Ketersediaan Bahan Pokok di Bangka Selatan Aman Jelang Momentum Keagamaan
Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung memastikan ketersediaan bahan pokok di pasar tradisional aman menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN). Meskipun hingga kini masih terjadi kenaikan harga sejumlah komoditas strategis seperti cabai, bawang merah hingga daging ayam. Kenaikan tersebut dipengaruhi faktor musiman serta perubahan jalur pasokan dari daerah penghasil.
Wakil Bupati Bangka Selatan, Debby Vita Dewi mengatakan bahwa secara umum stok bahan kebutuhan pokok di pasar-pasar tradisional masih mencukupi kebutuhan masyarakat. Kendati demikian, terdapat penyesuaian sumber pasokan untuk beberapa komoditas, khususnya cabai, bawang merah dan daging ayam. Kondisi ini dipastikan masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru).
“Untuk ketersediaan stok sampai hari ini, khususnya di pasar masih aman. Hanya saja pasokannya ada yang dialihkan, misalnya bawang merah yang tadinya kita pasok dari Sumatera Barat, sekarang dialihkan ke Brebes,” kata dia.
Menurutnya, kenaikan harga yang terjadi saat ini bersifat musiman dan tidak berlangsung sepanjang tahun. Namun demikian, kondisi tersebut tetap berdampak pada perilaku belanja masyarakat, terutama rumah tangga yang sangat bergantung pada komoditas seperti cabai dan bawang. Ia mengakui, tingginya harga sejumlah bahan pokok mulai mempengaruhi daya beli masyarakat.
Dari hasil pemantauan di lapangan, jumlah pembeli di pasar cenderung menurun seiring kenaikan harga kebutuhan harian. Apalagi untuk cabai, kebanyakan pedagang mengambil dari distributor. Sehingga ketika harga di distributor naik, dampaknya langsung terasa di tingkat konsumen. Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan untuk mengambil langkah antisipatif guna menjaga stabilitas harga dan pasokan.
“Salah satunya dengan memperkuat peran Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) melalui kolaborasi lintas sektor,” jelas Wabup.
Koordinasi yang baik antara pemerintah daerah dan distributor menjadi kunci dalam menjaga kelancaran pasokan serta mencegah lonjukan harga yang tidak terkendali. Pemerintah daerah terus melakukan pemantauan langsung di lapangan untuk melihat kondisi riil daya beli masyarakat.
Meski terjadi penurunan jumlah pembeli, Debby berharap langkah-langkah kecil yang dilakukan pemerintah dapat memberikan dampak positif dalam waktu dekat.
Lebih lanjut, Debby juga menyinggung dampak kenaikan harga pangan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, MBG merupakan salah satu kebutuhan penting yang justru diharapkan dapat menjadi penggerak bagi sektor pertanian dan peternakan lokal. Pemerintah akan terus melakukan pengawasan harga dan pasokan bahan pokok, terutama menjelang momentum akhir tahun.
“Jadi program MBG seharusnya memberi dampak positif bagi para petani maupun peternak lokal. Sehingga bisa menggerakkan perekonomian masyarakat,” paparnya.
Menghadapi sejumlah momentum besar secara berdekatan, pemerintah daerah menyampaikan bahwa produksi pangan lokal cukup menjanjikan untuk menopang pasokan daerah. Berdasarkan data produksi padi Oktober–Desember 2025 mencapai 5.478,93 ton. Lalu, produksi padi hingga akhir Desember berada pada kisaran 206 ton sebagai cadangan. Stok serapan Perum Bulog hingga Desember mencapai 2.194,47 ton, menjadi buffer utama menghadapi lonjakan konsumsi.
Kemudian, potensi panen cabai sebesar 46,79 ton, terdiri dari 1,20 ton hasil pekarangan pangan bergizi dari 15 kelompok, dan 45,59 ton panen Desember 2025. Sementara produksi telur ayam mencapai 12,28 ton. Produksi ayam potong sebesar 173,69 ton. Data ini, menjadi indikator bahwa ketersediaan awal aman. Namun tekanan permintaan pada momentum keagamaan tetap perlu dikelola melalui intervensi pasar, distribusi, serta pengawasan yang lebih intensif.
“Untuk stok tersebut dipastikan aman hingga tiga bulan ke depan. Bahkan hingga menjelang Idulfitri tahun 2026,” pungkas Debby.
Harga Berangsur Turun
Tumpukan cabai di lapak-lapak pedagang kembali menggunung di Pasar Terminal Toboali. Cabai merah dan rawit mulai tersusun di lapak para pedagang. Warnanya menyala kontras dengan alas meja kayu yang mulai usang. Sebagian pedagang tampak sibuk menata ulang dagangan mereka.
Harga yang masih tinggi membuat transaksi berjalan lebih lambat. Terlihat pembeli menawar lama, bahkan memilih membeli dalam jumlah lebih sedikit. Di sudut pasar, aroma pedas khas cabai bercampur dengan hiruk-pikuk suara pedagang yang saling menawarkan dagangan, menandai bahwa pasokan mulai melimpah meski daya beli belum sepenuhnya pulih.
Widodo (46) seorang pedagang bumbu dapur bilang saat ini harga cabai sudah mulai mengalami penurunan walaupun tidak signifikan. Harga cabai rawit dan cabai merah kini sudah berada kisaran harga Rp90.000 per kilogram dari sebelumnya mencapai Rp95.000-Rp100.000 per kilogram. Penurunan terjadi sejak kemarin dan masih berlangsung hingga hari ini.
“Harga cabai sudah turun walaupun tidak banyak. Saat ini harga cabai besar maupun cabai rawit kisaran harga Rp90.000 per kilogram,” katanya.
Widodo menyebut penurunan harga ini lantaran stok cabai lokal maupun dari distributor mulai masuk ke pedagang. Secara tidak langsung hal ini berdampak terhadap menurunnya harga cabai di pasar. Saat ini harga kebutuhan pokok yang belum mengalami penurunan yakni harga bawang merah yang sebelumnya berada di kisaran Rp45.000 per kilogram, kini naik Rp10.000 menjadi Rp55.000 per kilogram.
“Sementara bawang putih masih relatif stabil di harga Rp35.000 per kilogram,” ucap Widodo.
Senada diungkapkan oleh Yuk Ndut (33) seorang pedagang daging ayam. Diakuinya harga ayam sudah kembali turun, khususnya untuk daging ayam bersih dijual dengan harga Rp35.000 per kilogram dari semula Rp38.000-Rp40.000 per kilogram. Sedangkan harga daging ayam bulat dijual dengan harga Rp33.000 per kilogram.
“Alhamdulillah, harga daging ayam sudah turun sejak kemarin. Sudah mulai stabil,” sebutnya.
Dirinya berharap harga komoditas ayam maupun bumbu dapur lainnya terus mengalami penurunan. Dengan demikian, daya beli masyarakat semakin meningkat. Pasalnya, sudah hampir selama tiga pekan terakhir daya beli masyarakat mengalami penurunan karena tingginya harga kebutuhan pokok.











