"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Apa Itu Penipuan Cinta dan Cara Menghindarinya? Ini Penjelasan Psikolog

Perkembangan Hubungan Asmara di Era Digital

Di era digital, hubungan asmara tidak lagi terbatas pada pertemuan tatap muka. Media sosial dan aplikasi percakapan memberikan ruang bagi siapa pun untuk berkenalan, membangun kedekatan, bahkan merencanakan masa depan bersama. Namun, di balik kemudahan itu, terselip ancaman serius yang dikenal dengan istilah love scamming. Modus penipuan ini menyamar sebagai hubungan romantis dan sering kali berakhir dengan kerugian finansial serta luka emosional.

Fenomena ini terus meningkat seiring maraknya interaksi daring, dengan korban datang dari berbagai latar belakang usia, gender, dan profesi. Lantas, apa sebenarnya love scamming, bagaimana pola kerjanya, dan langkah apa yang bisa dilakukan agar tidak terjebak?

Apa Itu Love Scamming?

Berdasarkan keterangan Pusiknas Bareskrim Polri, love scamming merupakan bentuk penipuan yang menyaru sebagai hubungan asmara atau romansa di ruang digital. Pelaku membangun hubungan yang tampak tulus melalui rayuan dan perhatian intens hingga korban terikat secara emosional. Setelah kepercayaan terbentuk, pelaku mulai meminta uang dengan berbagai dalih keadaan darurat, mulai dari biaya perjalanan, pengobatan, hingga pengiriman hadiah, lalu menghilang setelah tujuan finansialnya tercapai.

Meski istilah love scamming populer di era digital, praktik ini sejatinya telah ada sejak lama, seiring manusia mengenal relasi dan penipuan berbasis perasaan. Bedanya, perkembangan teknologi membuat modus ini kian masif. Pelaku memanfaatkan media sosial seperti Instagram, Facebook, Telegram, dan WhatsApp dengan identitas palsu, menggunakan foto menarik milik orang lain serta profil yang tampak meyakinkan. Komunikasi biasanya dibangun secara intens lewat pesan teks, sedangkan panggilan suara atau video dihindari atau dilakukan dengan wajah disamarkan demi menjaga kebohongan tetap tertutup.

Cara Menghindari Love Scamming

Psikolog Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, menegaskan bahwa menghadapi modus ini tidak cukup hanya bermodal kewaspadaan teknologi, tetapi juga memerlukan daya tahan psikologis yang kuat. “Menghindari love scam harus menggabungkan logika digital dengan ketahanan emosional. Sindikat ini bekerja sangat profesional, menggunakan skenario yang rapi dan meyakinkan. Karena itu, setiap orang perlu memiliki protokol keamanan pribadi,” kata Danti saat dihubungi.

Menurutnya, penipu tidak bekerja secara acak. Mereka mempelajari pola emosi korban, lalu membangun hubungan yang tampak tulus sebelum akhirnya masuk ke fase eksploitasi. Berikut ini cara yang bisa dilakukan agar terhindar dari love scamming, di antaranya:

  1. Verifikasi Identitas Tanpa Kompromi

    Langkah awal yang paling krusial adalah tidak mudah percaya pada profil daring yang terlihat sempurna. Danti menyarankan masyarakat bersikap layaknya detektif digital sejak awal perkenalan. “Foto profil harus diverifikasi. Lakukan pencarian gambar terbalik. Kalau satu foto muncul di banyak akun atau berasal dari foto stok, itu hampir pasti penipuan,” ujarnya. Ia juga mengingatkan pentingnya menelusuri jejak media sosial lintas platform. Akun palsu umumnya minim interaksi nyata, jumlah pengikut tidak wajar, atau baru dibuat. Uji lain yang kerap dihindari penipu adalah panggilan video. “Alasan klasik seperti kamera rusak atau sinyal buruk patut dicurigai. Kalau video call dilakukan, tetap waspada terhadap kemungkinan manipulasi visual,” kata Danti.

  2. Aturan Tegas Soal Uang

    Aspek keuangan, menurut Danti, adalah benteng terakhir yang tidak boleh ditembus dalam kondisi apa pun. Ia menekankan pentingnya menerapkan prinsip tanpa kompromi. “Buat aturan tegas, jangan pernah mengirim uang kepada orang yang belum pernah ditemui secara langsung, apa pun alasannya,” ujarnya. Cerita darurat, mulai dari kecelakaan hingga masalah keluarga, sering digunakan sebagai senjata untuk menekan empati korban. Permintaan transfer melalui kripto, transfer internasional, atau gift card juga menjadi tanda bahaya. Selain itu, Danti mengingatkan agar korban tidak pernah membagikan data sensitif. “Identitas pribadi, akses perbankan, atau konten intim bisa berubah menjadi alat pemerasan ketika korban mulai curiga dan ingin mundur,” katanya.

  3. Waspadai Pola Manipulasi Emosional

    Love scamming bekerja dengan pola psikologis yang relatif konsisten. Salah satu tanda paling umum adalah love bombing, yakni ungkapan cinta dan rencana masa depan yang datang terlalu cepat. “Jika dalam satu atau dua minggu sudah bicara soal pernikahan dan masa depan, itu perlu dicurigai. Hubungan yang terlalu indah sering kali tidak nyata,” ujar Danti. Penipu juga kerap mengajak korban berpindah dari aplikasi kencan ke aplikasi pesan pribadi agar percakapan tidak terpantau. Setelah kepercayaan terbentuk, drama kecil akan dimunculkan secara bertahap hingga akhirnya berkembang menjadi krisis besar yang membutuhkan bantuan finansial.

  4. Libatkan Orang Ketiga

    Salah satu kekuatan utama penipu adalah menciptakan rasa eksklusivitas yang membuat korban merasa memiliki rahasia istimewa berdua. Untuk mematahkan pola ini, Danti menyarankan korban melibatkan orang lain. “Ceritakan hubungan daring kepada teman atau keluarga yang berpikir kritis. Orang luar sering kali bisa melihat kejanggalan yang tidak kita sadari karena sedang terlibat emosi,” katanya. Ia juga mendorong korban agar tidak hanya memblokir akun mencurigakan, tetapi juga melaporkannya ke platform terkait. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah jatuhnya korban berikutnya. “Love scam hidup dari emosi. Cara terbaik melawannya adalah mengembalikan kendali pada akal sehat dan realitas sosial yang nyata,” pungkas Danti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *