"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Budaya  

Dari Sukun ke Hanjeli: Cerita Pangan Lokal yang Terlupakan

Pengalaman Pribadi dengan Sukun dan Hanjeli

Pekan lalu, saya berkunjung ke rumah ibu di kampung. Kami memutuskan untuk menginap semalam karena hujan deras yang turun. Karena hujan yang begitu deras, kami tidak perlu khawatir akan genangan air di depan rumah akibat air yang mengguyur tanpa ampun.

Pada hari Senin pagi, sebelum pamit pulang, saya sempat mampir ke toko Bulik yang berada tepat di sebelah rumah ibu. Tujuan saya adalah ingin membeli garam krosok untuk merendam tangan bocil yang terkena scabies. Saat itu, saya melihat beberapa butir sukun dalam plastik kresek. Saya mengeceknya dan akhirnya membawa pulang dua butir yang terlihat tua sempurna.

Sihir Sukun Pembawa Untung

Sesampainya di rumah, saya langsung menyantap sukun yang saya beli. Yang satu masih legit dan wangi; satu lagi agak muda tapi tetap nikmat dikudap. Tiba-tiba saya teringat pada sumpil buatan Bu Kunti. Ya, betul sumpil namanya—sebagaimana penuturan ibu dua putri yang selalu menjajakan pangan lokal di perumahan Made Lamongan. Mulai dari srawut, tiwul, getuk, ketan, dan kadang sumpil.

Sumpil memang jarang ada, bahkan terbilang langka. Mungkin mengikuti musimnya yang biasa dipanen di kali dalam setahun. Terus terang saya langsung jatuh hati pada sumpil yang kali pertama saya temukan di lapak Bu Kunti. Sumpil diramu dari sukun matang yang dikukus bersama kelapa agak muda dan beras ketan. Ini berdasarkan dugaan saya karena melihat ada tekstur agak lengket pada sekeliling sukun yang dipotong kecil-kecil.

Aromanya harum, legit, dan sangat nikmat. Saking ketagihan dengan kudapan lokal ini, saya dan istri suatu hari memutuskan untuk memasak sendiri dengan bahan yang kami taksir berdasar racikan Bu Kunti.

Nilai Ekonomi Sukun yang Tinggi

Jika Bu Kunti tinggal di Singapura, mungkin bakal lain ceritanya—setidaknya dia akan memetik akselerasi ekonomi berkat sukun. Dalam bukunya berjudul Sepiring Sukun di Pinggir Kali, Letjen Doni Monardo mengatakan, “Di Singapura saya dapat info, per kilogram dijual 15 dolar Singapura,” sebagai bukti bahwa sukun bernilai tinggi secara ekonomi, setidaknya dibanding di negeri sendiri.

Doni yang saat itu menjabat Kepala BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) bahkan pernah menjamu anggota Komisi VIII DPR RI dengan sukun goreng. Sukun itu digoreng dadakan, didatangkan langsung dari Ambon untuk disantap di Jakarta.

Manfaat Sukun untuk Kesehatan

Sukun adalah pangan lokal yang patut diandalkan sebab punya segudang manfaat. Tingginya kandungan serat dalam sukun membuat buah ini bagus untuk menjaga kesehatan pencernaan. Buang air besar pun lancar dan masalah pencernaan seperti maag, mulas, dan gastritis bisa diantisipasi.

Selain itu, sukun membantu menurunkan kolesterol dalam darah, jadi kita tidak hanya kenyang tetapi juga sehat. Kita bisa mengolah sukun dengan berbagai kreasi agar anak-anak pun menyukainya. Ada lagi kandungan karotenoid yang mampu melindungi sel-sel mata serta mencegah degenerasi makula.

Melestarikan Sumber Air

Dalam buku yang sama, Doni juga menuturkan bahwa pohon sukun dapat dimanfaatkan untuk membantu melestarikan sumber air. Doni merujuk pengalamannya selama bertugas di Timor Timur di mana desa-desa yang memelihara pohon sukun terbukti tidak pernah mengalami kekurangan air.

Selain mampu menyimpan cadangan air untuk kebutuhan pada masa kemarau, sukun juga efektif digunakan sebagai tanaman lapis kedua setelah mangrove untuk mencegah abrasi.

Hanjeli, Pengganti Beras yang Naik Kelas

Pangan lokal lain yang potensial dikembangkan sebagai komoditas pengganti beras adalah hanjeli. Siapa sangka, Sumedang tak cuma menawarkan tahu lembut yang gurih disantap sebagai gorengan. Mungkin tak banyak yang mengetahui bahwa kota asal ubi madu Cilembu ini menyimpan potensi khazanah lokal yang bernilai tinggi, yaitu hanjeli (Coix lacryma-jobi).

Kandungan karbohidrat pada Hanjeli adalah sebesar 76,4%, dibanding beras sebanyak 87,7%. Data ini menyiratkan bahwa hanjeli atau jali-jali dapat kita manfaatkan sebagai pengganti beras yang selama ini jadi andalan bahkan ketergantungan.

Hanjeli atau enjelai punya jutaan khasiat, misalnya mengontrol kadar gula, menetralkan radikal bebas, mempercepat proses penyembuhan luka, dan menurunkan berat badan. Pilihan mengonsumsi jelai atau hanjeli berarti wujud partisipasi aktif kita dalam menjaga keragaman bahan pangan lokal Nusantara yang kaya.

Potensi Pangan Lokal Indonesia yang Besar

Indonesia memang kaya dengan sumber karbohidrat yang mungkin sulit ditandingi oleh negara lain. Selain sukun dan hanjeli, masih ada sagu, ganyong, gembili, sukun, porang, dan entah apa lagi. Kekayaan pangan lokal ini sayangnya tidak terdokumentasi dengan baik dan terancam hilang jika masyarakat enggan mengonsumsinya padahal bernutrisi.

Lihatlah MBG, program bagus ini bukankah akan sangat tepat untuk memperkenalkan khazanah pangan lokal kepada generasi muda? Dengan harga murah dengan gizi tetap melimpah. Inilah paradoks pangan lokal kita: kerap dipuji-puji ibarat ilusi, tetapi minim apresiasi dalam bentuk nyata ikhtiar untuk membuatnya lestari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *