"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Budaya  

Diskoma UGM gelar diskusi, bahas viralitas media sosial sebagai budaya digital

Diskusi Publik Kaleidoskop 2025: Memahami Viralitas sebagai Narasi Budaya

Diskusi Komunikasi Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (Diskoma UGM) menyelenggarakan diskusi publik yang bertajuk “Viralitas Narasi Media Sosial dan Makna Budaya yang Dipercaya” pada Kamis, 29 Januari 2026. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring dan terbuka untuk umum sebagai bagian dari upaya Diskoma UGM dalam merespons dinamika komunikasi digital yang semakin kompleks.

Diskusi ini menghadirkan dua pembicara yakni dosen Ilmu Komunikasi UGM, Dr. Dian Arymami, S.I.P., M.Hum. dan Dr. Mufti Nurlatifah, S.I.P., M.A., dengan Daffa Lazuardy Noer Sy, mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi UGM, sebagai moderatornya. Forum ini bertujuan untuk membuka wawasan peserta mengenai viralitas media sosial tidak hanya sebagai fenomena komunikasi yang bersifat teknis dan sesaat, tetapi juga sebagai narasi budaya yang berperan dalam membentuk makna, kepercayaan, dan cara berpikir masyarakat kontemporer.

Viralitas sebagai Fenomena Budaya

Dalam pemaparan pertama, Dr. Dian Arymami menekankan bahwa viralitas lahir dari pergeseran ideologi komunikasi di era media sosial. Di era ini, mood dan style menjadi elemen penting dalam penyebaran pesan. Media tidak lagi bekerja semata-mata melalui argumen rasional, melainkan melalui daya tarik emosional yang kuat.

Menurutnya, kini emosi telah bertransformasi menjadi bentuk pengetahuan dalam budaya afektif pada masyarakat digital. Emosi tidak lagi bisa diposisikan hanya sebagai reaksi personal, tetapi sudah menjadi cara masyarakat memproduksi dan mempercayai makna, apalagi dalam konteks viralitas di media digital.

Ia juga menyebut bahwa media sosial dirancang untuk mengelola perhatian dan emosi publik, sehingga ruang diskusi yang terbentuk sering kali berbeda dengan konsep ruang publik rasional sebagaimana dibayangkan dalam teori klasik. Menurutnya, ruang viral lebih banyak bekerja melalui simbol, citra, dan representasi yang membangun persepsi kolektif. Sehingga viralitas tidak selalu menghasilkan perubahan tindakan, tetapi mampu membentuk kepercayaan dan orientasi berpikir masyarakat.

“Yang viral sering kali tidak memiliki bentuk yang jelas, tetapi bekerja di ruang simbolik yang memengaruhi cara orang memandang realitas yang ada,” ujarnya dalam pembahasan tersebut.

Lebih jauh, Dr. Dian memaparkan bahwa wacana di ruang digital dapat menjadi hegemonik ketika bertemu dengan fragmentasi hasrat dan relasi kuasa. Makna yang beredar di media sosial tidak pernah bersifat tunggal atau stabil, melainkan terus diproduksi dan diperebutkan oleh berbagai kepentingan. Fenomena ini dapat mencerminkan kondisi late modernism yang ditandai oleh percepatan informasi, fragmentasi pengalaman, serta perasaan keterasingan yang semakin kuat.

“Makna selalu bergantung pada hasrat yang muncul dan relasi kuasa yang menyertainya, sehingga viralitas menjadi arena kontestasi makna,” tegas dosen FISIPOL UGM tersebut.

Perbedaan antara Viralitas dan Popularitas

Sementara itu, Dr. Mufti Nurlatifah menyoroti pentingnya membedakan antara viralitas dan popularitas dalam memahami lanskap media sosial saat ini. Menurutnya, viralitas adalah proses penyebaran konten digital secara masif dalam waktu singkat dengan pola naik dan turun yang cepat, serta digerakkan oleh pengguna melalui praktik berbagi (sharing). Sebaliknya, popularitas dibangun melalui strategi komunikasi yang terencana dan berjangka panjang, seperti yang kerap dilakukan oleh merek atau figur publik.

“Viral itu tidak dirancang untuk bertahan lama, ia bekerja secara cepat dan fluktuatif,” ungkapnya.

Dr. Mufti juga menjelaskan bahwa setiap platform media sosial memiliki logika viralitas yang berbeda, seiring dengan mekanisme algoritmik yang diterapkan. Ia memaparkan berbagai jenis konten yang berpotensi viral, mulai dari social currency, triggers, emotion, public visibility, practical value, hingga stories.

“Konten viral tidak berdiri sendiri, tetapi selalu berkelindan dengan konteks sosial, emosi, dan kebiasaan pengguna,” sambung Dr. Mufti.

Dalam konteks perkembangan terbaru, ia menambahkan bahwa media sosial pada periode 2025-2026 tengah mengalami pergeseran menuju fase yang lebih algoritmik. Jika sebelumnya relasi pertemanan menjadi penentu utama arus informasi, kini perilaku pengguna menjadi basis utama rekomendasi konten. Fenomena ini dikenal sebagai TikTokification.

Kondisi ini berdampak pada meningkatnya personalisasi sekaligus berkurangnya kontrol individu terhadap paparan informasi.

“Sekarang bukan lagi siapa teman kita, tetapi apa yang kita tonton, kita sukai, dan kita hentikan yang dibaca oleh algoritma,” jelasnya.

Sebagai penutup, Dr. Mufti menegaskan bahwa ekosistem media sosial hari ini tidak dapat dipandang semata-mata sebagai entitas yang sepenuhnya jahat, mengingat adanya keterlibatan aktif pengguna dalam proses produksi dan distribusi konten. Namun, ia mengingatkan bahwa tanpa kesadaran kritis dan literasi digital yang memadai, pengguna berisiko terus terjebak dalam hegemoni narasi yang dibentuk oleh desain sistem media itu sendiri.

“Media sosial bukan sepenuhnya buruk, tetapi ketika kita tidak memiliki kesadaran kritis, kita mudah digiring oleh narasi yang sudah dirancang oleh sistemnya,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa literasi digital menjadi kunci agar pengguna tidak hanya menjadi konsumen pasif. Pengguna harus mampu memahami dan mengendalikan relasi kuasa yang bekerja di balik algoritma dan arsitektur media sosial.

“Kesadaran inilah yang memungkinkan kita keluar dari logika hegemonik dan membaca media sosial secara lebih reflektif,” pungkasnya.

Diskusi Kaleidoskop 2025 Diskoma UGM menyimpulkan bahwa viralitas perlu dipahami sebagai formasi budaya yang kompleks dan tidak linier. Di tengah percepatan informasi dan ketidakstabilan makna, peserta diskusi diajak untuk lebih reflektif dalam menyikapi arus viral di media sosial.

“Kita hidup di zaman yang tidak selalu runtut, dan dalam kondisi seperti ini, tersesat justru menjadi bagian dari pengalaman komunikasi itu sendiri,” pungkas kedua pemateri dalam sesi closing statement di diskusi tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *