Penemuan Pohon Kepur yang Nyaris Punah di Kota Kapur
Pohon kepur, atau yang dikenal juga sebagai pohon kampar, memiliki diameter sekitar 50 sentimeter dan tinggi yang menjulang meski usianya masih tergolong muda. Pohon ini menjadi sumber getah untuk pembuatan kapur barus, namun kini nyaris punah. Temuan pohon kampar ini dilakukan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah V Jambi di Desa Kota Kapur, Kecamatan Mendobarat, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Penemuan ini memperkuat kembali sejarah daerah tersebut sebagai pusat peradaban kuno dan penghasil kapur barus dunia.
Ali Akbar, juru pelihara situs Kota Kapur sejak tahun 2011, mengungkapkan bahwa pohon kepur pernah digunakan sebagai bahan utama dinding rumah oleh masyarakat setempat. Ia menjelaskan bahwa kulit batangnya dibelah dan melalui proses pengeringan sebelum digunakan sebagai bahan bangunan.
“Orang tua-tua kami dulu memanfaatkan batang kekapur sebagai bahan utama dinding rumah. Jadi kulit batangnya dibelah, diambil, lalu melalui proses pengeringan terlebih dahulu baru dijadikan dinding rumah. Saya sendiri pernah merasakan tinggal di rumah berdinding batang kekapur itu,” kata Ali Akbar.
Karakteristik Pohon Kepur
Secara visual, bentuk batang pohon kepur menyerupai pohon durian, bukan jenis tanaman serat seperti rotan atau nipah. Batangnya lurus dan kuat, dengan akar yang panjang serta keras dan tidak berserabut. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai batang kepur.
Dari segi ukuran, pohon kepur termasuk pohon hutan berukuran besar dan berumur panjang. Dulu, diameter batangnya bisa mencapai ukuran yang sangat besar, bahkan ada yang diameternya sebesar drum. Umurnya puluhan tahun, sama seperti durian, bahkan mungkin lebih.
Namun, pohon ini tidak pernah dibudidayakan oleh masyarakat, berbeda dengan pohon karet atau durian yang sengaja ditanam dan dirawat. Pohon kepur tumbuh secara liar di hutan rimba, sehingga ketika terjadi penebangan dalam skala besar pada masa lalu, regenerasi alami pohon ini tidak mampu mengejar laju eksploitasi.
Penebangan Besar-besaran dan Penggunaan Kayu Kepur
Puncak penebangan pohon kepur terjadi sekitar tahun 1990-an, ketika kebutuhan bahan bangunan rumah warga masih sangat bergantung pada kayu lokal. Saat itu, hampir ribuan rumah di Desa Kota Kapur menggunakan kayu kepur untuk dinding. Namun, seiring berkembangnya bahan bangunan modern seperti batako dan papan industri, penggunaan kayu kepur mulai ditinggalkan.
“Sekarang rumah-rumah sudah pakai batako dan papan biasa. Tidak lagi pakai kayu kekapur,” ujarnya.
Temuan Situs Kota Kapur dan Upaya Pelestarian
Penemuan pohon kepur disampaikan oleh Ketua BPK Wilayah V Jambi, Agus Widiatmoko, pada awal Desember lalu. Ia menjelaskan bahwa pohon kampar menjadi bukti nyata bahwa Kota Kapur pernah menjadi sentra produksi komoditas yang diperdagangkan ke berbagai negara pada masa lampau. Ia menegaskan perlunya upaya pelestarian karena pohon yang ditemukan hanya satu batang dan berpotensi punah.
Selain pohon kampar, tim BPK juga menemukan arca, fragmen keramik China, botol kaca kuno, potongan emas, uang emas, manik-manik, hingga batangan emas di situs seluas 154 hektare tersebut. Seluruh artefak kini diamankan di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk penelitian lebih lanjut.
Situs Kota Kapur mencakup permukiman tua di tepi sungai, struktur benteng yang dikelilingi parit, serta pelabuhan kuno. Kawasan berbukit ini juga menjadi sumber air sejumlah aliran sungai. Namun, sebagian wilayah kini berubah menjadi lahan tambang dan perkebunan, sehingga memicu kerusakan lingkungan dan mengancam keberadaan situs.
Agus menilai revitalisasi bersama pemerintah daerah dan masyarakat mutlak diperlukan demi melindungi Kota Kapur sebagai cagar budaya bernilai sejarah tinggi.











