Perasaan “nyangkut” yang saya alami terhadap Purwakarta dimulai semenjak tahun 2021 lalu. Saat dunia masih dilanda Covid-19, teman sekantor justru mengajak berkunjung dan berkebun bawang merah ke kabupaten tersebut. Nekat.
Semenjak itu, sekali dalam setahun, saya pasti ke Purwakarta. Kadang memang disengaja, kadang tidak. Seperti halnya akhir tahun lalu, dimana saya memutuskan menyusuri jejak sejarah dari nama lain Sindangkasih ini melalui sebuah walking tour.
Langkah kaki saya dimulai dari Jalan Mr. Dr. Kusumahatmaja, saksi bisu pembangunan kolonial, hingga ke rumah dinas gubernur Jawa Barat. Penjelajahan berlanjut ke kawasan Priangan yang menyimpan kisah bioskop pertamanya, hingga menilik kediaman Tje Itje, kembang desa paling cantik di zamannya. Saya juga diperkenalkan dengan kawasan Pasar Jumat tempat berdirinya gereja pertama di Purwakarta.
Awal tahun ini, tepatnya 9 Januari 2026, sebuah pengumuman mencuri perhatian saya. Sebuah kegiatan bertajuk Temu diumumkan. Temanya tentang “Trip Warga Kota : Menyatu dengan Alam Purwakarta” yang dijadwalkan pada Sabtu, 17 Januari 2026. Tanpa ragu, saya klik “tombol” daftar. Setidaknya ada dua hal yang membuat saya antusias.
Pertama, tentu saja karena “vibes nyangkut” yang saya rasakan. Seperti ada keinginan untuk menjejak kembali ke Purwakarta. Jika sebelumnya telah mencicipi sisi agraris dan historisnya, saatnya mengeksplorasi potensi wisatanya.
Kedua, kegiatan ini terasa istimewa karena didukung oleh Dinas Pariwisata Purwakarta. Uniknya, kepala dinasnya seorang Kompasianer juga, dengan nama akun Mang Odot. Hal ini tentunya menjanjikan perspektif yang berbeda pada kesempatan kali ini.
Bersama 14 Kompasianer lainnya, kami diajak menyingkap hidden gem milik Purwakarta. Nama-nama seperti “Ngaprak River”, “Kampung Wisata Parakanceuri”, dan “Kopi Poesakamulya” adalah sesuatu yang baru bagi saya. Sebuah babak baru pun dimulai.
Vibes Nyangkut Ngaprak River
Sesuai dengan instruksi di grup WA, peserta yang berkumpul di depan stasiun Purwakarta diangkut dengan mobil Hiace. Kami diantar menuju alun-alun untuk berkenalan dengan Bapak Dodi Samsul Bahri selaku kepala dinas. Setelah sesi foto bersama, kami bergegas menuju Ngaprak River.
Sebuah lanskap indah terbentang di sana. Barisan bukit hijau mengitari kawasan. Petak-petak sawah diisi dengan tanaman padi yang tumbuh subur. Bambu, beringin, dan pepohonan lainnya bergemerisik menyambut kehadiran kami. Di bawah sana, aliran sungai memanjang memanjakan mata.
Di Ngaprak River, kami mengikuti kegiatan outdoor yang cukup menantang. Namanya River Tubing, rekreasi menyusuri aliran sungai menggunakan ban dalam. Berbeda dengan rafting, river tubing memiliki tingkat kesulitan yang rendah. Diperlukan arus sungai tidak terlalu deras untuk kegiatan ini. Namun demikian, bukan berarti kegiatan ini tanpa risiko cedera.
Oleh karenanya, ada briefing terlebih dahulu. Kami wajib mengenakan helm pelindung kepala dan jaket pelampung. Karena terdapat banyak bebatuan kali, seluruh aksesori di badan harus dilepas, termasuk ponsel.
Dengan berani Koh Gio mengambil kesempatan pertama. Namun, belum genap 50 meter, ban dalam yang dikendarainya terbalik. Ia pun jatuh ke dalam sungai yang dangkal.
Beberapa peserta mengaku tidak mengalami insiden serupa di sepanjang rute river tubing. Salah satunya Mak Tati Suherman. Ia memberi saran, agar jangan memaksa ban yang kita kendarai mengalir sesuai keinginan kita. “Mengalir aja. Mau curam, mau agak deras, ngalir aja. Kayak hidup gw,” kelakarnya.
Tantangan di Ngaprak River adalah bebatuan kali yang kadang menghambat laju ban. Vibes nyangkut-nya terasa secara literally. Beberapa kesempatan saya harus menggunakan tangan, kaki, dan gerakan pinggul, agar terlepas dari halangan tersebut.
