Peristiwa Banjir yang Mengancam Keluarga di Medan
Di New York, Amerika Serikat, Farid Muttaqin sempat merasa cemas menantikan kabar dari keluarganya yang tinggal di Medan, Sumatera Utara. Sebagai mahasiswa doktoral di State University of New York (SUNY) Binghamton, New York, ia menceritakan bahwa keluarganya menjadi korban bencana banjir yang melanda Pulau Sumatera beberapa hari terakhir.
Pada Kamis pagi, 27 November 2025 waktu Medan, adik Farid memberi kabar bahwa air mulai memasuki rumah. Sekitar pukul 8 pagi, banjir sudah mencapai betis orang dewasa. Farid menjelaskan bahwa mereka awalnya berpikir banjir hanya akan sampai pada ketinggian tersebut, namun ternyata semakin parah. Pada pukul 11 pagi, air sudah mencapai lutut, lalu pada pukul 12.30 siang, air mencapai dada orang dewasa.
Pukul 12.30 siang waktu Medan itu adalah saat terakhir Farid bisa menghubungi keluarganya—sebelum akhirnya kontak terputus selama lebih kurang 14 jam. Saat itu, lewat tengah malam di New York, Farid khawatir karena banjir tampak semakin serius. Ia menyebutkan bahwa wilayah keluarganya tinggal di Medan itu sebelumnya tidak pernah mengalami banjir besar.
Farid makin cemas karena rumahnya di Medan juga dihuni oleh dua orang lanjut usia dan dua anak di bawah lima tahun atau balita. Total di rumah itu enam orang, termasuk dua lansia di atas 70 tahun, dua balita berusia 4 dan 5 tahun, serta ibu dan bapak mereka. Melalui sambungan telepon, adik Farid mengabarkan bahwa mereka keluar rumah untuk mengungsi di atas mobil. Sementara pintu rumah dikunci untuk menahan air masuk.
Farid meminta sang adik untuk menghemat baterai ponselnya. Alasannya, aliran listrik di rumahnya sudah padam. “Saya bilang diirit-irit saja handphone-nya, karena lampu sudah mati, nanti enggak bisa charge lagi,” ujar Farid. Harapan utamanya adalah ponsel masih bisa digunakan untuk berkontak ketika ada situasi darurat.
“Saya udah pasrah di sini lah, tapi masih agak lega karena masih bisa telepon,” tutur Farid. Namun, sekitar pukul 3 pagi waktu New York, Farid mendapat kabar dari istrinya, Ira, bahwa keluarganya di Medan tak bisa dihubungi. Dari jam 3 waktu sini, ia langsung tidak tidur lagi dan terus mencoba menghubungi, tetapi tidak berhasil. “Wah ini sudah putus kontak, putus komunikasi, jangan-jangan handphone-nya sudah enggak bisa dipakai,” kata Farid.
Ia lantas mencoba menghubungi berbagai pihak seperti posko banjir yang ada di sekitar wilayah rumahnya, tim Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Palang Merah Indonesia (PMI), kantor wali kota, hingga kantor gubernur. Namun, ia tidak mendapatkan respons. “Boro-boro minta evakuasi, ya, minta bantuan, kami didata saja enggak. Karena nomor teleponnya itu semuanya enggak bisa,” kata Farid.
Farid mengaku sempat kehilangan harapan untuk bisa kembali berkontak dengan keluarganya. “Gimana kalau terjadi apa-apa? Bahkan kami menginformasikan situasi mereka saja enggak bisa. Itu sebenarnya yang bikin kami sempat agak hopeless,” tutur dia.
Setelah 14 jam tanpa kabar, Farid akhirnya menerima pesan dari sang adik. Adiknya mengabarkan bahwa mereka masih bertahan di atas mobil. Keenam anggota keluarga itu terjebak di tengah-tengah air banjir yang tak kunjung surut. Mereka juga mengabarkan bahwa dari pagi belum makan. Farid khawatir karena mereka tidak memiliki akses ke makanan.
Menurut Farid, akses bantuan ke wilayah yang terdampak banjir di Kota Medan memang terhambat karena debit air yang masih tinggi. Pada Jumat, 28 November 2025, sekitar pukul 7 pagi, dua kawan Farid berhasil sampai di lokasi untuk memberi bantuan. Saat itu, air sudah surut. Yang tersisa adalah lumpur dan genangan air di dalam rumah.
“Tapi saya lega, karena akhirnya bisa berkomunikasi, dan akhirnya ada akses untuk bisa sampai ke sana, dan yang paling penting lagi, sudah mulai terbuka mobilitasnya, sehingga kalau mau keluar pun sudah bisa,” ujar dia.
Sejumlah wilayah di Kota Medan, Sumatera Utara, terendam banjir dengan ketinggian bervariasi akibat hujan lebat yang terjadi sepanjang Rabu malam, 26 November, hingga Kamis pagi, 27 November 2025. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Medan Yunita Sari mengatakan, selain karena hujan lebat, banjir yang terjadi juga dampak meluapnya Sungai Deli dan Sungai Babura yang membelah Kota Medan.











