Kampoeng Baca Pelangi Sukses Gelar Drama “Putri Cilinaya” sebagai Bentuk Pelestarian Budaya Lokal
Pementasan drama “Putri Cilinaya” oleh Kampoeng Baca Pelangi (KBP) di Desa Selat, Kecamatan Narmada, Mataram, berhasil mencuri perhatian ratusan warga. Pertunjukan ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi momen penting dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya Sasak. Dengan durasi sekitar 40 menit, drama ini mengangkat kisah klasik yang sarat pesan moral tentang keteguhan dan keadilan.
Antusiasme Warga dan Peran KBP dalam Pendidikan Seni
Lapangan Merce Kebun Timuq, Desa Selat, dipenuhi oleh warga yang hadir untuk menyaksikan pementasan drama tersebut. Mereka datang dari berbagai dusun sekitar Narmada, membawa keluarga dan tikar untuk duduk bersama. Ini menunjukkan antusiasme yang luar biasa terhadap pertunjukan yang disajikan oleh KBP.
Kepala Desa Selat, Sabudi, S.Sos., menyampaikan apresiasi tinggi kepada KBP. Menurutnya, komunitas ini telah menjadi pusat gerakan pendidikan dan seni di desa. “Peran KBP sangat besar dalam memajukan Desa Selat, baik dalam literasi, seni, maupun pengenalan desa ke publik,” ujarnya.
Drama yang Mengangkat Nilai-nilai Moral
Drama “Putri Cilinaya” mengisahkan kisah seorang putri bangsawan yang harus menghadapi pengasingan dan ketidakadilan. Cerita ini menyentuh hati penonton dengan pesan-pesan moral tentang kesetiaan, pengkhianatan, dan keteguhan hati. Roby Mandalika W, sutradara drama ini, menjelaskan bahwa kisah ini bukan hanya tentang masa silam, tetapi juga refleksi nilai-nilai kehidupan yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Sinergi Komunitas, Akademisi, dan Pemerintah
Pertunjukan ini merupakan bagian dari Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2025 yang didukung oleh Direktorat Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Universitas Bumigora. Program ini bertujuan untuk memperkuat peran komunitas melalui seni serta menghidupkan kembali cerita rakyat sebagai sarana edukasi sosial dan budaya.
Rapi Renda, M.Pd., selaku kepemimpinan KBP, menjelaskan bahwa program ini memberikan ruang bagi masyarakat untuk berkarya dan belajar. “Kekuatan komunitas desa sangat terlihat ketika mereka diberi kesempatan untuk berkarya. Kolaborasi ini berjalan optimal,” ujarnya.
Pengalaman Berharga bagi Anggota KBP
Pementasan ini menjadi pengalaman perdana bagi banyak anggota KBP yang baru mengenal dunia teater. Eron, ketua KBP, menjelaskan bahwa anak-anak berlatih dialog, gerak, ekspresi, hingga belajar mengatur panggung. Proses pembelajaran ini sangat berharga bagi mereka.
Selain itu, pertunjukan ini juga menjadi bagian dari perayaan ulang tahun ke-7 KBP. Momentum ini menjadi kesempatan untuk merefleksikan perjalanan komunitas dan memperkuat semangat untuk terus berkarya bagi masyarakat.
Suasana yang Memikat dan Pesan yang Mendalam
Penampilan para pemain yang mengenakan busana khas Sasak, diiringi musik tradisional, memperkuat suasana panggung. Alur cerita dinamis, menghadirkan emosi dari ketegangan hingga keharuan. Penonton tampak larut dalam setiap adegan, hingga saat konflik memuncak, suasana hening menyelimuti lapangan. Ketika cerita berakhir dengan kemenangan nilai kebenaran, tepuk tangan pun menggema.
Roby Mandalika W menegaskan bahwa pesan utama Cilinaya adalah keteguhan dalam menghadapi ujian hidup. Hal ini menjadi pesan penting yang ingin disampaikan melalui drama ini.
Kolaborasi yang Menguatkan Desa
Pentas ini menjadi bukti nyata sinergi antara komunitas, perguruan tinggi, dan pemerintah. Universitas Bumigora berkontribusi dalam pendampingan akademik dan artistik, sementara KBP menggerakkan masyarakat secara langsung. “Kolaborasi ini menjadi contoh ideal dalam pengembangan seni dan literasi di desa,” kata Rapi Renda.
Merawat Tradisi dan Menyemai Harapan
Bagi KBP, pertunjukan ini merupakan langkah penting dalam merawat tradisi Sasak dan menumbuhkan kepercayaan diri generasi muda. Opik, salah satu penggagas KBP, menjelaskan bahwa cerita rakyat harus terus diceritakan ulang agar tidak hilang ditelan zaman.
Melalui pementasan ini, Desa Selat menunjukkan bahwa kekuatan budaya desa dapat menjadi fondasi masa depan, selama diberi ruang untuk tumbuh bersama masyarakatnya.