Di garis finis, ban saya sampai lebih dulu dari peserta lainnya. Sebelum naik ke permukaan, kami bermain air layaknya bocah. Rintik hujan terus membasahi pakaian kami di sepanjang mengikuti river tubing. Basah kuyup? Sudah pasti. Akan tetapi, keseruannya membekas di hati.
Desa Pusakamulya
Karena penyelenggara acara menginformasikan akan ada wisata air lagi, beberapa dari peserta memutuskan berangkat dalam kondisi masih basah. Saya termasuk yang secara sukarela diangkut menggunakan mobil bak terbuka menuju Desa Pusakamulya.
Perjalanan dari Ngaprak River hingga ke destinasi selanjutnya membutuhkan waktu sekitar 15-20 menit. Mobil kami melewati Danau Wanayasa yang terkenal indah itu, lalu berbelok ke kanan menuju jalan yang lebih sempit.
Sepanjang perjalanan, hujan berintensitas rendah turun tanpa henti. Begitu sampai di depan gapura bertuliskan “Kampung Parakanceuri”, langit seakan tumpah. Kami berteduh sejenak di beranda rumah milik warga yang baik dan ramah. Begitu mereda sedikit, kami dibantu warga lokal bergegas naik menggunakan motor untuk sampai ke lokasi wisata berikutnya.
Sebuah pemandangan menakjubkan terhampar di hadapan. Gunung serasa bernafas dengan kabut yang yang keluar dari balik pepohonan. Di bawahnya, berjajar sawah terasering berwarna hijau dan cokelat.
Kami berkumpul di teras rumah kayu dan bambu, menikmati nasi liwet bersama sambil mengagumi halamannya yang luas dengan kolam memanjang. Kekaguman itu tidak sirna meski jari-jemari saya bergetar karena kedinginan. Saya baru sadar, bukan perut saya yang lapar, tapi mata ini.
Kami dipertemukan dengan Kang Agus oleh Komunitas Warga Kota selaku penyelenggara. Tujuannya agar mengenal lebih jauh terkait Kampung Parakanceuri ini sebagai kampung wisata andalan Desa Pusakamulya. Secara singkat, “Parakanceuri” terdiri dari dua suku kata : Parakan (asal kata : marak), dan Ceuri. “Marak” adalah sebuah teknik menangkap ikan menggunakan tangan. Sedangkan “Ceuri” adalah nama pohon lokal.
Kampung ini punya sejarah panjang, yang dimulai pada abad ke-19. Ditaksirkan bahwa kampung ini sudah ada sebelum tahun 1824, ketika 5 rumah para tokoh berdiri.
Parakanceuri juga dikenal dengan budaya religi warganya. Akan tetapi, menurut Kang Agus, masuknya pinjaman online dan rentenir merusak ekonomi yang berdampak langsung pada sosial-budaya mereka.
Untuk mengembalikan keharmonisan antarwarganya, upaya perbaikan dilakukan. Yang menjadi fokus utama adalah memperkuat perekonomian Parakanceuri melalui peran komunitas. Singkat kata, upaya ini berhasil menarik perhatian pemerintah hingga mendapatkan status sebagai “kampung wisata”.
Menurut Kang Agus, banyak grup wisatawan berkunjung ke Kampung ini. Bahkan, kelompok wisatawan mancanegara turut penasaran mampir untuk belajar sekaligus beraktivitas tradisional ke sini.
Selain kampung wisata, Desa Pusakamulya juga terkenal dengan budidaya kopinya. Kembali kami diangkut ke sebuah villa bernama Poesakamulya. Di sana, saya mandi sejenak dan salin baju.
Agenda sebenarnya adalah belajar kepada pengelola villa Poesakamulya terkait budidaya kopi dan pengolahannya. Sangat disayangkan waktu sudah menunjukkan hampir jam 4 sore. Kereta Walahar yang kami pesan akan stand by di pukul 17.30 Wib.
Meski tidak sempat belajar singkat, setidaknya saya menyicipi kopi hitam ala Poesakamulya. Nikmat! Sebelum berangkat menuju stasiun, saya sempatkan berbincang dengan pengurus Kopi Poesakamulya terkait budidaya kopi di sini. Ternyata, mereka panen setiap setahun sekali. Memang tidak langsung panen satu kebun sekaligus. Tetapi panennya per biji per pohon. Bikin penasaran, kan?!!
Perjalanan selama seharian ini menciptakan vibes nyangkut baru wisata ke Purwakarta. Sungguh istimewa, seperti slogannya. Kabupaten ini selalu punya cara bikin penasaran orang kembali lagi.











