Pengalaman Siswa Sekolah Rakyat di Surabaya
Abel Azarifa, seorang siswi kelas X SMA dari Kapasari, Surabaya, mengakui bahwa awalnya ia merasa tidak kuat hidup jauh dari rumah. Seperti banyak anak lain yang baru pertama kali masuk sekolah berasrama, Abel sempat nekat kabur dari asrama. Tidak sekali, setidaknya empat kali ia diam-diam mencoba pulang tanpa izin. Namun, semua usahanya selalu gagal karena dicegat satpam dan ketahuan guru.
“Yang lebih nekat dari saya ada. Jadi dia kabur pesan ojek online, tapi uangnya cuma cukup sampai area kampus. Jadi pulang dilanjut jalan kaki, besoknya disuruh balik,” katanya.
Abel adalah salah satu dari 98 murid Sekolah Rakyat di Surabaya. Sekolah rintisan Kementerian Sosial ini sementara menempati dua gedung Kompleks Kampus II Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Lidah Wetan. Lantai tiga Gedung Laboratorium Anti Doping difungsikan sebagai ruang kelas, sedangkan bangunan lantai tiga lantai tak jauh dari Sekretariat Mapala digunakan sebagai asrama.
Fasilitas Lengkap dan Disiplin Ketat
Metode pembelajaran di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) XXI Unesa Surabaya layaknya full day. Ada empat ruangan yang difungsikan sebagai ruang kelas. Masing-masing kelas ruangannya cukup lega, sehingga bisa menerapkan satu murid satu bangku. Setiap kelas juga dilengkapi pendingin ruangan. Bahkan tersedia lift dan ramp untuk memudahkan akses penyandang disabilitas.
Asrama dilengkapi pendingin ruangan. Tiap kamar berisi dua kasur susun sehingga setiap siswa dapat tidur sendiri. Kelengkapan fasilitas itu berdampak pada kebutuhan listrik yang tinggi. Paling tidak tagihan bulanannya tembus sekitar Rp16 juta.
Para murid setiap hari memulai aktivitas sejak subuh. Salat Subuh berjamaah menjadi penanda dimulainya rutinitas. Hanya Sabtu dan Minggu aktivitas lebih santai. Sebab dua hari itu siswa bebas dari tugas sekolah dan wali murid diperbolehkan menjenguk.
Kurikulum Full Day dan Pembinaan Karakter
Jadwal ketat dan disiplin itu awal-awal kerap memantik perlawanan. Layaknya darah muda pada umumnya, ketika semakin dikekang, banyak yang berontak. Di situlah guru tidak boleh bosan-bosan meyakinkan pentingnya pendidikan.
Untuk meluluhkan siswa, salah satunya guru kerap menceritakan janji Menteri Sosial, Gus Ipul bahwa lulusan Sekolah Rakyat lebih diprioritaskan bisa melanjutkan kuliah di perguruan tinggi negeri. Terbukti janji dari garansi itu bisa membuat keluh kesah pelan-pelan luluh.
Kurikulum berjalan sudah menginjak dua semester, dari 100 siswa hanya dua murid saja yang mrotol melalui mekanisme mengundurkan diri. “Rata-rata dulu anak-anak gak kerasan karena merasa gak bisa bebas, sama gak bisa jauh dari orang tua. Tapi setelah dijalani ya seru, satu angkatan sudah seperti keluarga. Dulu di rumah gak pernah nyuci baju, sekarang bisa nyuci sendiri,” kata Belva.
Persiapan Menuju Sekolah Digital
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Dinda Anggi Winarta, menuturkan bahwa menginjak semester kedua siswa mulai disiapkan untuk mahir mengikuti pembelajaran berbasis digital, dan masing-masing difasilitasi laptop. Rencananya mulai dari absensi, materi pelajaran, hingga pengumpulan tugas menggunakan sarana komputer jinjing.
“Tantangannya dari 98 siswa, baru sekitar 10 anak yang bisa menggunakan laptop. Sekarang kami sedang intens melatih semua,” sambung guru alumni Unesa itu.
Perubahan Lokasi Sekolah dan Harapan Siswa
Ngobrol ngalor ngidul sudah menjadi bumbu sehari-hari para murid di sela-sela aktivitas asrama. Ada satu topik yang belakangan ini paling sering dibahas: sekolah bakal pindah. Para siswa harus siap-siap angkat kaki dari Unesa. Sekolah bakal pindah di Kedung Cowek, Kecamatan Bulak.
Sebenarnya ini bukan isu baru. Memang dulu Sekolah Rakyat memang akan dibangun di sana di atas lahan 4-5 hektare, sebab dikonsep bisa menampung 1.000 murid. Tapi saat pembebasan lahan kalangan petani di sana menolak bangunan beton dikhawatirkan bisa mempengaruhi hasil panen, makanya sebagai solusi sementara Sekolah Rakyat di Surabaya meminjam gedung Unesa.
Kabarnya, polemik seputar lokasi sekolah mulai mereda, dan pembangunan sudah berjalan. Proyek ini direncanakan rampung pada 2026, untuk memenuhi ambisi pemerintah menghadirkan 200 Sekolah Rakyat berasrama di seluruh Indonesia.
Harapan Siswa untuk Masa Depan
Prapti Wardani Kepala Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) XXI Unesa menuturkan, dari informasi yang diterima proyek itu akan menjadi lingkungan pendidikan yang terintegrasi. Dalam satu komplek akan terdapat gedung sekolah mulai dari jenjang SD, SMP, hingga SMA.
“Konsepnya nanti anak-anak yang di jenjang SD dan SMP dipantau, siapa yang berprestasi akademik maka akan dijaring masuk ke Sekolah Garuda,” terangnya.
Banyak murid mulai penasaran, salah satunya April Rizky Amelia. Siswi Sekolah Rakyat lulusan Madrasah Tsanawiyah ini juga sedikit khawatir. Pengalamannya SMP dulu sekolah yang banyak murid, menurutnya pembelajaran tidak berjalan optimal. “Dulu SMP tiap sekolah, sering jam kosong. Gurunya baru masuk kelas menjelang ujian,” kenangnya.
Baginya, di Sekolah Rakyat, situasinya berbeda. Guru hampir tidak pernah absen, sehingga siswa-siswi lebih bisa belajar maksimal. “Jujur waktu SMP dulu setiap ujian Bahasa Inggris sering remedial. SMA ini, waktu ujian semester pertama ternyata bisa dapat nilai 84. Gurunya di SMA gak pernah absen, jadi kalau bisa misalkan sudah pindah, muridnya sudah banyak, kalau bisa jangan sampai ada jam kosong,” harapnya.











