"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Budaya  

Kisah Jeruk Boalemo ke Gorontalo: Dari Jalan Rusak ke Tantangan Tengkulak

Jeruk Peras Dingin yang Menyimpan Perjuangan

Di Kota Gorontalo, segelas jeruk peras dingin yang disajikan oleh para pedagang memiliki kisah yang tidak mudah. Di balik sajian ini, terdapat perjuangan para petani jeruk di pedalaman yang kesulitan memasarkan hasil panen mereka karena infrastruktur yang rusak. Produk pertanian dari daerah tersebut sering kali diberi harga murah oleh tengkulak. Namun, kini para petani mulai merasakan perubahan setelah produk mereka dibeli langsung oleh pelaku usaha di Gorontalo.

Jeruk dari Pedalaman Boalemo

Jeruk segar yang menjadi bahan utama minuman dingin ini berasal dari wilayah pedalaman Kabupaten Boalemo, khususnya di area Suaka Margasatwa Nantu. Buah-buahan ini berasal dari kebun transmigran yang berada di Satuan Permukiman (SP) 3 Desa Saritani, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo. Lokasi ini berada di hulu sungai Paguyaman, di mana akses jalan sangat sulit. Bahkan, saat musim hujan, jalan-jalan tersebut menjadi kubangan dan beberapa titik tidak bisa dilalui jika debit air menggenangi jalannya.

Isolasi akibat minimnya infrastruktur jalan ini telah berlangsung bertahun-tahun, sehingga harga produk pertanian di sini sangat rendah. Itupun jika ada yang membeli.

Kesulitan Petani yang Tercermin dalam Harga

Vial Bullyanto, seorang transmigran asal Yogyakarta, menceritakan pengalamannya dalam menjual jeruk. Beberapa bulan lalu, ia harus membuang 500 kilogram jeruk karena tidak ada pembeli. “Jika tidak dipetik, jeruk bisa merobohkan pohonnya karena terlalu berat,” ujarnya. Ia mengatakan bahwa tengkulak biasanya membeli jeruk dengan harga Rp 3.000 per kilogram, itu pun jika ada yang datang.

Kesulitan Mereka Terdengar di Kota

Di tempat yang jauh dari kehidupan transmigran Saritani, banyak kaum muda di Kota Gorontalo yang tertarik berwirausaha. Salah satunya adalah Bianca Umar, yang menjual kopi dan juga jeruk peras. Minuman jeruk perasnya diminati konsumen, dengan harga segelas sebesar Rp5.000.

Bianca merupakan salah satu pedagang yang memiliki cerita dengan jeruk dari pedalaman Boalemo. Awalnya, ia mendengar kabar tentang kesulitan petani dalam menjual produknya. Informasi ini didapat dari Ikraeni Safitri, seorang pendamping perhutanan sosial dari Agraria Institute.

Langkah Awal untuk Mengubah Nasib

Setelah mengetahui informasi tersebut, Bianca ingin membeli jeruk dari para petani. Dari sinilah jeruk segar di pedalaman Saritani, Kabupaten Boalemo, mulai berubah nasibnya. “Awalnya tidak mulus, semuanya butuh proses, harga disepakati Rp5.000 per kg,” kata Ikraeni.

Harga jeruk ini tidak termasuk ongkos kirim sebesar Rp50.000 per karung. Ongkos tersebut ditanggung oleh Bianca. Permintaan awal jeruk sebanyak 30 kilogram disampaikan kepada Vial Bullyanto. Buah itu dipetik dari kebun yang berada di atas bukit, lalu dibawa turun ke rumah. Jeruk kemudian dikemas dalam karung plastik lalu diantar ke rumah sopir mikrolet yang mau melayani trayek jurusan Saritani ke Kota Gorontalo.

Kepercayaan Baru di Hadapan Tengkulak

Komunikasi antara petani SP3 dengan pelaku ekonomi kreatif di Kota Gorontalo yang dirintis oleh kaum muda ini telah membuka harapan dan kepercayaan baru, bahwa produk dari desa mampu menembus kota. Peningkatan harga jeruk di wilayah transmigran SP3 ini juga membuat Vial Bullyanto lebih percaya diri menghadapi para tengkulak yang datang.

“Saya katakan ke tengkulak kalau tidak mau dengan harga baru, ada pedagang di kota yang siap membelinya kapan saja,” ujar Vial sambil tertawa. Ia merasa senang dengan kehadiran Ikraeni Safitri, seorang pendamping desa yang ia kenal dari program Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia.

Ia berharap produk lain di desanya juga dihargai dengan nilai yang sepadan agar transmigran dapat menikmati hasil jerih payahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *