Ir. Sri Atmaja Putra Jatining Nugraha Nasir Rosyidi, menyoroti bahwa rencana ini bukanlah hal baru, namun tantangan yang dihadapi sangat kompleks.

Menurutnya, pembangunan jaringan rel masif telah tercantum dalam Rencana Induk Perkeretaapian (RIP) dan Sistem Transportasi Nasional (Sistranas). Namun, implementasinya sering terkendala oleh masalah pendanaan dan prioritas pembangunan yang lebih condong pada jalan tol. Ia mengingatkan bahwa membangun 12.000 kilometer rel dalam empat tahun bukanlah tugas mudah.

Prioritas Berbeda untuk Wilayah Berbeda

Di Pulau Jawa, prioritas utama adalah transportasi massal yang mampu mengakomodasi mobilitas penduduk yang tinggi. Selain pengembangan jalur ganda, peningkatan kecepatan operasional juga menjadi kebutuhan mendesak. Saat ini, kecepatan maksimum kereta kita sekitar 120 km/jam. Jika ingin naik ke 160 km/jam, maka harus dievaluasi apakah jalur eksisting masih mampu menahan beban tersebut. Jika tidak, maka harus dibangun jalur baru.

Sementara itu, Sumatera menghadapi tantangan berat terkait angkutan barang. Dominasi truk bermuatan besar di Jalan Lintas Sumatera hingga jalan tol telah mempercepat kerusakan infrastruktur jalan. Kereta dinilai memiliki potensi besar untuk mengalihkan beban logistik tersebut. Logistik Sumatera sangat masif, sehingga kereta bisa menjadi primadona untuk menggantikan beban jalan raya.

Namun, keberhasilan sektor logistik bergantung pada interkoneksi antarmoda. Ia menekankan bahwa industri hanya akan beralih menggunakan kereta jika biaya lebih murah dan pengiriman lebih cepat. Integrasi dari titik produksi ke stasiun barang menjadi kunci efisiensi.

Potensi yang Masih Perlu Dikaji

Untuk Kalimantan dan Sulawesi, Sri Atmaja menilai potensi penggunaan kereta belum terbukti kuat. Mobilitas penduduk yang rendah dan pola transportasi yang sudah terbentuk menuntut kajian mendalam sebelum pembangunan dilakukan. Pertanyaannya sederhana: Siapa yang mau naik? Itu harus dikaji dengan benar sebelum pembangunan dimulai.

Ia menambahkan bahwa studi kelayakan merupakan fondasi utama dalam rencana pembangunan rel 12.100 kilometer ini. Aspek teknis, sosial, budaya, lingkungan, hingga risiko kebencanaan harus dianalisis secara menyeluruh. Kekhawatiran utamanya adalah adanya langkah-langkah penting yang dilompati demi mengejar target. Padahal kualitas pembangunan tidak boleh dikorbankan.

Kebutuhan Tenaga Ahli dan Pendidikan

Selain itu, proyek besar ini akan membutuhkan banyak tenaga ahli. Sri Atmaja menyebut Indonesia masih kekurangan insinyur perkeretaapian, sehingga perguruan tinggi perlu mempersiapkan pendidikan dan pelatihan intensif untuk mendukung kebutuhan tersebut.

Ia menekankan pentingnya dua konsep dalam pengembangan transportasi: aksesibilitas dan konektivitas. Kereta tidak bisa berdiri sendiri dan harus terhubung dengan moda lain seperti bus, LRT, BRT, hingga transportasi daring. Contohnya, Jepang berhasil menciptakan sistem transportasi yang terintegrasi, sehingga orang tidak takut bepergian karena konektivitasnya jelas.

Kesimpulan

Jika Indonesia bisa bergerak ke arah itu, wajah ekonomi dan peradaban kita akan berubah. Dengan pendekatan yang tepat, pembangunan jaringan rel kereta api dapat menjadi salah satu pilar utama dalam pengembangan transportasi nasional yang berkelanjutan dan efisien.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *