Perbincangan di Meja Makan
Jek Buntal sedang mengunyah godok-godok pisang yang baru saja ia ambil dari piring kaleng di balik steling. Ia berbicara sendiri, meskipun tidak jelas maksudnya. Kalimat-kalimatnya terdengar oleh Leman Dogol yang duduk dua meja darinya. Leman sedang menonton Lek Tuman dan Ucok Morning bermain catur.
“Kenapa, Mak? Kenak tekong orang lagi proyek mamak?” tanya Leman.
“Bukan aku, Mak. Ini, Si Suderajat.”
“Adjat Suderajat?” celetuk Ucok Morning tanpa menggeser mata dari papan catur. “Kenapa rupanya dia? Mo main bola lagi? Kan sudah tua. Hampir tiga kali lipat lebih tua dari Thom Haye.”
“Main lagi? Ah, bukan Adjat Sudrajat pemain Persib, Ketua. Ini Suderajat, penjual es. Tak baca berita rupanya ketua dua-tiga hari ini?”
“Malas aku baca berita. Asik-asik kabar cere Si Boyen aja yang dibikin wartawan. Macam tak ada berita lain aja se-Indonesia raya ini.”
Leman Dogol tertawa. “Bukan tak ada, Ketua. Banyak kali pun berita. Mo berita apa? Soal Prabowo ada, Donald Trump ada, Marteen Paes mo dibelik sama Ajax pun ada. Tinggal pilih aja, Ketua.”
“Terus, Si Suderajat ini, apa masalahnya?”
“Dipukuli aparat dia.”
“Plisi?”
“Plisi iya, trentre jugak.”
“Bah! Paket combo, ah,” sahut Lek Tuman. “Kenapa sampek dipukuli dia?”
“Dia jualan es gabus yang dicurigai gabus betulan.”
“Kok bisa? Ini maksudnya kek gabus cuci piring, gitu? Sepons?”
“Nggak persis gitu, sebenarnya. Kalok dari berita-berita yang kubaca, Si Suderajat ini dilaporkan warga yang tinggal di dekat tempat dia ngetem jualan. Pakek gerobak dia jualan. Warga ini melaporkan dia ke plisi, bilang kalok jualan dia mengandung Polyurethane Foam. Dari berita yang kubaca, ini bahan kimia yang dipakek untuk bikin gabus pencuci. Bisa jugak untuk bikin busa springbed.”
“Teringatnya, es gabus ini kek mana bentuknya? Belum pernah dengar aku namanya,” Lek Tuman menyahut lagi. Satu langkah gajah yang dilakukannya mendesak ratu Ucok Morning yang sebelumnya menyerang dengan membabi buta. Langkah pendek gajah ke kotak g2, membuat ratu terjebak sepenuhnya. Ucok Morning langsung memegang kepala.
“Kek es potong gitu, Pak Kep. Warna-warni, kek kue lapis.”
“Alamakjang, masak, lah, gak bisa orang tu ngebedakan mana es mana gabus?” sebutnya. Serangan berikut, menggunakan kuda, membuat Ucok Morning benar-benar disudutkan di posisi genting. Tidak ada lagi harapan untuk menang setelah ratu ditumbangkan.
Leman Dogol tertawa. “Jangan kata gabus yang warnanya beda-beda, Pak Kep. Orang tu pun belakangan sering jugak bingung menentukan mana korban mana tersangka.”
Ucok Morning, Lek Tuman, dan Jek Buntal tertawa berbarengan. Tok Awang, yang sedang meracik bumbu Mi Bangledesh di balik steling, ikut tertawa.
“Terus, yang dibilang Si Jek tadi soal rezeki macam mana ceritanya, Man? Setelah dipukuli dapat rezeki dia, gitu?” tanya Tok Awang.
“Iya, Tok. Dapat duit, rumahnya diperbaiki, terakhir dapat kereta jugak dia. Baru keretanya, masih beplastik. Kereta metik.”
“Tapi sempat babak belur?”
“Kira-kira begitu.”
“Sebelumnya, plisi dan trentre yang pukulin dia jugak udah minta maaf. Dipeluk-peluk dia kek kawan lama,” sebut Jek Buntal.
“Yes, memang kek gitu, lah, templet-nya.”
“Templet cemana maksudnya, Man?”
“Cak, lah, Mamak ingat-ingat. Kalok plisi dan trentre bikin salah, yang memang fatal kali salahnya dan bikin orang tu gak bisa ngeles-ngeles lagi, endingnya pasti sama. Konferensi pers, lah. Undang wartawan, lah, minta maaf, lah. Terus foto-foto. Waktu difoto, korban orang tu, yang rata-rata memang udah sempat bonyok-bonyok itu, disalamin dan dipeluk-peluk kek sodara.”
