"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

OJK Beberkan Tantangan Literasi Keuangan, Korban Scam Capai Rp7,3 Triliun



JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menekankan pentingnya literasi keuangan agar masyarakat bisa mengelola keuangan secara bijak, tangguh, dan berkelanjutan. Dengan meningkatkan pemahaman tentang keuangan, masyarakat juga dapat melindungi diri dari praktik kecurangan atau scam.

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK Friderica Widyasari Dewi menyampaikan bahwa literasi keuangan menjadi kunci untuk membangun kesadaran masyarakat dalam mengelola keuangan dengan lebih baik. Ia menegaskan bahwa generasi muda perlu memiliki rencana keuangan yang matang agar tidak lagi bergantung pada percobaan dan kesalahan (trial and error), tetapi justru memiliki kendali dan arah yang jelas menuju masa depan yang sejahtera.

Friderica menyampaikan pernyataannya tersebut saat menjadi pembicara kunci di acara Financial Healing yang diselenggarakan oleh Katadata. Ia menjelaskan bahwa tantangan dalam meningkatkan literasi keuangan masyarakat masih sangat besar. Saat ini, banyak masyarakat yang menjadi korban scam, yaitu penipuan yang bertujuan memperoleh keuntungan secara tidak jujur, seperti uang, data pribadi, atau barang.

Berdasarkan data Indonesia Anti-Scam Center per November 2025, kerugian masyarakat yang dilaporkan mencapai Rp7,3 triliun, termasuk lebih dari 323.000 laporan. Friderica menunjukkan bahwa jumlah laporan ini jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain. Di beberapa negara, rata-rata per hari hanya menerima 150-200 laporan, sedangkan di Indonesia, jumlahnya mencapai 800-1.000 laporan per hari.

Ia mengungkapkan bahwa modus scam yang terjadi sangat beragam dan menimbulkan kekhawatiran. Salah satu modus adalah penipuan transaksi belanja, yang telah melaporkan lebih dari 58.000 kasus dengan kerugian lebih dari Rp1 triliun. Modus lainnya adalah fake call, di mana pelaku berpura-pura sebagai teman atau keluarga yang mengalami kecelakaan dan meminta transfer uang tanpa memberi waktu bagi korban untuk berpikir rasional.

Selain itu, ada juga penipuan investasi yang semakin marak. Friderica mengingatkan bahwa banyak anak muda yang tertarik untuk berinvestasi, namun sebagian besar justru terjebak dalam investasi bodong. Hal ini sangat membahayakan karena tidak semua investasi yang ditawarkan benar-benar aman dan legal.

Dengan tantangan-tantangan ini, OJK menyadari bahwa literasi keuangan masih menjadi pekerjaan rumah yang besar. Meski OJK memiliki tugas untuk melindungi masyarakat dari ancaman seperti scam, masyarakat juga harus lebih waspada dan mampu membentengi diri sendiri agar tidak terjebak dalam penipuan.

Untuk itu, OJK terus berupaya menghadirkan inovasi dan strategi edukasi keuangan yang efektif dan berkelanjutan bersama seluruh stakeholder. Salah satu program yang digulirkan adalah Gerakan Nasional Cerdas Keuangan.

Menurut Friderica, gerakan ini melibatkan seluruh pelaku jasa keuangan di Indonesia. Berdasarkan data hingga Oktober tahun ini, program Gerakan Nasional Cerdas Keuangan telah menyelenggarakan 42.121 program edukasi dan literasi yang menjangkau lebih dari 200 juta peserta atau viewers di seluruh Indonesia.

Ia menegaskan bahwa suksesnya program ini membutuhkan orkestrasi dan sinergi yang terus-menerus antara seluruh pemangku kepentingan. Dengan kolaborasi yang kuat, diharapkan literasi keuangan dapat meningkat secara signifikan, sehingga masyarakat mampu mengelola keuangan secara mandiri dan aman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *