Kehidupan Seorang Perajin yang Membuat Patung Macan Putih Viral
Patung Macan Putih di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, kini menjadi ikon baru yang ramai dikunjungi warga. Namun, di balik kepopulerannya, ada kisah menarik tentang sosok sederhana yang menciptakan patung tersebut. Sosok itu adalah Suwari (60), seorang perajin patung yang akrab disapa Mbah Suwari.
Mbah Suwari menceritakan awal mula pembuatan patung tersebut. Awalnya, ia bertemu dengan Kepala Desa Kunjang, Safi’i, di sebuah warung. Saat itu, Safi’i menanyakan kesanggupannya membuat patung macan. Ia langsung menyatakan siap mengerjakan, asalkan material sudah tersedia.
“Saya tanya mau ditaruh di mana, katanya di pertigaan Desa Balongjeruk. Saya bilang bisa kapan saja asal material siap,” ujar Suwari mengenang awal proses pembuatan patung, Senin (19/1/2026).
Tiga hari setelah pertemuan tersebut, Suwari mulai menggarap patung dengan menyiapkan berbagai peralatan dan bahan seperti pasir, semen, besi, kawat, ayakan hingga cat. Proses pengerjaan patung Macan Putih memakan waktu sekitar 18 hari hingga rampung tepatnya pada pertengahan Desember 2025 lalu.
Untuk jasanya, Suwari mengaku hanya menerima upah Rp 2 juta dari Kepala Desa. Sebelumnya, ia juga sempat diberi sketsa oleh Safi’i tentang bentuk macan yang diinginkan, yakni macan putih dengan mulut tertutup agar tidak terkesan menakutkan bagi pengguna jalan yang melintas di pertigaan tersebut.
“Awalnya gambarnya macan dengan mulut mengaung, tapi Pak Lurah minta ditutup supaya tidak menakuti pengendara,” kata Suwari.
Menariknya, Suwari mengaku tidak mengetahui jika patung buatannya itu viral di media sosial. Ia baru mengetahui kabar tersebut tiga hari setelah patung selesai secara sempurna.
“Saya bangga mendengarnya. Kalau ada yang mau memberi uang ya saya terima, kalau tidak ya tidak apa-apa. Yang penting patung ini bermanfaat,” tuturnya.
Sejak viral, Suwari mengaku mulai kebanjiran pesanan pembuatan patung dari berbagai daerah. Salah satunya pesanan patung naga dari Desa Cangkringmalang Kecamatan Gudo Kabupaten Jombang. Sebelumnya, ia juga pernah membuat patung Semar, Gareng, dan Petruk.
“Meski sekarang ramai pesanan, saya tidak mematok harga lebih mahal. Insyaallah saya tetap paling murah dan laris,” ungkapnya dengan nada rendah hati.
Dana Pribadi untuk Pembuatan Patung Macan Putih
Sementara itu, Kepala Desa Balongjeruk Safi’i menjelaskan bahwa pembangunan patung Macan Putih murni berasal dari dana pribadinya, bukan dari Dana Desa. Total biaya yang ia keluarkan mencapai Rp 3,5 juta, terdiri dari Rp 2 juta untuk jasa pembuatan patung dan Rp 1,5 juta untuk material.
“Saya pribadi yang membiayai. Tidak ada kaitannya dengan Dana Desa,” tegas Safi’i.
Dia menjelaskan, ide pembangunan patung tersebut berangkat dari cerita para tokoh masyarakat dan tokoh agama setempat tentang legenda macan putih yang diyakini sebagai danyang atau penjaga desa sejak zaman dahulu. Cerita itu kemudian dibahas dalam musyawarah desa hingga disepakati Macan Putih dijadikan ikon Desa Balongjeruk.
“Banyak usulan ikon, ada yang ingin gajah, ada juga macan. Tapi akhirnya disepakati macan putih karena sesuai legenda desa,” jelas Safi’i.
Safi’i juga menyampaikan permohonan maaf apabila keberadaan patung tersebut menimbulkan pro dan kontra di dunia maya. Ia justru berterima kasih atas perhatian dan masukan masyarakat demi perbaikan ikon desa ke depan.
“Terima kasih atas semua atensi, komentar, dan kritik. Kami berharap ikon ini bisa terus diperbaiki,” ucapnya.
Dampak Ekonomi dari Patung Macan Putih
Tak hanya menjadi ikon visual, keberadaan Patung Macan Putih juga membawa dampak ekonomi bagi warga sekitar. Salah satunya dirasakan oleh Ujang, pedagang es cincau asal Tasikmalaya, Jawa Barat yang telah berjualan di lokasi tersebut selama delapan tahun.
“Alhamdulillah sejak ada patung ini jadi ramai, berkah buat UMKM. Semua jadi meningkat,” kata Ujang.
Ujang mengaku sebelum patung viral, pedagang di lokasi tersebut hanya berjumlah tiga orang. Kini, setelah ramai dikunjungi, jumlah pedagang bertambah dan omzet pun ikut naik, terutama saat akhir pekan dan hari libur.
“Biasanya naik sekitar 50 persen, sekarang bisa sampai 80 persen,” ujarnya.
Ujang juga menyebut Patung Macan Putih memiliki daya tarik tersendiri karena dinilai unik dan mampu menarik pengunjung dari berbagai daerah. Harapannya, ikon desa tersebut bisa terus dijaga agar memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
“Semoga patung ini bisa bertahan lama dan UMKM di sini juga bisa menjaga kebersihan lingkungannya,” pungkas Ujang.











