Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 11 Halaman 107
Pada halaman 107 Bab III Kegiatan 3, siswa diberikan tugas untuk mengidentifikasi dan mengaplikasikan nilai-nilai kehidupan dalam cerpen “Makam” karya Herman RN. Tugas ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman siswa tentang unsur-unsur ekstrinsik dalam sebuah cerita pendek, seperti nilai moral, sosial, budaya, politik, dan agama.
Mengidentifikasi Kosa Kata
Siswa diminta untuk mencari arti kosa kata dari beberapa istilah yang terdapat dalam cerpen. Berikut adalah kunci jawaban untuk pertanyaan tersebut:
- Blue print: Rencana yang terperinci; program tindakan; rencana program.
- Amanah: Sesuatu yang dipercayakan (dititipkan) kepada orang lain.
- Perkara: Masalah; persoalan.
- Dirumuskan: Pernyataan atau simpulan tentang asas, pendirian, ketetapan, dan sebagainya yang disebutkan dengan kalimat yang ringkas dan tepat.
- Kawasan: Daerah tertentu yang mempunyai ciri tertentu, seperti tempat tinggal, pertokoan, industri, dan sebagainya.
- Negosiasi: Penyelesaian sengketa secara damai melalui perundingan antara pihak yang bersengketa.
- Terdidik: Sudah dididik.
- Musyawarah: Pembahasan bersama dengan maksud mencapai keputusan atas penyelesaian masalah; perundingan; perembukan.
- Ajang Sana: Pergi (datang) untuk menengok (menjumpai, dan sebagainya).
- Negosiasi: Penyelesaian sengketa secara damai melalui perundingan antara pihak yang bersengketa.
Menggali Nilai-Nilai dalam Cerpen “Makam”
Setelah memahami kosa kata, siswa diminta untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berfokus pada nilai-nilai yang terkandung dalam cerpen. Berikut adalah jawaban-jawaban yang dapat dijadikan referensi:
1. Nilai Moral
Salah satu nilai moral yang terkandung dalam cerpen “Makam” adalah penghargaan dan keinginan untuk membalas budi kepada orang tua. Bukti dari nilai ini adalah saat tokoh utama ingin berbakti kepada orang tua dan kampung halamannya, meskipun ia tidak tahu caranya. Ia ingin membuat kampungnya menjadi lebih maju dengan mendirikan hotel megah agar layak seperti kota-kota besar.
Penjelasan: Ketika seorang anak sudah dewasa dan bisa mandiri, seharusnya dia tahu bagaimana membalas budi kepada orang tua. Orang tua lah yang telah membimbing dan mengasuh kita dari bayi hingga dewasa.
2. Nilai Sosial
Nilai sosial yang terkandung dalam cerpen “Makam” adalah mulai masuknya modernitas di desa-desa yang dulu jauh dari hiruk pikuk kota. Hal ini dibuktikan dengan rencana pembangunan hotel dan mal di sebuah desa di Aceh.
Bukti: Bapak tahu tidak apa alasan kuat saya ingin mendirikan hotel dan mal di Kampung Lampap? Sebenarnya, saya bisa saja menerima tawaran dari Kepala Kampung Lamkreh. Mereka sudah beberapa kali menemui orang saya, meminta agar hotel dan mal itu didirikan di kampung mereka.”
Penjelasan: Modernisasi, yang identik dengan kota, kini mulai merambah ke desa-desa. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya pembangunan infrastruktur modern di desa, seperti hotel dan mal.
3. Nilai Budaya
Nilai budaya yang terkandung dalam cerpen “Makam” adalah penggunaan nama-nama khusus yang berasal dari daerah Aceh. Contohnya, “Teungku” digunakan untuk menyebut tokoh laki-laki yang memiliki ilmu agama Islam, sedangkan “Nek” digunakan untuk menyebut tokoh perempuan yang sudah tua.
Bukti: Penggunaan nama-nama khusus ini menunjukkan adanya nilai budaya Islam yang kuat dalam masyarakat Aceh. Selain itu, nilai budaya menghormati orang tua juga terlihat dalam penggunaan istilah tersebut.
4. Nilai Politik
Nilai politik yang terkandung dalam cerpen “Makam” adalah adanya konflik bersenjata di Aceh yang melibatkan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Bukti: “…………..Namun, Pak Teungku juga tidak bisa merawat anaknya lama-lama. Ketika umur anak itu menjelang lima tahun, keadaan kampung ini masih dalam suasana darurat. Pak Teungku dan anaknya ditangkap kelompok bersenjata, lalu mereka dipisahkan.”
Penjelasan: Konflik bersenjata antara GAM dan pemerintah Indonesia akhirnya diselesaikan dengan adanya kesepakatan antara kedua belah pihak.
5. Nilai Agama
Meskipun nilai agama tidak terlalu terlihat dalam cerpen “Makam”, masyarakat Aceh terkenal dengan religiusitasnya dalam beragama, terutama agama Islam. Hal ini dapat dilihat dari beberapa kutipan berikut:
- “Dia selalu mengaji Al Quran setiap malam setelah sholat Isya.” (Kebiasaan tokoh utama dalam menjalankan ibadah agama).
- “Mereka menunaikan shoalat berjamaah di masjid terdekat.” (Ketaatan masyarakat terhadap kewajiban agama).
- “Pemakaman itu adalah tempat suci bagi umat Islam.” (Penghormatan masyarakat terhadap tempat ibadah).