“Ah, kalok itu kupikir gak terlalu masalah, Man.”
“Jadi yang masalah apa?”
“Kek gak pintar-pintar, gitu, lho. Hari ini salah, besok minta maaf, besoknya salah lagi, minta maaf lagi. Gitu terus sampek Arsenal juara liga chempiyon.”
“Eh, jaga mulut kau tu, Jek. Juara kami tahun ini,” sergah Ucok Morning.
Jek Buntal tertawa keras, sampai terbatuk-batuk. Dia cepat bangkit dari duduk, menyambar gelas lalu menuangkan air putih dan meminumnya.
“Sorry, sorry, Ketua. Bukan maksud awak menyinggung,” ujarnya. Jek masih terbatuk-batuk kecil. “Maksud awak, jangan, lah, gini-gini terus, ya, kan. Ibarat kata, orang-orang dulu bilang, keledai jugak gak sampek jatuh dua kali ke lobang yang sama. Ini bukan lagi dua kali tiga kali. Jatuh berkali-kali, bikin salah berkali-kali, maaf berkali-kali, tapi masih jugak diulang lagi.”
“Bay de we, menurut mamak, apa, lah, itu sebabnya, ya? Apa kerna memang kurang ini,” tanya Leman Dogol sembari meletakkan ujung telunjuknya di sisi kanan keningnya.
Jek Buntal mengangkat bahu. “Ingatku dulu pernah ada yang usulkan, supaya yang diterima untuk calon plisi dan trentre itu paling rendah sarjana. Enggak kek sekarang. Ato kalok EsEMA ato EsEmKa pun, paling nggak, ya, nilainya yang agak-agak paten, gitu, lah.”
“Jangan yang pen corot dan sering cabut manjat pagar pulak, ya, Mak,” ucap Leman diiringi tawa berderai.
Tok Awang, masih dari balik steling, menyeletuk. “Alah, tak pala pengaruh tu, Jek. Sebelas dua belas.”
“Tak pengaruh cemana, Tok?”
“Kelen tengok, lah, yang di Sleman. Panjang tu gelar di belakang nama kapolresnya. Es Satu lulus dia, Es Dua jugak lulus. Eh, malah disuruh belajar lagi. Bukan kek dokter ahli jantung yang disuruh belajar lagi sama nitijen gak jelas. Ini yang nyuruh belajar gak maen-maen. Plisi jugak. Mantan-mantan jenderal. Rusak luar dalam dia.”
“Kukira masalahnya bukan terletak pada ijazah EsEMA, EsEmKa, ato sarjana Es Satu ato Es Dua, Es Tiga dan seterusnya,” Lek Tuman menimpali. “Tapi lebih ke sikap aja, sebenarnya. Cemana plisi-plisi ini, trentre-tentre, gak langsung petantang-petenteng anggar-anggar seragam.”
“Eh, cemana pulak maksudnya ini, Pak Kep?” tanya Jek Buntal.
“Maksudku, biarlah ahlinya yang turun tangan. Kek soal es-es gabus ini, lah. Kalok pun memang ada laporan dari warga, ada yang curiga, kenapa plisi dan trentre gak bawa orang dari dinkes, misalnya. Periksa esnya, betul nggak dari gabus. Paling enggak, orang-orang dinkes ini egoisme seragamnya gak tinggi-tinggi kali. Jadi gak akan langsung ngamuk, langsung mukulin, kalok dilawan sama tukang es.”
Leman Dogol berseru. Bertepuk tangan. “Aih, seddep istilah Pak Kep ni. Egoisme seragam!”
“Apa jadi masalah demokrasi juga, Kep?” tanya Ucok Morning.
“Pasti, lah! Tiap kekuasaan menguat, kek sekarang, lah, bilang, maka kontrol terhadap masyarakat ikut jugak mengeras.”
“Bahaya, Kep?”
“Jelas, lah. Lama-lama rakyat bisa melawan.”
“Alahai, tinggi-tinggi kali, lah, cakap kelen,” Ocik Nensi, yang sedari tadi bersama Tante Sela menonton video-video TikTok yang memampangkan selebritas sedang main padel, menyeletuk keras. “Seragam, lah. Demokrasi, lah. Bagus kelen bahas soal padel-padel ini.”
Leman Dogol tertawa. “Paten mana, Cik, Fuji atau Mahalini?”
“Angel Karamoy, lah!”











