Inisiatif Gentengisasi Memberi Harapan bagi Pedagang Genteng

Inisiatif gentengisasi yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto memberikan angin segar bagi para pedagang genteng di tengah situasi yang cukup sulit. Dalam beberapa tahun terakhir, penjualan genteng mengalami penurunan yang signifikan, membuat banyak usaha ini kesulitan bertahan. Kebijakan ini diharapkan mampu menghidupkan kembali industri genteng yang selama ini semakin terpinggirkan oleh material atap lain.
Salah satu yang merasakan dampaknya adalah Firda Farida (28), generasi ketiga pemilik Toko Dunia Atap di Jakarta Timur. Ia mengaku bahwa penjualan genteng dalam setahun terakhir sangat sepi, jauh berbeda dengan masa lalu ketika toko masih ramai dan omzet bisa mencapai ratusan juta per bulan.
“Dari tahun kemarin (2025), waktu aku baru jaga toko 2023, penjualannya sangat bagus dan setiap hari ada orang yang nanya. Tapi sejak 2025 ke sini, rasanya hancur,” ujarnya saat ditemui di tokonya di Jalan D.I Panjaitan, Jakarta Timur pada Selasa (3/1).
Firda menjelaskan bahwa omzet bulanan kini jauh lebih rendah dibandingkan sebelumnya. “Dulu, di atas Rp 100 juta bisa, tapi sekarang hanya bisa bersyukur kalau ada yang beli,” tambahnya.
Dengan adanya inisiatif proyek gentengisasi dari presiden, Firda sangat mendukung hal tersebut. Menurutnya, genteng berbahan dasar tanah memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan bahan atap lainnya.
“Oh, bagus banget. Genteng seperti ini harus di-up lagi karena kalau pakai seng mudah bocor dan panas. Kami benar-benar mendukung,” katanya.
Firda juga menyampaikan harapan agar proyek ini bisa memberikan manfaat nyata. “Semoga apa yang diomongin Pak Prabowo (Gentengisasi) bisa terealisasi,” ujarnya.
Di tokonya, Firda menjual dua jenis genteng, yaitu genteng biasa berbahan tanah seharga Rp 10.500 per buah dan genteng beton seharga Rp 8.000 per buah. Meski genteng beton memiliki teknologi yang lebih anyar, Firda mengaku lebih banyak orang membeli genteng biasa karena daya tahan dan kualitasnya.
“Menurutku, genteng ini akan selalu ada karena banyak orang suka pakai,” ujarnya.
Terkait metode penjualan, Firda mengatakan bahwa saat ini ia hanya mengandalkan toko fisik saja, tanpa membuka penjualan di platform e-commerce. Namun, pembeli tetap ada, terutama dari pelanggan setia.
Selain itu, di tokonya, para pembeli bisa membeli genteng secara satuan. Hal ini menurut Firda menjadi strategi yang efektif untuk bertahan. “Kalau borongan, pasti susah. Jadi kita jual satuan, mau beli 1 atau 2, pasti layani. Lebih menguntungkan,” jelasnya.
Pemilik Toko Genteng yang Bertahan di Tengah Kesulitan
Bergeser ke Toko UD Bersama yang berada di sekitar Utan Kayu, Jakarta Timur, Sutawi (74), pemilik toko genteng yang sudah berdiri sejak 1981, juga mengungkapkan kondisi yang serupa. Ia mengaku bahwa saat ini tokonya sepi, bahkan stoknya sedikit sehingga jika ada pembeli, ia harus terlebih dahulu menghubungi supplier.
“Sejak Covid, banyak yang bangkrut. Material-material dekat sini juga gulung tikar. Cuma kita yang bertahan, jual second (bekas),” kata Sutawi.
Ia juga mengungkapkan bahwa kini ia lebih fokus pada penjualan genteng bekas karena margin keuntungan lebih tinggi. Jika margin genteng baru hanya Rp 500 per buah, margin genteng bekas bisa mencapai Rp 3.000 per buah.
Sutawi mengingat masa lalu ketika omzetnya bisa mencapai ratusan juta bahkan hampir miliaran. Namun, saat ini omzetnya jauh berkurang. “Zaman dulu Rp 900 juta sebulan, hampir semiliar. Sekarang cuma Rp 25 juta per bulan,” ujarnya.
Meski menghadapi tantangan, Sutawi tetap berharap bahwa inisiatif gentengisasi dari presiden dapat memberikan dampak positif. “Alhamdulillah, kemarin ada berita tentang gentengisasi, jadi saya ada semangat lagi. Mudah-mudahan pabrik bisa hidup lagi,” ujarnya.












