Warga Terdampak Banjir Bandang dan Tanah Longsor di Berbagai Wilayah
Deri Arndi (39), warga Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, merasa khawatir beberapa hari terakhir setelah mendengar kabar tentang banjir bandang dan tanah longsor yang menimpa keluarganya di Tapanuli, Sumatera Utara. Sebagai seorang pedagang jus, ia sering menelepon keluarganya untuk memastikan keadaan mereka.
“Semua selamat. Aku khawatir juga,” ucap Deri saat ditemui pada Sabtu (29/11). Ia juga mengungkapkan kekhawatiran terhadap kampung halamannya yang dilanda hujan deras dalam beberapa hari terakhir.
Banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, menyebabkan kerusakan parah. Puluhan rumah hancur dan hilang, serta empat desa lenyap tertutup lumpur. Pantauan Serambinews.com menunjukkan bahwa mulai dari Desa Tingkeum Mayang hingga Pante Ara, wilayah tersebut berubah menjadi hamparan luas yang diselimuti lumpur.
Imam Masjid Desa Cot Ara KutaBlang, Yusni Yusuf (50), dan Sekdes Cot Ara, Irwandi, menjelaskan bahwa sejumlah kampung di utara Kutablang rusak parah akibat banjir. Jalan utama Kampung Keurumbok sampai Ule Ceu Jangka tertutup tanah dan sampah kayu yang hanyut.
Yusni menceritakan peristiwa pada Rabu (26/11) sekitar pukul 04.00 WIB ketika mendengar dentuman keras dari jembatan baja Rancong yang patah. Dalam waktu 30 menit, tanggul sungai di Kampung Ujong Blang jebol, dan air meluap setinggi satu meter ke permukiman. Saat itu, warga berlindung di mana saja, termasuk naik ke atap rumah.
“Saya bersama lima anggota keluarga menyelamatkan diri ke rumah kerabat yang lebih tinggi. Rabu siang kami mencari bantuan, berenang bahkan tersangkut di pohon kayu. Lalu kami dievakuasi warga ke tempat aman,” cerita Yusni.
Permukiman terbelah oleh aliran banjir hingga seperti pulau-pulau, membuat warga tidak bisa keluar. Setelah kondisi arus surut pada Kamis (27/11), warga baru berani menyeberang mengungsi.
“Selama 60 tahun hidup, belum pernah air naik seperti ini. Pada tahun 2000, akibat jebolnya tanggul sungai, air hanya naik selutut. Kali ini sampai setinggi atap rumah,” ungkap Yusni.
Kengerian akibat banjir bandang dan tanah longsor juga terjadi di Provinsi Sumatera Barat. Dafri tampak termenung di Puskesmas Koto Alam, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam. Ia sudah tiga hari mencari sang istri dan belum berhasil menemukannya.
Dari pantauan, Nagari Salareh Aia Timur porak-poranda. Rumah warga hancur, material banyak menumpuk, dan mobil-mobil juga berserakan dan hancur akibat banjir bandang. Cuaca di Nagari Salareh Aia mulai cerah, Sabtu, sehingga beberapa lumpur sudah mulai mengering. Beberapa ekskavator kecil membersihkan material banjir bandang secara perlahan.
Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Agam mencatat 74 korban jiwa. Kadis Kominfo, Roza Syafdefianti, mengatakan korban ditemukan tersebar di sejumlah kecamatan.
Kesulitan makan karena terisolasi akibat banjir bandang dan tanah longsor membuat warga di Kabupaten Tapanuli Tengah Provinsi Sumatera Utara mulai menjarah minimarket. Dalam video yang beredar, penjarahan terjadi di Desa Pandan, Kecamatan Pandan, Sabtu. Terlihat, sekitar puluhan warga masuk ke dalam minimarket, mengambil bahan makanan.
Warga Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga terisolasi akibat longsor dan banjir sejak Selasa (24/11). Akses menuju kedua wilayah itu tak bisa dilalui kendaraan karena banyak jalanan tertimbun longsor. Sedangkan bantuan dari pemerintah melalui pesawat, baru bisa dikirimkan pada Jumat lantaran sebelumnya cuaca buruk.











