Inisiatif Baru Ngopi Kerukunan untuk Membangun Harmoni di Sulawesi Tengah
Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah kini memperluas cakupan pembahasan dalam kegiatan Ngopi Kerukunan dengan menggandeng lembaga kemanusiaan Wahana Visi Indonesia (WVI). Kolaborasi ini bertujuan untuk menciptakan diskusi yang lebih inklusif dan berdampak nyata bagi masyarakat.
Kegiatan Ngopi Roadshow yang baru ini akan membahas isu-isu penting seperti lingkungan, perlindungan anak, iklim, pemberdayaan ekonomi, serta masalah sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Kehadiran TNI, pemerintah daerah, dan lembaga lain diharapkan dapat memperkuat sinergi dalam program ini.
Konsep Ngopi Kerukunan yang Lebih Inklusif
Ngopi Kerukunan versi baru ini lahir dari pertemuan antara Ketua FKUB Sulteng Prof Zainal Abidin bersama tim manajemen WVI yang dipimpin oleh Agustinus Polabi dan Kristian Edi Suseno. Mereka sepakat untuk menjadikan diskusi warung kopi sebagai gerakan nyata yang lebih inklusif dan berdampak luas.
Prof Zainal menyambut baik inisiatif WVI yang ingin memasukkan topik-topik baru ke dalam kegiatan Ngopi Kerukunan. Ia menilai bahwa topik-topik tersebut bisa diperluas lagi jika ada keterlibatan Pemerintah Daerah, TNI, Polri, dan lembaga lain yang memiliki visi serupa.
“Kami setuju dengan kolaborasi ini. Saya yakin kegiatan ini positif dan berdampak baik bagi masyarakat. Ini juga bagian dari ajaran agama. Semua agama mengajarkan supaya semua orang sehat dan ekonominya bagus. Dengan itu, kerukunan umat dapat lebih mudah diwujudkan,” ujarnya.
Efisiensi Anggaran dan Dampak yang Besar
Program Ngopi Kerukunan ini juga menjadi jawaban atas efisiensi anggaran yang sedang dilakukan. Dengan kemitraan dan kolaborasi antarlembaga, anggaran bisa digunakan secara optimal. Program seperti ini menggunakan anggaran yang lebih kecil dibandingkan seminar-seminar yang biasanya dilakukan secara mewah.
Namun, dampaknya justru lebih besar karena menarget langsung kepada masyarakat yang sering berkumpul di warung kopi. Prof Zainal berharap kegiatan ini dapat roadshow ke kabupaten-kabupaten lain, sehingga bisa menyelesaikan masalah bangsa dan daerah di tempat yang lebih dekat dengan masyarakat.
Sinergi Lintas Sektor untuk Kesejahteraan Masyarakat
Dalam program ini, FKUB Sulteng dan WVI akan melibatkan TNI, Polri, pemerintah, dan lembaga-lembaga terkait. Tujuannya adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat agar dapat hidup rukun dan sejahtera.
“Saya kira tidak mungkin bisa rukun kalau masyarakat tidak sejahtera. Tidak mungkin bisa rukun kalau tidak sehat,” kata Prof Zainal.
Ia juga menekankan bahwa kerja-kerja ini bukan hanya untuk satu agama, tetapi untuk kemanusiaan. Perlu adanya keterlibatan orang lain dan kolaborasi yang positif.
Harapan dari Tokoh dan Pengambil Kebijakan
Sekretaris Umum FKUB Sulteng, Muhammad Munif Godal, berharap pelibatan lintas sektor dapat memberi pengaruh terhadap pengambil kebijakan. Selama ini, program Ngopi Kerukunan FKUB Sulteng dilakukan setiap triwulan sesuai dengan anggaran.
Dengan pola kolaborasi bersama WVI, Munif berharap program ini bisa dilakukan lebih masif dengan berbagai topik bahasan yang disusun bersama.
“Waktu ini akan menjadi virus positif yang memberikan pengaruh baik. Saya sangat setuju dengan kemitraan seperti ini. Kita tidak bisa menutup diri dengan masalah-masalah yang ada di masyarakat. Dan saya kira ini akan memberikan pengaruh terhadap kebijakan yang akan diambil oleh pemerintah,” ujarnya.
Keinginan Masyarakat dan Target Penghargaan
Wakil Sekretaris FKUB Sulteng, Agustinus Motoh, juga menyambut baik kolaborasi ini. Ia menyebut bahwa FKUB Sulteng dan WVI memiliki visi yang sama untuk menebar kebaikan di tengah masyarakat.
Agusmo, sapaan akrab Wakil Sekretaris FKUB Sulteng, menyampaikan aspirasi masyarakat Buol yang pernah disampaikan langsung kepadanya. Di desa di Kecamatan Bokat, Kabupaten Buol, masyarakat hidup rukun dan harmonis lintas agama.
Ada keinginan dari masyarakat di sana untuk memperkuat komitmen bersama menjaga keharmonisan dan kerukunan. Mereka ingin dibuatkan tugu kerukunan sebagai simbol kuat kerukunan dan keharmonisan terjaga di wilayah itu.
Melalui kerja-kerja nyata seperti ini, Agusmo optimis harapan FKUB Sulteng meraih Harmony Award 2026 dapat terwujud.
Rencana Pelaksanaan dan Keterlibatan Lembaga Lain
Area Program Manager WVI Agustinus Polabi menyampaikan bahwa tindak lanjut dari kesepakatan ini akan diwujudkan dalam waktu dekat. Rencananya, program Ngopi Kerukunan versi baru kolaborasi FKUB Sulteng dan WVI akan dilaksanakan awal Februari 2026.
Ia yakin konsep Ngopi yang selama ini telah dijalankan FKUB Sulteng akan membuat dialog lebih mengalir dan dapat melibatkan lebih banyak kalangan.
“Kegiatan-kegiatan seperti ini kami harapkan bisa kita bangun bersama. Materi tidak terbatas dari Wahana Visi Indonesia. Siapa saja bisa diajak untuk menyampaikan materi. Bahkan kita bisa menggandeng NGO lain,” ujarnya.
Team Leader Project Inclusion Sulteng WVI, Kristian Edi Suseno, juga menyampaikan hal senada. Menurutnya, WVI dalam menyusun program-program yang dijalankan, mereka memikirkan perkembangan Sulawesi Tengah 10 tahun ke depan.
Dari situlah muncul program-andalan WVI yang sedang berjalan hingga saat ini. Di antaranya, WVI bergerak dalam isu lingkungan, perlindungan anak hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pelibatan kelompok rentan dalam berbagai program WVI.
“Makanya kami ingin pembahasan kelompok-kelompok rentan ini juga tersentuh. Kemudian perkembangan anak. Ini semua tidak bisa WVI sendiri. Perlu kolaborasi. Mungkin lewat kolaborasi bersama FKUB Sulteng ini, kita memiliki potensi untuk memberi masukan kepada pengambil keputusan,” pungkas Edi.
Dukungan Pemerintah Daerah
Wakil Bupati Parigi Moutong Abdul Sahid yang hadir di akhir pertemuan menyatakan dukungan Pemkab Parigi Moutong yang siap memberi support program Ngopi Kerukunan kolaborasi dengan WVI jika suatu waktu dilaksanakan di Parigi Moutong.











