"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

9 Tanda Anak Butuh Perhatian Orangtua Menurut Ahli

Tanda-Tanda Anak Membutuhkan Lebih Banyak Perhatian

Perubahan perilaku anak sering kali tidak disadari oleh orang tua. Namun, beberapa tanda-tanda ini bisa menjadi indikasi bahwa anak sedang membutuhkan perhatian lebih dari orangtua. Berikut adalah sembilan tanda yang menurut para ahli bisa mengindikasikan kebutuhan tersebut.

1. Sering Berteriak atau Meninggikan Suara

Anak yang membutuhkan perhatian cenderung lebih keras dan mudah kesal. Jika mereka berteriak, merengek, atau menyela percakapan, itu bisa menjadi cara mereka mencari perhatian. Perilaku ini biasanya muncul ketika anak merasa tidak diperhatikan.

2. Suka Menentang

Sikap menentang aturan bisa meningkat ketika anak sedang membutuhkan perhatian ekstra. Perilaku ini bukan hanya bentuk ketidakpatuhan, tetapi juga cara anak menunjukkan bahwa mereka kewalahan atau merasa kurang diperhatikan. Orang tua perlu memahami bahwa tindakan ini bisa jadi permintaan bantuan.

3. Sering Mengulang Pertanyaan yang Sama

Mengulang pertanyaan sering kali merupakan cara anak memancing interaksi. Mereka berharap orangtua dapat memberikan interaksi lebih dengan mereka melalui obrolan. Jika anak terus menanyakan hal yang sama meski sudah tahu jawabannya, itu bisa menjadi tanda bahwa mereka ingin berbicara.

4. Menarik Diri

Meski terlihat bertolak belakang, anak yang mencari perhatian bisa justru menarik diri. Jika anak menjauh, menghindari waktu bersama keluarga, atau terlihat tidak terlibat dengan apa pun, itu bisa menjadi tanda bahwa mereka membutuhkan koneksi dan dukungan emosional lebih dari orangtua.

5. Sering Meledak atau Tantrum

Tantrum adalah sinyal umum bahwa anak merasa kewalahan dan butuh perhatian lebih, terlebih pada balita dan anak prasekolah. Anak belum memiliki kemampuan untuk mengelola emosi besar mereka, sehingga tantrum bisa menjadi cara mereka menyampaikan kebutuhan.

6. Mengeluh Terkait Fisik

Beberapa anak menunjukkan kebutuhan perhatian melalui keluhan fisik seperti sakit perut, sakit kepala, atau tidak nafsu makan. Ini bisa menjadi cara mereka meminta perhatian tanpa menyampaikannya secara langsung.

7. Munculnya Perilaku Regresif

Anak yang sebelumnya mandiri bisa kembali meminta bantuan untuk memakai baju atau kembali sering terbangun pada malam hari. Perilaku regresif ini sering kali merupakan sinyal bahwa mereka membutuhkan kedekatan ekstra.

8. Tidak Merespons Teguran

Jika anak terus mengulang perilaku buruk meski sudah ditegur, itu bisa jadi cara mereka mencari interaksi. Perhatian negatif lebih baik daripada tidak diperhatikan sama sekali. Anak belajar bahwa “kalau aku memukul kakakku, ibu bicara padaku.”

9. Menjadi Sangat Lengket atau Manja

Jika anak tiba-tiba selalu ingin bersama orangtua dan sulit dilepaskan, ini bisa menjadi tanda jelas bahwa mereka membutuhkan perhatian lebih. Keinginan untuk selalu dekat adalah sinyal umum bahwa mereka sedang haus perhatian.

Cara Memberikan Perhatian yang Dibutuhkan Anak

Untuk membantu anak merasa diperhatikan, orang tua bisa melakukan beberapa langkah berikut:

  • Sisipkan di sela aktivitas

    Legere menyarankan rutinitas check-in singkat namun konsisten. Tidak perlu momen besar, lewat kegiatan kecil seperti menemani anak makan bersama, ikut dalam aktivitas kecil yang mereka suka, atau mengajak mereka ikut berbelanja sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan koneksi anak.

  • Berikan pujian positif

    Groben menyarankan memberi pujian spesifik ketika anak melakukan hal baik. Contohnya, “Ibu suka sekali kamu mendorong kursinya dengan hati-hati.”

  • Jauhkan gadget saat bersama anak

    Anak sangat peka ketika orangtua lebih fokus ke ponsel. Legere mengatakan, meluangkan waktu tanpa distraksi elektronik membuat anak merasa dilihat dan didengar. Manfaatkan waktu ini untuk mengenal mereka lebih baik dan tunjukkan bahwa anda ada di sini, hadir, dan selalu siap mendukung mereka.

Hal yang Sebaiknya Di Hindari

Allovio mengingatkan agar orangtua tidak menghukum anak ketika mereka meluapkan emosinya secara penuh. Menyuruh anak ke kamar atau memberikan gawai mungkin menenangkan sesaat, tetapi tidak memberi mereka cara untuk menghadapi emosi di lain waktu. Sebaliknya, pastikan orangtua tenang sebelum menghampiri anak. Sampaikan apa yang sedang terjadi, misalnya, “Kamu banyak menangis dan suaramu keras. Ibu bisa lihat kamu sedang sangat marah.” Setelah itu, bantu mereka bernapas dan dengarkan perasaannya.

Untuk anak yang lebih besar, Legere menekankan pentingnya menghargai batasan. Menggeledah barang mereka bisa merusak kepercayaan dan membuat mereka makin tertutup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *