Sejarah dan Perkembangan Kelurahan Pajang
Kelurahan Pajang merupakan salah satu wilayah yang berada di Kecamatan Laweyan, Kota Solo, Jawa Tengah. Wilayah ini memiliki sejarah panjang yang terbentang sejak masa Kesultanan Majapahit hingga kini menjadi bagian dari perkotaan modern. Dengan kode pos 57146, kelurahan ini memiliki jumlah penduduk sekitar 25.065 jiwa berdasarkan data tahun 2020.
Lokasi Kelurahan Pajang berjarak sekitar 5,8 kilometer dari Balai Kota Solo dan dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 15 menit menggunakan kendaraan bermotor. Selain itu, Pajang juga memiliki nilai sejarah yang tinggi, termasuk situs purbakala serta pusat perbelanjaan seperti Solo Square yang menjadi destinasi utama bagi masyarakat Solo.
Sejarah Singkat Wilayah Pajang
Wilayah Pajang telah dikenal sejak masa kerajaan Majapahit. Pada masa itu, terdapat jabatan administratif bernama Bhre Pajang. Setelah itu, Pajang menjadi pusat Kesultanan Pajang yang sering dianggap sebagai penerus Kesultanan Demak. Setelah wafatnya Sultan Trenggana, terjadi perebutan kekuasaan di wilayah Demak. Adiwijaya, Adipati Pajang, berhasil menenangkan situasi dan diangkat menjadi Sultan Pajang pertama.
Di perbatasan Pajang dengan Desa Makamhaji terdapat situs purbakala yang diyakini sebagai sisa-sisa keraton Kesultanan Pajang. Situs ini menjadi bukti bahwa Pajang memiliki sejarah yang sangat kaya.
Selain itu, Pajang juga menjadi pusat perbelanjaan modern dengan hadirnya Solo Square, yang menjadi salah satu tempat belanja utama di Solo.
Pembagian Wilayah Kelurahan Pajang
Kelurahan Pajang terdiri dari beberapa kampung yang memiliki karakteristik unik. Beberapa antaranya adalah:
- Bendosari
- Bothokan
- Blag-Bligan
- Bratan
- Griyan
- Jongke
- Kadipaten
- Kagokan
- Karangturi
-
Kidul Pasar
-
Ledokasri
- Lor Pasar
- Ngendroprasto
- Norowangsan
- Nyaen
- Pajangan
- Sidodadi
- Setono
- Sodipan
-
Sogaten
-
Suronalan
- Tegal Kembang
- Tegal Keputren
- Totosari
- Tunggulsari
Pembagian ini mencerminkan kearifan lokal dan budaya masyarakat Solo yang masih terjaga hingga saat ini.
Wacana Pemekaran Wilayah
Warga Kelurahan Pajang sedang mempersiapkan rencana pemekaran wilayah menjadi dua kelurahan, salah satunya bernama Ngendroprasto. Rencana ini mencakup RW 009 hingga RW 016 di bagian utara rel kereta api. Nama Ngendroprasto diambil dari nama Kampung Ngendroprasto.
Kantor kelurahan baru akan dibangun di bekas makam Ngendroprasto, yang akan direlokasi ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) milik Pemkot Solo. Luas lahan sekitar 1.900 meter persegi dipersiapkan untuk kantor kelurahan dan fasilitas pendukung lainnya.
Warga di utara rel kereta api yang ingin mengakses pelayanan harus melalui underpass yang dapat dilalui pejalan kaki, sepeda, dan sepeda motor. Mobil harus memutar melalui Kelurahan Sondakan untuk mencapai kantor kelurahan.
Rencana pemekaran ini sejalan dengan rencana Pemkot Solo yang akan memekarkan tiga kelurahan lain, termasuk Jebres dan Mojosongo, dengan nama baru untuk sebagian wilayah seperti Kelurahan Kentingan, Kendalrejo, dan Mertoudan.
Ikon Wisata Religi di Pajang
Salah satu ikon religi terkenal di Pajang adalah Masjid Laweyan, yang berdiri pada tahun 1546 di masa Sultan Hadiwijaya, salah satu sultan Kesultanan Pajang. Masjid ini diyakini sebagai masjid tertua di Surakarta dan memiliki sejarah unik:
Sebelumnya bangunan ini adalah tempat persembahyangan Hindu Jawa yang dikelola Ki Ageng Beluk. Tempat tersebut diserahkan kepada Ki Ageng Henis yang mengubahnya menjadi masjid. Arsitektur masjid khas Jawa, dengan atap bertajuk bersusun dan dinding dari batu bata, serta tata ruang terbagi menjadi ruang induk, serambi kanan untuk perempuan, dan serambi kiri untuk jamaah tambahan.
Masjid memiliki tiga lorong di bagian depan yang melambangkan Islam, Iman, dan Ihsan. Di kompleks masjid terdapat mata air sumur yang konon muncul dari injakan kaki Sunan Kalijaga dan tidak pernah kering meskipun kemarau panjang.
Masjid Laweyan tidak hanya menjadi tempat ibadah tetapi juga daya tarik wisata religi yang menghubungkan sejarah Islam di Solo dengan budaya lokal.

Ikon Kuliner Khas Pajang: Solo Floss Roll
Pajang juga terkenal dengan kuliner khasnya, salah satunya adalah Solo Floss Roll, kue bolu gulung berisi abon daging. Produk ini menjadi oleh-oleh favorit pemudik dan keluarga Jokowi.
Ide pembuatan floss roll bermula dari kebutuhan membuat oleh-oleh tahan lama untuk keluarga yang rumahnya jauh. Pada 2017, usaha ini mulai membuka outlet di Jalan Parikesit Utara, Kelurahan Pajang, dan di Transmart Mall Kartasura dengan nama Solo Floss Roll.
Varian rasa dan harga:
* Abon sapi original: Rp 67 ribu per pak
Abon sapi pedas: Rp 68 ribu per pak
Abon ayam: Rp 58 ribu per pak
Bahan baku utama berasal dari daging sapi peternak lokal di Wonogiri dan Boyolali. Selain floss roll, toko ini juga menyediakan bakpia durian, nastar, roti cokelat, cromboloni, dan abon siap saji.
Solo Floss Roll menjadi salah satu ikon kuliner yang menguatkan identitas kuliner Pajang sekaligus menjadi daya tarik wisata kuliner Kota Solo.











