"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Sriwijaya FC Kehilangan Pemain, Rekrut Tanpa Gaji demi Kesempatan Bermain

Sriwijaya FC Berada di Ambang Kehancuran

Sriwijaya FC, yang pernah menjadi klub besar sepak bola Indonesia, kini menghadapi tantangan berat dalam kompetisi Championship 2025/2026. Hingga pekan ke-16, klub ini belum pernah meraih kemenangan. Mereka hanya mampu meraih dua kali hasil imbang dan sisanya kalah.

Performa buruk ini tidak terlepas dari krisis finansial yang dialami oleh klub. Isu ini bukanlah omong kosong, melainkan realitas yang telah berlangsung beberapa waktu terakhir. Krisis finansial menyebabkan pembayaran gaji yang terlambat dan akomodasi tim yang seadanya saat menjalani pertandingan tandang.

Akibatnya, sejumlah pemain Sriwijaya FC memutuskan untuk hengkang selama masa transfer putaran kedua Liga 1 Januari hingga awal Februari mendatang. Seiring dengan hal tersebut, jumlah pemain yang tersisa semakin sedikit. Pada pertengahan Januari lalu, hanya tersisa 15 pemain, tiga di antaranya penjaga gawang.

Meski dalam kondisi kritis, manajemen Sriwijaya FC tetap berupaya keras untuk mendatangkan pemain baru selama periode transfer. Bahkan, beberapa pemain bergabung secara sukarela tanpa menerima gaji. Manajemen hanya menyiapkan tempat tinggal dan makanan bagi mereka.

Upaya Manajemen

Manajer Sriwijaya FC, Eko Saputro, mengakui bahwa kondisi finansial klub sedang krisis. Meskipun begitu, manajemen tetap berusaha mencari pemain yang siap berjuang tanpa memikirkan nominal gaji.

“Kita lihat untuk anggaran keuangan tim ini sendiri kalau bisa dibilang, minus,” ujar Eko. “Sekarang pemain yang mau gabung dengan Sriwijaya FC yang tidak memikirkan nominal. Jadi benar-benar mereka sepenuh hati ingin main.”

Beberapa pemain baru yang direkrut memiliki status tanpa gaji. Mereka rela bermain tanpa upah demi membantu klub. Asisten pelatih Sriwijaya FC, Joe Berry, menjelaskan bahwa pemain-pemain ini sengaja dipilih karena ingin berjuang untuk klub.

“Pemain-pemain ini gak digaji. Mereka mau tolong saya dan Sriwijaya FC sambil mencari menit bermain buat persiapan musim depan,” kata Joe Berry. “Manajemen hanya menyanggupi makan dan mess saja.”

Skenario Terburuk

Pemain-pemain baru yang didatangkan Sriwijaya FC belum sepenuhnya bisa dimainkan karena masalah administrasi. Selain itu, chemistry tim juga belum terbentuk, sehingga klub kalah telak dengan skor 7-0 dari Bekasi City pada 16 Januari lalu.

Pelatih Sriwijaya FC, Budi Sudarsono, yang gajinya belum dibayar selama empat bulan terakhir, menyatakan keinginan untuk hengkang. Ia mengaku sulit menjalani kompetisi dengan materi pemain seperti saat ini.

“Dengan pemain Sriwijaya FC sekarang, kita tidak bisa berharap banyak. Mudah-mudahan berjalan lancar,” katanya. “Pemain baru tidak bisa mengangkat tim Sriwijaya FC. Pemain baru pilihan manajemen. Pilihannya manajer Eko Saputro.”

Eko Saputro pun menyampaikan skenario terburuk. Sriwijaya FC berada di dasar klasemen zona Barat dengan 2 poin dari 16 pertandingan. Jika tidak ada perubahan, degradasi ke Liga 3 tampaknya tak terhindarkan.

“Kalau hasilnya degradasi, saya dan pak Anggoro (direktur olahraga PT SOM Anggoro Prajesta) tetap kawal Sriwijaya FC ini untuk berbenah dan ke depannya bisa meloloskan ke Liga 2 lagi,” ujar Eko. “Rencana itu sudah sampai dua tahun ke depan. Kalau pahit-pahitnya kita degradasi, mau gak mau Liga 3 minimal dari awal kita ulang lagi, cari uang, dan sponsor.”

Pertandingan Mendatang

Pada matchday ke-17 Liga 2 pekan ini, Sriwijaya FC akan menghadapi rival sedaerah, Sumsel United. Tim yang kini bertengger di posisi 3 klasemen zona barat dengan 27 poin akan menjadi lawan Sriwijaya FC.

Pertandingan antara Sriwijaya FC vs Sumsel United akan berlangsung di Gelora Sriwijaya, Jakabaring, Palembang pada Sabtu (24/1/2026) jam 15.30 WIB.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *