"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Budaya  

Sahabat Ansor, PMII, dan Tokoh NU Kenang 360 Hari Wafatnya H. Tonang

Kehadiran yang Tulus dalam Mengenang Haji Muhammad Tonang

Pada malam hari Sabtu, 19 Desember 2025, di Masjid Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Al Imam Ashim, Manggala, Makassar, sekitar 100-an sahabat Haji Muhammad Tonang MAg (1974-2024) hadir untuk menghadiri acara haul peringatan kematiannya. Acara ini juga dihadiri oleh sekitar 160-an santri huffadz. Mereka datang dengan penuh rasa hormat dan kepedulian terhadap sosok yang telah tiada.

Haul adalah tradisi yang umum dilakukan oleh organisasi Nahdlatul Ulama (NU) untuk mengenang kiai, tokoh agama, atau sosok penting yang telah meninggal dunia. Dalam acara ini, agenda utama meliputi tauziyah, yasinan, dan tahlilan. Acara tersebut bertepatan dengan tanggal 1 Rajab 1447 Hijriyah, yang menjadi momen penting dalam kalender Islam.

Inisiator dari haul pertama ini adalah lembaga yang pernah dipimpin oleh almarhum Tonang, yaitu Pengurus Wilayah Gerakan Pemuda (PW GP) Anshor Sulsel. HM Rusdi Idrus, Ketua PW GP Anshor Sulsel, menyampaikan bahwa acara ini merupakan bentuk penghargaan atas nilai-nilai perjuangan almarhum di NU.

Sebagian besar hadirin berasal dari GP Anshor, pengurus dan sahabat dari ikatan alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sulsel. Acara ini juga menjadi ajang silaturahim antara para peserta dan para tokoh yang pernah bekerja sama dengan almarhum.

Kenangan yang Terjalin Selama Masa Hidup Tonang

Tonang meninggal pada hari Kamis, 19 Desember 2024, di Atria Serpong Hotel, Tangerang, Banten. Saat itu, ia sedang menjadi peserta dalam Evaluasi Capaian Kinerja Kanwil Provinsi Kementerian Agama se-Indonesia. Menurut HM Iqbal Ismail, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Sulsel, Tonang masih melakukan komunikasi via WhatsApp sebelum meninggal.

Ketika itu, Iqbal masih menjabat sebagai Kepala Bidang Pembinaan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag Sulsel. Sementara itu, sesepuh PMII Sulsel sekaligus mantan Staf Ahli Kemenag Sulsel, M Bachtiar MA Saleh, juga memiliki banyak kenangan tentang akhir hayat Tonang.

Dikisahkan bahwa Rabu, 18 Desember 2024, malam harinya, Tonang memberi kabar bahwa Kemenag Sulsel mendapat penghargaan kanwil berkinerja terbaik tahun 2024 dari 33 kanwil. Kabar ini langsung disebar ke sejumlah sahabat dan group WA cyrcel NU, Ansor, dan PMII.

Penampilan yang Rapi dan Keakraban yang Tak Terlupakan

Acara yang dihadiri Tonang menjadi ajang evaluasi dan penilaian tahunan. Penyelenggaranya adalah Biro Organisasi dan Tata Laksana serta Biro Perencanaan dan Penganggaran Kemenag RI. Hasil evaluasi tersebut selanjutnya menjadi rujukan kementerian untuk alokasi prioritas program, anggaran, dan insentif bagi lembaga di lingkup Kemenag.

Bachtiar mengenang bahwa Minggu, 15 Desember 2024, sekitar 10 jam sebelum Tonang terbang ke Tangerang, mereka sempat ngopi bersama. Malam itu, Tonang tampil rapi jali, berjas, berkemeja, bersarung, dan berkopiah Indonesia. Padahal, menurut Bachtiar, sejak dikenal saat mahasiswa, Tonang selalu tampil apa adanya.

Bagi Tonang, pakaian hanya pelengkap silaturahim. Intinya adalah bersalaman, bertegur sapa, dan diskusi. “Tapi malam itu, dia tampil rapi penuh. Tatapannya tajam, bicaranya tetap santun, dan selalu jadi pendengar baik.”

Silaturahim yang Berakhir dengan Kehilangan

Malam itu, Tonang mengajak seniornya untuk silaturahim ke kediaman Ketua PMII Sulsel pertama, Prof Dr KH M Kadir Ahmad MA di Kompleks Perumahan Dosen UMI, Racing Center. Di rumah guru besar UIN itu, Tonang dan Bachtiar datang tanpa hajat. “Hajatnya ya murni silaturahim, dan itulah silaturahim terakhir kami, ternyata,” ujar Bachtiar dengan bola mata berkaca-kaca.

Di bagian lain kenangannya, Tiar mengisahkan bahwa ajal sudah menemani Tonang lebih dekat saat istrinya, Hj Nurlina (49), mengirim pesan WA. Selasa, 17 Desember 2025, malam, Wakasek Kurikulum di SMA 8 Makassar itu, bertanya ke suaminya; “Kapanki balik. (ke Makassar)?”

Tonang menjawab, “tidak balik ma..!” Dan jawaban Tonang ke ibu tiga anak itu, bukan kelakar. Sehari setelahnya, jiwa dan nyawa Tonang sungguh tak kembali lagi ke Makassar. Istri hanya menjemput dan menemukan raga belaka di bandara.

Kenangan dari Tokoh dan Rekan yang Tercinta

Dalam tauziyah singkatnya, sebelum Yasinan, pimpinan ponpes Tahfidzul Quran Al Imam Ashim Makassar, KH Syam Amir Yunus (48), juga mengenang Tonang sebagai sahabat dengan kepedulian nyata. Banyak atensi, aksesibilitas, dan bantuan tokoh dan masyarakat ke pondok, karena Tonang.

“Almarhum terakhir ke pondok ini saat wisuda, sebulan sebelum meninggal,” ujar KH Syam Amir yang juga Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Jamiyatul Qurra Wal Huffadz (JQH) NU Sulsel.

Keakraban mereka terbangun saat masih di pondok. Saat nyantri di Pondok Pesantren Al Junaidiyah Biru, Watampone, Tonang seangkatan dengan istri KH Syam Amir. “Mereka satu kelas di Ponpes Biru,” katanya.

Zainuddin Endi MAg (52), dan Dr Zulhasary Mustqfa MAg (51), teman sekelas Tonang di Ponpes Biru, juga lebih banyak mengenang almarhum dengan takzim dan linangan air mata. “Kita memang baru sadar, kita mencari kehilangan saat sahabat itu telah tiada.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *