"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Pemulihan jiwa dalam perspektif Islam

Psikologi Agama dalam Perspektif Pendidikan Islam

Buku Psikologi Agama Perspektif Pendidikan Islam karya Prof Dr Syamsu Yusuf menjadi salah satu karya penting yang membahas bagaimana fitrah manusia sebagai makhluk beragama memengaruhi perilaku, kesadaran moral, dan pola hidup yang berorientasi pada kebaikan. Buku ini menempatkan aspek ini sebagai pembukaan utama, menegaskan bahwa manusia secara bawaan adalah homo religious, sebagaimana merujuk pemikiran Mircea Eliade. Ketika fitrah ini berkembang dengan tepat melalui pendidikan, bimbingan, dan lingkungan yang mendukung, maka manusia bukan hanya menjadi beragama, tetapi mampu menghadirkan agama sebagai sumber keteraturan batin, ketenangan hidup, dan orientasi etis dalam hubungan sosial.

Pada bagian pengantar, buku ini menjelaskan bahwa fitrah keberagamaan manusia sudah diikrarkan sejak kesaksian primordial dalam QS. Al Araf ayat 172:

أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ شَهِدْنَا

Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab, Ya kami bersaksi bahwa Engkau Tuhan kami.

Ayat ini menjadi pondasi bahwa kepercayaan spiritual bukan sekadar hasil konstruksi budaya, melainkan bagian dari memori ruhani yang dibawa manusia sejak awal keberadaannya. Pendidikan agama berfungsi untuk membangkitkan kesaksian purba tersebut agar hidup kembali sebagai kesadaran iman dan moral.

Di halaman berikutnya terdapat penjelasan lebih jauh mengenai dua potensi jiwa manusia, yakni takwa yang membawa pada amal saleh serta fujur yang condong pada perilaku buruk. Hal ini dipertegas dalam QS. Asy Syams ayat 8-10:

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا ۝ قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

Allah mengilhamkan kepada jiwa potensi fujur dan takwa. Sungguh beruntung orang yang mensucikannya, dan celakalah orang yang mengotorinya.

Ayat ini menjadi inti psikologi agama, sebab pendidikan Islam bukan menghilangkan hawa nafsu, tetapi mengarahkan dan mengendalikannya agar menjadi energi kebajikan. Namun di sisi lain, buku ini juga jujur bahwa nafsu memiliki kecenderungan destruktif.

QS. Yusuf ayat 53 menegaskan hal itu:

إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ

Sesungguhnya nafsu selalu menyuruh kepada keburukan.

Dari titik ini, psikologi agama tampak bergerak tidak hanya pada pemahaman teori, tetapi pada implementasi pendidikan akhlak, pembiasaan ibadah, suasana keluarga religius, serta pemberian teladan yang konsisten. Bila lingkungan mendukung, fitrah itu tumbuh menjadi akhlak mulia, tetapi bila lingkungan lalai, fitrah bisa rusak dan anak cenderung mengikuti dorongan impulsif hawa nafsu.

Medium Terapis

Berangkat dari kajian yang disampaikan Prof. Dr. Syamsu Yusuf L.N., M.Pd dalam buku ini, maka agama bukan hanya sistem keyakinan, melainkan juga medium terapi psikologis yang dapat menuntun manusia menuju kesehatan mental dan ketenteraman batin. Banyak penelitian yang menguatkan bahwa spiritualitas memiliki peran signifikan dalam meredakan gangguan emosional seperti kecemasan, stres, depresi, hingga rasa kehilangan makna hidup. Zakiah Daradjat (1982), pakar pendidikan Islam dan psikologi, menegaskan bahwa agama mampu menjadi penyembuh gangguan kejiwaan. Semakin dekat seseorang dengan ajaran Tuhan, semakin stabil pula kesehatan psikologisnya, dan semakin mudah ia menghadapi tekanan hidup.

Dalam kitab suci Al Quran, terapi kejiwaan bukan hanya konsep filosofis, melainkan praktik pembinaan batin yang jelas dan terukur. Surah Al Asr dan At Tiin misalnya, menjelaskan bahwa manusia berada dalam kerugian batin jika jauh dari iman, amal saleh, dan saling menasihati dalam kesabaran. Artinya, ketelesapan spiritual akan melahirkan kegelisahan dan kekosongan jiwa. Sementara itu, zikir dan salat disebut sebagai kunci ketenangan, seperti dalam QS Thaha ayat 14:

“Dirikanlah salat untuk mengingat-Ku.”

Mengingat Allah melalui ibadah menjadi proses grounding emosional, memperlambat gejolak mental, serta menata pikiran agar fokus pada hal yang baik.

Doa juga memiliki efek terapeutik. Carrel (1980) menyebut doa sebagai energi penyembuh yang bekerja dalam ranah kejiwaan dan kebadanan. Orang yang membiasakan doa akan mengalami ketenangan berlapis, karena pikiran, rasa, dan batinnya tertambat pada harapan serta kepasrahan kepada Tuhan. William James melihat keimanan sebagai kekuatan yang menyelamatkan individu dari kekacauan batin, seperti jangkar yang menahan perahu dari terpaan badai.

Dengan demikian, agama bukan sekadar ritual formalitas, melainkan terapi jiwa yang hidup, yang menyentuh struktur terdalam kesadaran manusia. Ia menenangkan, meneguhkan, mencerahkan arah hidup, serta menjadi benteng dari tekanan sosial modern yang semakin kompleks. Di tengah meningkatnya gangguan mental di Indonesia, agama adalah ruang kembali, tempat jiwa pulih dan menemukan makna eksistensialnya.

Karya yang Produktif dan Berpengalaman

Buku ini sendiri ditulis oleh akademisi dan pakar psikologi pendidikan-bimbingan dengan pengalaman lebih dari empat dekade mengajar di UPI. Produktif menulis, aktif meneliti, serta dikenal sebagai tokoh yang menempatkan agama sebagai fondasi pembinaan mental dan karakter peserta didik.

Berbagai pandangan ahli dan ayat Al Quran yang ditampilkan dalam buku ini menegaskan bahwa agama bukan lagi sekadar sistem keyakinan tetapi hadir sebagai ruang pemulihan batin, penyangga mental, serta terapi psikologis yang sangat relevan bagi manusia modern yang hidup di tengah tekanan sosial, kompetisi hidup, dan menurunnya rasa tenang. Melalui iman, salat, doa, dan zikir, individu memperoleh jalan untuk menata emosi, meredakan kegelisahan, membangun harapan, serta menumbuhkan daya tahan menghadapi kesulitan. Ketika nilai-nilai spiritual menjadi landasan berperilaku, maka kesehatan mental tidak hanya pulih tetapi tumbuh menjadi lebih matang karena manusia memiliki pusat kembali dan arah yang pasti. Dengan demikian, agama memberi bukan hanya penguatan logika sehat dan akhlak baik, tetapi juga menghadirkan ketenteraman yang tidak dapat diberikan oleh terapi psikologis sekuler semata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *