"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Budaya  

Kisah Rusli: Mencari Bangkai untuk Memberi Makan Buaya di Mateng

Pengelola Penangkaran Buaya Terpaksa Mencari Bangkai Hewan untuk Memberi Makan Puluhan Buaya

Rusli, seorang pengelola penangkaran buaya di Desa Babana, Kecamatan Budong-budong, Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, kini terpaksa mengambil tindakan ekstrem untuk memenuhi kebutuhan pakan puluhan buaya yang ia kelola. Dalam situasi krisis pakan dan biaya operasional, Rusli harus mencari bangkai hewan di perkebunan sawit dan daerah pemukiman warga.

Mencari Bangkai Hewan sebagai Solusi Kritis

Setiap hari, Rusli berkeliling dengan kendaraannya, menyusuri perkebunan, pinggiran hutan, hingga pemukiman warga, mencari bangkai sapi, kerbau, kambing, atau ayam yang mati karena sakit. Ia bahkan kadang harus ikut mencari ikan di sungai. Aktivitas ini dilakukan sebagai upaya untuk mengatasi krisis pakan yang semakin mengkhawatirkan.

“Ini adalah cara yang kami lakukan mengatasi krisis pakan,” ujar Rusli saat ditemui di lokasi penangkaran, Jumat (21/11/2025). Namun, aktivitas ini tidak selalu mudah. Seringkali, Rusli pulang dengan tangan kosong. Rezeki hanya datang jika ada informasi dari warga melaporkan adanya hewan ternak mereka yang mati.

“Kami sangat berterima kasih kepada warga, sering memberi informasi jika ada hewan ternaknya mati, itu sangat membantu kami,” tambahnya. Hal ini menunjukkan betapa bergantungnya operasional penangkaran pada kemurahan hati masyarakat.

Penangkaran Buaya sebagai Upaya Konservasi

Penangkaran buaya yang dikelola Rusli tidak hanya sekadar tempat pembiakan, tetapi juga merupakan upaya konservasi untuk mengendalikan populasi buaya liar dan mengurangi konflik dengan manusia. Pekerjaan ini menuntut komitmen tinggi dan pengorbanan finansial yang tidak sedikit.

Namun, di balik dedikasi tinggi tersebut, Rusli menyimpan kekhawatiran besar. Ia merasa semakin hari dirinya semakin tidak mampu memenuhi kebutuhan pakan buaya yang semakin banyak. Puncaknya, Rusli melontarkan harapan kepada semua pihak, bahkan ketidaksanggupannya mengurusi buaya tanpa upah ia harus memutuskan untuk melepaskan predator ganas itu.

“Jika pemerintah dan instansi terkait tak juga memberi solusi terhadap keberlangsungan predator liar tersebut di penangkaran, Rusli berniat melepaskan sekitar 50 ekor buaya ke alam liar,” ujar Rusli dengan nada resah.

Potensi Risiko Pelepasan Buaya ke Alam Liar

Di sisi lain, Rusli memikirkan dampak yang ditimbulkan jika buaya itu dilepas, karena selama ini konflik buaya dan manusia kerap kali terjadi di wilayahnya. Tetapi ia tak menampik, bahwa habitat buaya sudah mulai hilang tergeser oleh ekosistemnya yang kian digerus oleh kondisi dan keadaan.

Pernyataan ini tentu menjadi sangat serius, mengingat pelepasan puluhan buaya ke alam liar berpotensi meningkatkan risiko konflik buaya-manusia di wilayah tersebut. Rusli berharap ada perhatian dan solusi konkret dari pemerintah agar upaya konservasi yang ia jalankan dengan penuh tanggung jawab ini dapat terus berlanjut.

Kondisi yang Mengkhawatirkan

Situasi yang dihadapi Rusli menunjukkan betapa sulitnya menjaga konservasi satwa liar dalam kondisi ekonomi yang tidak stabil. Meskipun memiliki niat baik, ia kini terpaksa mengambil langkah ekstrem akibat keterbatasan sumber daya dan dukungan yang tidak cukup.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *