Peningkatan Kapasitas Bandara Ngurah Rai dan Tantangan yang Menghadang
Kapasitas penumpang Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali sebelumnya hanya mampu melayani 24 juta penumpang per tahun. Namun, setelah dilakukan revitalisasi, kapasitas bandara ini kini meningkat menjadi dapat melayani hingga 32 juta penumpang per tahun. Dengan peningkatan ini, pihak Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Dirjen Hubud) Kementerian Perhubungan kini sedang meninjau kemungkinan untuk meningkatkan kapasitas lebih lanjut hingga mencapai 40 juta penumpang per tahun.
Menurut Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, dalam sambutannya pada acara Celebration of Airport Excellence di Nusa Dua, Jumat (23/1/2026), studi terkini memperkirakan bahwa jumlah penumpang di Bandara Bali akan meningkat hingga 55 juta per tahun. Hal ini memicu pertanyaan mengenai kebutuhan adanya bandara baru atau runway kedua di Bali Selatan, terutama untuk mendukung peningkatan kapasitas hingga 23 juta penumpang tambahan.
Pertanyaan ini menjadi tantangan utama bagi Dirjen Hubud. Di sisi lain, masalah kemacetan di Bali Selatan juga menjadi isu serius. Saat ini, pihak terkait sedang mempertimbangkan berbagai solusi seperti pembangunan MRT dan jalan tol untuk mengurangi kepadatan lalu lintas.
Namun, ada keterbatasan dalam aturan pembangunan, yaitu tidak boleh membangun bangunan yang lebih tinggi dari pohon kelapa. Hal ini menjadi kendala dalam merancang infrastruktur baru di kawasan tersebut.
Lukman menyebutkan bahwa saat ini kapasitas Bandara Ngurah Rai sudah mencapai 32 juta penumpang, namun masih ada potensi kemacetan yang bisa terjadi. Desain awal kawasan Bali Selatan hanya dirancang untuk menangani 24 juta penumpang. Oleh karena itu, ia menyarankan agar pengguna transportasi udara dapat mencari alternatif tujuan selain Jakarta dan Bali. Namun, permintaan tersebut sering kali tidak terpenuhi, sehingga dalam tiga hingga empat tahun ke depan, Bali diperkirakan akan mencapai angka 32 juta penumpang.
Prioritas Utama: Keamanan dan Keselamatan
Saat kapasitas penumpang meningkat, pihak bandara diminta untuk tetap menjaga standar keselamatan dan keamanan. Menurut Lukman, kecelakaan pesawat, meski hanya sedikit, bisa menjadi perhatian masyarakat baik di dalam maupun luar negeri.
Oleh karena itu, ekosistem Bandara I Gusti Ngurah Rai harus terus mengutamakan keselamatan. Dalam situasi ini, pihak bandara harus siap menghadapi risiko yang muncul akibat peningkatan jumlah penumpang.
Kondisi Sektor Aviasi Pasca-Pandemi
Sektor aviasi di Indonesia belum sepenuhnya pulih dari dampak pandemi Covid-19. Saat ini, penumpang domestik baru mencapai 80% dibandingkan dengan tahun 2019, sementara penumpang internasional sudah kembali mencapai 100%. Namun, secara keseluruhan, kondisi industri penerbangan masih jauh dari kondisi sebelum pandemi.
Lukman menyebutkan bahwa jumlah penerbangan domestik saat ini hanya 67%, sedangkan penumpang domestik mencapai 80%. Sementara untuk penerbangan internasional, jumlah penerbangan mencapai 99%, dengan jumlah penumpang mencapai 105%.
Masalah Harga Tiket Pesawat
Kondisi ini berdampak pada harga tiket pesawat. Karena supply dan demand tidak seimbang, harga tiket rute domestik cenderung mahal. Untuk mengatasi hal ini, Lukman mendukung penuh maskapai penerbangan untuk menambah penerbangan baru atau mengajukan tambahan penerbangan di luar penerbangan reguler. Hal ini diharapkan dapat membantu menurunkan harga tiket.
Operasi Modifikasi Cuaca dalam Evakuasi Korban Kecelakaan Pesawat
Dalam acara tersebut, Lukman juga menyampaikan informasi mengenai operasi modifikasi cuaca (OMC) yang dilakukan dalam proses pencarian korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Bulusaraung. Cuaca di lokasi kejadian sangat buruk, sehingga OMC digunakan untuk menggeser pergerakan awan agar proses evakuasi dapat berjalan maksimal.
Operasi ini telah dilakukan lebih dari sepuluh kali hingga saat ini. Lukman menegaskan bahwa keselamatan penerbangan adalah prioritas utama, terlebih dalam kondisi cuaca yang sulit, seperti musim hujan yang sedang berlangsung saat ini.











