JAKARTA — Pemerintah menilai bahwa negosiasi dagang dengan berbagai negara mitra serta reformasi pasar modal menjadi kunci utama dalam meyakinkan peluang investasi di Indonesia kepada para investor dari berbagai tingkatan, termasuk global. Hal ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada hari pertama Indonesia Economic Summit (IES) yang digelar oleh Indonesia Business Council (IBC), Selasa (3/2/2026).
Di hadapan para pengusaha nasional maupun global yang hadir dalam forum tersebut, Airlangga menyampaikan berbagai indikator makro ekonomi Indonesia serta kemajuan dalam negosiasi perdagangan. Ia mengungkapkan bahwa sebagian besar perjanjian perdagangan bebas (free trade agreement) telah selesai diselesaikan, termasuk dengan Amerika Serikat (AS). Di mana beberapa barang dari Indonesia dikenakan tarif lebih rendah dibandingkan sebelumnya, yaitu 19%.
“Sebagian besar negosiasi perdagangan telah diselesaikan, termasuk dengan Kanada, UE, dan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU). Kami sedang dalam proses menyelesaikan perjanjian perdagangan dengan AS,” ujar Airlangga di Hotel Shangri-La, Jakarta.
Selain itu, Airlangga juga menjelaskan bahwa bersama negara-negara G20, Indonesia mendapatkan komitmen pendanaan Just Energy Transition Partnership (JETP) sebesar US$21,4 miliar. Sebanyak US$3,5 miliar di antaranya sudah dimanfaatkan. Australia juga menyatakan rencana investasinya di Indonesia. Mitra investasi dari negara tetangga seperti Sarawak Air Malaysia diajak untuk berkolaborasi dalam membuka konektivitas transportasi guna mendukung destinasi pariwisata di luar Jakarta dan Bali.
Tidak hanya itu, Indonesia juga bekerja sama dengan Singapura dalam pengembangan kawasan ekonomi khusus dan program digital. “Ini berarti ada banyak modal dalam pipeline yang siap untuk diinvestasikan di Indonesia,” kata mantan Menteri Perindustrian tersebut.
Agenda Reformasi Pasar Modal
Selain negosiasi dagang, Airlangga juga memaparkan agenda reformasi pasar modal yang baru saja diluncurkan Indonesia. Reforms ini dilakukan setelah ultimatum Morgan Stanley Capital Indonesia (MSCI) terhadap penurunan rating pasar saham RI yang memicu trading halt dua kali berturut-turut.
Agenda reformasi pasar modal fokus pada empat pilar utama, yaitu efisiensi, transparansi, tata kelola, dan penegakan hukum. “Hingga pagi ini, pasar modal telah kembali ke zona hijau, yang menandakan respons pasar yang positif,” jelas Airlangga.
Kehadiran IES 2026 sebagai Platform Strategis
Pada kesempatan yang sama, Ketua Dewan Pengawas IBC Arsjad Rasjid menekankan bahwa IES 2026 menjadi platform strategis untuk membangun kepercayaan investor di tengah dunia yang penuh dengan ketidakpastian. “Tujuan kami adalah memastikan Indonesia tetap atraktif, kompetitif, dan produktif. Fokus kami tertuju pada tiga pilar utama yakni Kepastian (Certainty), Kapabilitas (Capability), dan Modal (Capital),” ujarnya.
Dalam IES 2026, terdapat berbagai inisiatif yang dilakukan, salah satunya peluncuran Business 57+ (B57+) Asia-Pacific Regional Chapter. Inisiatif ini diarahkan untuk memperkuat konektivitas ekonomi antarnegara Islam dan mitra strategisnya, dengan Indonesia diposisikan sebagai simpul utama kerja sama di kawasan Asia-Pasifik.
Presiden Islamic Chamber of Commerce and Development (ICCD) Abdullah Saleh Kamel menyampaikan bahwa peluncuran B57+ merupakan inisiatif kolektif yang didedikasikan untuk masa depan kemanusiaan yang lebih baik. “Dunia usaha, investasi, perdagangan, dan keuangan dapat memainkan peran utama dalam memajukan masyarakat kita. Visi ini sejalan dengan komitmen para pemimpin politik di negara-negara seperti Arab Saudi, Indonesia, Malaysia, Turki, dan Pakistan yang secara aktif berupaya memberdayakan sektor swasta melalui reformasi legislatif dan infrastruktur digital,” katanya.
Potensi Investasi Global
Chief Economist IBC Denni Purbasari mengatakan, Indonesia menjadi daya tarik untuk meraih investasi global karena merupakan negara demokrasi dengan penduduk muda yang besar. Posisi ini diperkuat oleh pertumbuhan ekonomi yang stabil di sekitar 5,1% sampai 5,2%. “Komitmen pemerintah terhadap openness dan reform, kestabilan ekonomi makro dan politik, menjadi faktor yang menarik bagi investor asing untuk masuk, baik melalui direct investment maupun portofolio,” ujarnya.
Beberapa program prioritas pemerintah seperti ketahanan pangan, ketahanan energi, dan kesehatan menambah peluang kemitraan antara pelaku bisnis dalam negeri dengan investor global. Menurut Denni, sektor yang menarik tidak hanya terkait rantai pasok kendaraan listrik. Sektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan serta perikanan, energi terbarukan, kesehatan, jasa keuangan bahkan pendidikan turut dinilai menjadi sektor yang menarik.
Tantangan dan Peluang di IES 2026
Sebagai informasi, IES adalah forum ekonomi tahunan yang diselenggarakan IBC untuk membedah tren ekonomi, prioritas strategis, dan arah masa depan Indonesia dalam rantai pasok global. IES 2026 menghadirkan delegasi dari lebih dari 50 negara untuk mendiskusikan peluang investasi dan tantangan ekonomi struktural Indonesia di tengah dinamika pasar global.
Forum yang diselenggarakan pada 3 dan 4 Februari 2026 itu mempertemukan pemimpin pemerintahan, dunia usaha, investor global, dan organisasi internasional dari berbagai negara seperti Singapura, Australia, Jepang, Inggris, China hingga negara-negara Eropa dan Asia Tengah. IBC melihat bahwa kehadiran delegasi internasional yang luas menunjukkan bahwa minat investor global terhadap pasar Indonesia tetap ada.











