Konser Musik Klasik “Saved by Grace” di Jakarta
Yayasan Musik Amadeus Indonesia menggelar konser musik klasik bertajuk “Saved by Grace” di Aula Simfonia Jakarta, Jakarta Pusat, pada Sabtu, 22 November 2025. Konser ini menjadi momen penting dalam menyajikan karya-karya musik klasik yang memiliki makna mendalam bagi komunitas Kristen di Indonesia.
Amadeus Symphony Orchestra menjadi penampil utama dalam konser tersebut. Selain orkestra, konser ini juga menampilkan paduan suara Lux Aeterna Vocal Ensemble dari Salatiga, Jawa Tengah; Canting Singers dari Bandung, Jawa Barat; serta hampir tiga ratus anggota paduan suara dari berbagai gereja di Jakarta dan sekitarnya. Sebanyak sekitar 900 penonton hadir dan ikut bernyanyi sepanjang acara.
Menghidupkan Kembali Lagu-Lagu yang Tenggelam
Konser ini digagas oleh musisi Grace Soedargo dan telah diselenggarakan setiap tahun sejak 2016. Tujuan dari pertunjukan musik klasik tahunan ini adalah untuk menghidupkan kembali himne Kristen yang mulai ditinggalkan oleh gereja-gereja dan digantikan dengan nyanyian Kristen kontemporer.
Dalam konser ini, beberapa lagu terkenal dibawakan, seperti “Saved by Grace” karya Fanny Crosby; “Living for Jesus” karya Thomas O. Chisholm; “Trust and Obey” karya James M. Sammis; dan “In His Time” karya Diane Ball. Semua lagu tersebut merupakan himne Kristen yang sudah lama tenggelam di gereja-gereja.
Grace Soedargo, Concert Master dan Artistic Director dari Amadeus Symphony Orchestra, menggandeng Lilian Lenggono sebagai konduktor. Aransemen musik disusun oleh Karina B. Soejodibroto dan Franty Ozora Wattilete.

Pemimpin Amadeus Symphony Orchestra, Grace Soedargo, saat ditemui di konser musik klasik bertajuk “Saved by Grace” di Aula Simfonia Jakarta, 22 November 2025. Tempo/Savero Aristia Wienanto
Persiapan Selama 9 Bulan
Penggarapan aransemen tidak dilakukan secara sembarangan. Grace mengungkapkan bahwa aransemen telah digarap selama 9 bulan sebelum konser berlangsung. “Kami juga sudah menyiapkan aransemen lagu-lagu untuk konser tahun depan. Sudah ada tiga lagu,” katanya.
Setiap tahun, Grace melanjutkan, Amadeus Symphony Orchestra menggandeng paduan suara utama yang berbeda agar gerakan nyanyian jemaat bisa menyebar ke berbagai gereja. “Kami rindu jemaat kembali menghargai dan menyanyikan himne Kristen yang sudah diwariskankan selama berabad-abad,” ujarnya.
Sekolah Musik Amadeus
Sebagai informasi, Grace Soedargo mendirikan Sekolah Musik Amadeus di bawah naungan Yayasan Musik Amadeus Indonesia pada 1992. Sejak itu, Sekolah Musik Amadeus telah mendidik ribuan murid dari berbagai usia mulai dari 2 tahun.
Saat ini, terdapat lebih dari 200 siswa yang mempelajarkan piano, alat petik, alat gesek, alat tiup, serta perkusi. Melalui 25 guru, Sekolah Musik Amadeus mengembangkan musik klasik di Indonesia melalui pendidikan di ruang kelas hingga panggung konser.
Kolaborasi dengan Paduan Suara Lain
Dalam konser “Saved by Grace”, Amadeus Symphony Orchestra menggandeng Lux Aeterna Vocal Ensemble dan Canting Singers. Lux Aeterna Vocal Ensemble (LAVE) merupakan paduan suara independen yang dibentuk pada 2015 di Salatiga, Jawa Tengah.
Paduan suara ini dipimpin oleh Agastya Rama Listya dan terdiri dari sekitar 25 orang penyanyi dari berbagai latar belakang gereja yang berbeda. Anggota LAVE sebagian besar adalah alumni Paduan Suara Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga atau yang lebih dikenal dengan nama Voice of Satya Wacana Christian University (Voice of SWCU) serta beberapa penyanyi yang berdomisili di sekitar kota Salatiga yang aktif dalam berpaduan suara.
Adapun Canting Singers dibentuk pada akhir 2014. Grup paduan suara ini berbasis di Bandung, Jawa Barat. Nama Canting sendiri didasarkan pada filosofi alat untuk membatik.











