"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Kisah Bu Nini, Guru Honorer yang Jual Pastel di Sekolah untuk Biayai 4 Anak

Kisah Pilu Nini Kurmala, Guru Honorer yang Bertahan dengan Pastel Goreng

Di tengah keterbatasan dan tantangan hidup, Nini Kurmala menjadi contoh perjuangan seorang guru honorer yang tak kenal menyerah. Sebagai ibu dari empat anak, dia harus menghadapi berbagai rintangan demi memenuhi kebutuhan keluarga. Kehidupan yang dijalani Nini adalah cerita tentang ketangguhan dan keberanian.

Setiap pagi, Nini Kurmala R tiba di SMA Negeri 5 Bukittinggi dengan dua beban di tangannya. Di tangan kanan, map berisi RPP dan buku catatan pelajaran. Di tangan kiri, sebuah keresek hitam yang tampak biasa saja. Isinya adalah 200 pastel goreng yang menjadi sumber penghasilan tambahan untuk menyambung hidup.

Keresek itu sering disembunyikan di balik meja guru sebelum bel masuk berbunyi. Saat jam istirahat, barulah dia keluarkan, menawarkan satu per satu kepada rekan guru, pegawai sekolah, atau murid yang mampir. Dari setiap pastel, Nini hanya mendapat untung Rp200. Jika habis terjual, dia membawa pulang sekira Rp40.000. Separuhnya langsung habis untuk biaya penitipan anak bungsunya yang baru berusia dua tahun. Selebihnya, dia simpan rapat-rapat untuk ongkos pulang, membeli beras, atau sekadar membeli telur dan minyak goreng di warung dekat rumah.

Di hadapan murid-muridnya, Nini tetap berdiri sebagai guru: tegas, rapi, dan berwibawa. Tak banyak yang tahu bahwa sebelum masuk kelas, dia terlebih dahulu memastikan pastel-pastel itu tersusun rapi di dalam keresek agar tak hancur sepanjang hari. Tak banyak pula yang tahu bahwa di balik kapur tulis yang dia genggam, ada hitung-hitungan kecil tentang bagaimana bertahan sampai akhir bulan.

Perjalanan Panjang Nini Menjadi Guru

Nini lahir di Bukittinggi, besar di Kampung Nagari Sungai Pua, Kabupaten Agam. Dia menamatkan pendidikan di Universitas Negeri Padang, jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (masuk 2005, lulus 2010). Tahun yang sama, langkah pertamanya sebagai guru dimulai jauh dari kampung halaman: di SMP Pelita Nusantara, Tanjungpinang.

Di sana, Nini mencicipi rasa manis pengabdian. Salah satu muridnya meraih nilai 100 pada Ujian Nasional Bahasa Indonesia—prestasi pertama sekolah itu dalam lima tahun. Dia mendapat penghargaan dari Wali Kota, lengkap dengan hadiah uang Rp1 juta. “Waktu itu rasanya percaya diri sekali, saya pikir jalan jadi guru ini sudah benar,” kenangnya.

Namun, hidup bergerak. Dia mengikuti suami ke Batam, lalu kembali ke Bukittinggi. Di kampung halaman, Nini mengajar di bimbingan belajar Gama dan sempat menjadi honorer di SMP Negeri 1 Bukittinggi. Dia membina ekstrakurikuler randai dan puisi hingga menembus tingkat provinsi. Namun, persoalan administratif membuat langkahnya tersendat. Kesalahan penulisan nama pada data lama membuat Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK)-nya tak kunjung terbit.

Beban rumah tangga, anak yang masih kecil, dan honor bimbel yang lebih pasti membuatnya melepaskan posisi di sekolah negeri. Dia sempat menjauh dari sekolah formal, sebelum akhirnya pada 2022 kembali mengajar di SMA Negeri 5 Bukittinggi. Awalnya, sekadar “menolong”, menggantikan guru Bahasa Indonesia yang wafat. Kinerjanya dinilai baik, dia dipanggil kembali dan jam mengajarnya penuh—28 jam per minggu, setara guru PNS reguler. Namun, satu hal tetap menggantung: status.

Ikhtiar Mie Goreng

Gaji Nini dihitung per jam mengajar: Rp70.000 per jam, sekira Rp1,9 juta per bulan—itu pun sering terlambat. Ketika Eka, almarhum suaminya, masih bekerja di perusahaan leasing dengan penghasilan sekira Rp5 juta, hidup terasa tertopang. Dua tahun terakhir, sang suami terkena PHK. Mereka mencoba berjualan, dari toko kelontong rumahan hingga kaki lima di sekitar Stasiun Bukittinggi.

Awalnya, Nini dan suaminya menjajakan nasi sup di sekitar Stasiun Bukittinggi. Namun waktu itu bertepatan menjelang Hari Raya Iduladha. Di hari-hari ketika banyak keluarga memasak daging kurban, pembeli nasi sup berkurang drastis. “Orang-orang sudah kenyang daging,” kata Nini. Mereka lalu memutar otak. Wajan yang sama, gerobak yang sama, tetapi menu diganti. Lahirlah Mie Goreng Uncle Muthu—makanan yang waktu itu sempat viral.

Di luar dugaan, menu baru itu justru mendapat sambutan. Pelan-pelan pembeli berdatangan. Dari mulut ke mulut, orang mulai tahu: ada mi goreng yang rasanya berbeda di sudut kota itu. Bagi Nini dan suaminya, ramainya pembeli bukan sekadar soal omzet. Ada rasa lega karena ikhtiar kecil mereka menemukan jalannya. Di sela-sela asap wajan dan antrean pelanggan, mereka kembali percaya bahwa hidup, meski terseok, masih bisa ditawar dengan usaha.

Bertahan dengan Pastel

Hidup harus berjalan. Nini membawa 200 pastel tiap hari ke sekolah, menjualnya pada guru dan murid. Untungnya Rp200 per buah—kalau habis, Rp40.000. Separuhnya dia sisihkan untuk menitipkan anak bungsunya, Pangeran Zavier, yang baru dua tahun. Anak kedua, Fariz Asrofi, dibantu wali kelasnya dengan uang jajan mingguan. Anak ketiganya yang sekolah di swasta terancam pindah ke negeri karena biaya. Anak sulungnya kini duduk di MTs.

“Sekarang saya cuma menghemat uang takziah. Mau pinjam ke orang juga rasanya sudah tidak ada tempat,” tuturnya. Di tengah keterbatasan itu, ancaman pemotongan honor honorer terdengar. “Dengar itu, lemas badan saya,” katanya. Bulan puasa kian dekat, kebutuhan bertambah. Di kelas, Nini tetap berdiri tegak. Dia dikenal tegas—bahkan galak. Namun, murid-muridnya tak membenci. Mereka patuh, belajar, dan sebagian tumbuh percaya diri.

“Untuk mengajar, semua orang mungkin bisa. Mendidik itu yang susah,” ucapnya. Baginya, prestasi akademik penting, tetapi karakter lebih penting. Dia ingin murid-muridnya mengerti sepenuhnya, bukan setengah-setengah. Kini, harapannya sederhana: kejelasan. Dia tak meminta jalan pintas, hanya kepastian agar pengabdiannya tak berhenti sebagai angka jam di daftar hadir.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *