"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

[Ekklusif] Keamanan Finansial dan Pengaruhnya pada Kualitas Hidup Perempuan

Perempuan yang Kuat, Tapi Rentan

Perempuan sering kali dianggap sebagai sosok yang kuat. Pernyataan ini sejalan dengan kenyataan bahwa perempuan terbiasa mengurus banyak hal sekaligus. Mulai dari pekerjaan, keluarga, relasi, hingga urusan emosional yang kadang tak terlihat. Di tengah ritme hidup yang padat dan serba cepat, perempuan dituntut untuk terus bisa berjalan meski itu artinya sedikit mengabaikan rasa lelah. Karena hal ini pula, terkadang soal kesehatan seringkali terabaikan.

“Masih nggak apa-apa kok,” atau “pusing sedikit, istirahat juga sembuh.” Padahal jika kita abai dengan ‘sinyal’ yang diberikan tubuh, bukan tak mungkin hal itu menjadi bom waktu di kemudian hari. Menurut Yudhistira Dharmawata, Chief Health Officer AXA Financial Indonesia, perempuan justru berada di posisi yang lebih rentan secara kesehatan. Itu artinya, sebagai perempuan ada baiknya mulai mempersiapkannya dengan baik segalanya sedari awal.

Perempuan Sering Tak Sadar Rentan dengan Kelelahan

Hari ini, semakin banyak perempuan yang memegang peran penting, baik di ranah profesional maupun domestik. Perempuan bukan hanya pendamping, tetapi juga pengambil keputusan dan pencari nafkah. Namun, peran ganda ini sering membuat perempuan terbiasa menomorduakan diri sendiri. Dampaknya, perempuan sering lupa (bahkan tidak menyadari) jika tubuhnya mulai butuh istirahat. Padahal mengabaikan tanda kecil ini bisa jadi bom waktu di kemudian hari.

“Perempuan itu sering kali menjalani banyak peran dalam satu waktu. Bekerja, mengurus keluarga, dan tetap dituntut untuk kuat secara emosional. Misalnya, kalau habis bekerja sampai malam biasanya pulang kan masih mengurus anak lagi. Berarti secara fisik perempuan mungkin lebih terkuras dan lebih capek,” ujar Yudhistira.

“Tanpa disadari, kondisi ini bisa membuat perempuan lebih rentan terhadap kelelahan fisik dan mental.”

“Jika sudah lelah secara mental,” lanjut Yudhistira lagi, “ini terkadang bisa merambat kemana-mana. Termasuk salah satunya adalah terkait cancer.”

Risiko Kesehatan yang Datang Tiba-Tiba

Di balik ketangguhan yang telah disebutkan sebelumnya, perempuan menghadapi risiko kesehatan yang tidak bisa dianggap ringan. Bukan ingin menakutkan, namun beberapa penyakit, seperti kanker payudara dan kanker serviks, memiliki tingkat kejadian yang lebih tinggi pada perempuan. Apalagi risiko kesehatan ini muncul karena kesibukan perempuan yang begitu banyak menjalani peran saat ini.

Yudhistira menjelaskan bahwa dalam praktiknya, kanker payudara menjadi salah satu klaim kesehatan yang paling sering ditemui. “Yang sering terjadi, perempuan merasa baik-baik saja karena tidak merasakan gejala apa pun. Padahal, penyakit seperti kanker bisa berkembang tanpa disadari,” katanya.

Faktor genetik, usia, hingga tekanan mental berkepanjangan juga turut berperan. Artinya, bahkan perempuan dengan gaya hidup sehat tetap memiliki risiko yang perlu diantisipasi.

Terkadang Ada ‘Bencana’ yang Datang di Luar Rencana

Banyak perempuan merasa sudah melakukan “cukup” untuk kehidupan sehari-hari. Mulai dari hidup relatif seimbang, berusaha makan lebih sehat, sesekali olahraga, bekerja keras membangun karier, dan menyisihkan sebagian penghasilan untuk ditabung. Di kepala, semua itu sudah terasa seperti bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri. Selama tubuh masih bisa diajak kompromi dan aktivitas tetap berjalan normal, masa depan seolah bisa dipikirkan nanti atau saat waktunya lebih longgar, saat kondisi terasa lebih stabil.

Namun, kesehatan sering kali tidak menunggu kesiapan. Ia bisa datang tanpa aba-aba, tanpa gejala yang jelas, dan tanpa mempertimbangkan rencana hidup yang sudah disusun rapi. Banyak perempuan baru benar-benar dihadapkan pada kenyataan ketika tubuh mulai memberi sinyal yang tak bisa lagi diabaikan. Di momen itu, kesadaran pun muncul: ternyata selama ini, perhatian terhadap masa depan belum sejauh yang dibayangkan.

“Banyak orang baru memikirkan proteksi saat sudah sakit,” ungkap Yudhistira. “Padahal, dampak dari sakit itu bukan hanya ke kondisi fisik, tapi juga ke kondisi finansial dan kualitas hidup secara keseluruhan.”

Rasa Aman Finansial sebagai Bagian dari Self-Care

Self-care sering kali dimaknai sebagai hal-hal yang terlihat: waktu istirahat, liburan singkat, atau momen menyenangkan untuk diri sendiri. Semua itu penting. Namun, ada satu bentuk self-care yang jarang dibicarakan, yakni rasa aman finansial. Sebuah kondisi ketika perempuan tidak harus terus-menerus cemas memikirkan apa yang akan terjadi jika sesuatu berjalan di luar rencana.

Ketika perempuan memiliki rasa aman secara finansial, ia punya ruang untuk benar-benar hadir pada dirinya sendiri. Ia bisa fokus pada pemulihan saat sakit tanpa terbebani ketakutan akan biaya, bisa menjaga kesehatan mental tanpa tekanan tambahan, dan bisa mengambil jeda tanpa rasa bersalah. Rasa aman ini bukan semata soal uang, melainkan ketenangan karena tahu dirinya tidak sendirian menghadapi risiko yang mungkin datang.

“Ketika perempuan merasa aman, mereka bisa mengambil keputusan yang lebih baik untuk dirinya sendiri,” kata Yudhistira. “Baik itu soal kesehatan, karier, maupun kehidupan keluarga.”

Jangan Lupa untuk Mulai Merawat Diri

Di tengah tuntutan untuk selalu kuat, perempuan sering lupa bahwa merawat diri justru membutuhkan keberanian. Keberanian untuk berhenti sejenak, mendengarkan tubuh dan perasaan sendiri, lalu mengakui bahwa tidak semua hal bisa ditangani sendirian. Dalam budaya yang sering mengagungkan ketangguhan, perempuan kerap merasa harus selalu baik-baik saja, padahal merawat diri adalah bentuk kejujuran terhadap kebutuhan diri sendiri.

Memikirkan kesehatan, mempersiapkan proteksi, dan membangun rasa aman finansial sering kali dianggap sebagai hal yang terlalu jauh atau terlalu serius. Namun, justru di situlah letak kepedulian yang sesungguhnya. Perempuan yang memilih untuk bersiap bukan sedang bersikap pesimis, melainkan sedang menghargai hidupnya. Ia memilih untuk tidak menyerahkan masa depannya sepenuhnya pada kemungkinan yang tidak bisa dikendalikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *