Masalah Distribusi Makan Bergizi Gratis di SMPN 1 Merangin
Beberapa siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Merangin dilaporkan tidak menerima Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan oleh Sentra Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Merangin, Jumat (9/1/2026). Informasi ini didapatkan dari salah satu siswa yang menyebutkan bahwa terdapat dua kelas yang tidak mendapatkan ompreng MBG pada hari tersebut.
Kepala SMPN 1 Merangin, Ismalinda, membenarkan kejadian tersebut saat ditemui di ruang kerjanya. Ia menjelaskan bahwa pembagian MBG kepada seluruh siswa sekolah tersebut memang dilaksanakan pada hari Jumat kemarin.
Program MBG di SMPN 1 Merangin
Koordinator penerima MBG SMPN 1 Merangin, Anik, menjelaskan bahwa sekolahnya telah menerima program MBG sejak Desember 2025 sebanyak dua kali. Sementara pada 2026, MBG kembali diterima mulai Kamis, 8 Januari 2026.
“Ya, seluruh murid kami di SMPN 1 Merangin ini telah menerima MBG sejak bulan Desember 2025 kemarin sebanyak dua kali, dan di tahun 2026 ini, murid kami mendapatkan MBG kembali mulai dari hari kamis tanggal 8 Januari 2026 kemarin,” kata Anik.
Menurut Anik, dalam satu pekan, siswa menerima MBG sebanyak enam kali, namun khusus Sabtu digabungkan pada Jumat.
“Dalam seminggu murid kami mendapatkan MBG sebanyak 6 kali full, cuma untuk yang di hari Sabtu itu didobelkan di hari Jumat. Jadi itu terhitung murid kami mendapatkan MBG selama 5 hari dalam seminggu,” jelas Anik.
Ia juga menjelaskan bahwa dalam sebulan siswa memperoleh MBG penuh selama empat minggu atau sekitar 20 kali.
Penyebab Kekurangan Ompreng MBG
Anik mengungkapkan bahwa kekurangan ompreng MBG terjadi karena pengiriman dobel. Setiap siswa mendapatkan 1 omprengan dan 1 paperbag. Namun, paperbag seharusnya diberikan di hari Sabtu, tetapi diberikan dobel di hari Jumat.
“Nah, yang kekurangannya itu di omprengannya, ada beberapa kelas yang tidak mendapatkan omprengan, tetapi mereka dapat paperbag-nya itu,” ungkap Anik.
Ia menjelaskan bahwa pihak SPPG telah memberikan penjelasan bahwa kekurangan ompreng baru diketahui saat distribusi terakhir. Paperbag tersedia cukup, sementara ompreng kurang.
“Berdasarkan penjelasan yang mengantarkan omprengan MBG kepada kami, itu mungkin ada kekhilafan salah menghitung omprenganya, karena terlalu banyak jumlahnya, tapi pihak SPPG sudah kami konfirmasi dan membenarkan bahwa ada kesalahan dalam penghitungan jumlah omprengan yang akan diberikan.”
Alasan Siswa Dipulangkan Lebih Awal
Anik menjelaskan alasan siswa yang belum menerima ompreng dipulangkan lebih awal. “Mengapa siswa yang belum mendapatkan omprengan di beberapa kelas itu kami suruh pulang, dikarenakan kan hari Jumat. Hari Jumat itu jam belajar kita sebelum salat jumat sudah pulang. Tidak memungkinkan juga siswa menunggu hingga sampai omprengannya itu sampai ke sekolah, karena waktu itu sudah masuk jam pulang anak sekolah.”
Ia juga takut jika siswa ditahan, orang tua akan bertanya kenapa anaknya pulang terlambat.
Penjelasan dari Kepala Dapur SPPG Merangin
Kepala Dapur SPPG Merangin, Dendi Tri Cahyono, menjelaskan bahwa kekurangan ompreng terjadi akibat miskomunikasi antara bagian pengemasan dan distribusi.
“Ya, benar di hari jumat kemarin, mengapa jumlah omprengan MBG itu kurang, dikarenakan adanya miss komunikasi antara pihak packing dan pihak distribusi MBG di SPPG kami.”
Ia mengatakan pihak sekolah menyampaikan keluhan sekitar pukul 11.20 WIB, dengan kekurangan sebanyak 134 ompreng. “Pada saat itu pihak distribusi sudah mulai mengantarkan omprengan MBG tersebut ke sekolah. Pada saat itu pihak sekolah sudah menerima, kemudian saya dapat pengaduan dari pihak sekolah sekira pada hari jumat pukul 11.20 WIB, bahwa jumlah omprengan MBG yang dikirimkan ke sekolah SMPN 1 Merangin itu kurang, kurangnya sebanyak 134 omprengan MBG.”
Dendi memastikan kekurangan tersebut akan diganti pada hari Senin sesuai jumlah yang belum diterima.
“Untuk ke depan kami akan mengevaluasi dan memperbaiki kembali proses manajemen penyaluran MBG dari SPPG kami, bagaimana distribusi MBG ke sekolah-sekolah di Kabupaten Merangin dapat berjalan dengan lancar, terutama di bagian packing dan bagian distribusi agar penyaluran kepada penerima manfaat berjalan secara maksimal dan tepat jumlah.”
Selain itu, ia juga berharap pihak sekolah dapat mengedukasi siswa agar menghabiskan makanan MBG demi terpenuhinya kebutuhan gizi secara optimal.











