"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

BI Semakin Hijau! Kredit Ramah Lingkungan, 38 Ribu Pohon, dan Mangrove Baru di Bali

Bank Indonesia Berkomitmen pada Ekonomi Hijau dan Konservasi Lingkungan

Bank Indonesia (BI) kembali menunjukkan komitmennya terhadap ekonomi hijau dengan melakukan penanaman 1.000 bibit mangrove di Teluk Benoa, Bali. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab atas emisi yang dihasilkan dari penyelenggaraan Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2025. Lokasi penanaman berada di kawasan konservasi maritim yang dikenal sebagai salah satu titik penting dalam pemulihan ekosistem laut.

Bagi BI, kegiatan ini bukan sekadar tanam-poto-tanam, melainkan implementasi nyata dari mandat Undang-Undang BI terkait pembangunan ekonomi berkelanjutan. Momentum ini juga menjadi contoh bagaimana kebijakan besar bisa bermula dari tindakan sederhana seperti menanam satu bibit mangrove yang menjadi harapan untuk masa depan lingkungan.

Ekonomi Hijau Harus Inklusif dan Tidak Meninggalkan yang Kecil

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menegaskan bahwa ekonomi hijau tidak boleh hanya menjadi jargon belaka. Dalam UU BI, terdapat mandat untuk menjaga stabilitas rupiah hingga sistem pembayaran, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Baginya, keberlanjutan berarti pertumbuhan yang merangkul mereka yang berada di bawah.

“Alam makin rusak dan alam pasti akan marah,” tegasnya. Oleh karena itu, BI memilih untuk mulai mengubah cara berpikir dalam penyaluran kredit dari sekadar mendorong pertumbuhan nominal, menjadi mendorong pertumbuhan yang peduli lingkungan.

Kredit Ekonomi Hijau Mulai Didukung Lewat Insentif

Bank Indonesia kini memberikan insentif kepada perbankan yang menyalurkan kredit ke sektor-sektor hijau. Baik itu kredit untuk pembangunan rumah dengan prinsip ramah lingkungan, kendaraan listrik, energi terbarukan, hingga usaha yang mengurangi dampak ekologis. Destry menekankan bahwa masa depan pembiayaan harus selaras dengan perlindungan alam. Dengan kebijakan ini, bank yang ikut mendorong ekonomi hijau akan mendapatkan dukungan likuiditas tambahan dari BI. Harapannya, semakin banyak perbankan berani mengambil peran dalam transformasi ekonomi ini.

UMKM KKI Didampingi Agar Bisa ‘Naik Kelas’ Secara Global

Dalam acara KKI Agustus lalu, BI tidak hanya memamerkan karya UMKM, tetapi juga membuka ruang bisnis matching antara pelaku usaha dan calon pembeli dari luar dan dalam negeri. Masalah klasik UMKM yakni pembiayaan, diharapkan bisa teratasi dengan adanya pertemuan langsung antara pelaku usaha dan lender. Selama lima hari penyelenggaraan KKI, BI berhasil membantu membuka peluang kerja sama baru bagi banyak UMKM. Langkah ini diharapkan memperluas akses pembiayaan sekaligus mendorong UMKM masuk pasar global.

Mengukur Emisi dengan Kalkulator Hijau

Direktur Eksekutif BI, Anastuty “Nita”, menjelaskan bahwa selama lima hari penyelenggaraan KKI, total emisi mencapai sekitar 126,85 ton CO₂. Angka itu dihitung menggunakan kalkulator hijau, sebuah alat untuk mengukur emisi baik individu, UMKM, maupun kegiatan berskala besar seperti KKI. Melalui alat ini, BI bisa memahami dampak karbon yang dihasilkan dan menentukan langkah-langkah konkret untuk mengimbanginya. Transparansi angka ini menjadi dasar mengapa penanaman mangrove kali ini penting dilakukan.

Penanaman Mangrove dan Pembelian Karbon Kredit Jadi Dua Langkah Utama

Untuk menurunkan emisi dari penyelenggaraan KKI, BI mengambil dua tindakan yaitu dengan menanam pohon dan membeli karbon kredit. Dalam acara ini BI membeli 150 ton CO₂ karbon kredit di Bursa Efek Indonesia. Sementara penanaman 1.000 mangrove di Teluk Benoa menjadi langkah yang langsung menyentuh lingkungan. Selama ini, BI telah menanam hingga 38 ribu pohon melalui 46 kantor perwakilannya. Mangrove dipilih karena kemampuannya menyerap sekitar 12–20 kg CO₂ per tahun per pohon, angka yang bisa meningkat saat pohon beranjak dewasa.

Pemerintah Bali Sambut Baik, Ekonomi Tidak Harus Mengorbankan Lingkungan

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Bali, I Made Rentin, menyambut hangat langkah BI ini. Ia menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan tidak harus saling bertentangan. Penanaman mangrove membuktikan bahwa kegiatan ekonomi berskala besar tetap bisa bertanggung jawab pada alam. Menurutnya, aksi ini layak ditiru oleh penyelenggara kegiatan di daerah lain, terutama yang menghasilkan emisi tinggi.

Mangrove Sebagai Benteng Alami yang Juga Jadi Paru-Paru Pesisir

Selain menyerap emisi, mangrove memiliki peran sebagai benteng alami untuk mencegah abrasi dan menjaga habitat biota laut. Di pesisir Bali, mangrove menjadi pelindung penting bagi ekosistem laut yang rentan rusak. Penanaman mangrove tidak sekadar simbol komitmen, tetapi langkah nyata menjaga masa depan lingkungan pesisir. Harapannya, 1.000 mangrove baru ini bisa menjadi awal pemulihan lebih besar yang dilakukan secara konsisten.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *