Forum Diskusi Millenial Agriculture Forum (MAF) Vol 7 Edisi 7
SMK Pertanian Pembangunan (SMK PP) Negeri Sembawa kembali menunjukkan keunggulannya dalam menyelenggarakan forum diskusi yang berpengaruh bagi dunia pertanian. Dalam rangkaian kegiatan Millenial Agriculture Forum (MAF) Vol 7 Edisi 7, tema utama yang diangkat kali ini sangat relevan dengan kondisi ketahanan pangan nasional: “Dari Petani ke Cadangan Nasional: Penyerapan Gabah Bulog untuk Swasembada Pangan Berkelanjutan”. Acara berlangsung pada Sabtu (14/02/2026) di kampus SMK PP Sembawa.
Forum ini dihadiri oleh ratusan peserta dari berbagai kalangan, termasuk petani milenial, pelaku usaha agribisnis, akademisi, serta instansi pemerintah. Tujuan utamanya adalah memperkuat sinergi antara berbagai pemangku kepentingan dalam mendukung swasembada pangan.
Peran Penting Pasar Bagi Petani
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa kepastian pasar bagi petani adalah prioritas utama. Ia menekankan pentingnya memastikan hasil panen petani terserap secara baik oleh Bulog dengan harga yang menguntungkan.
“Petani adalah pahlawan pangan. Kita harus pastikan hasil panen mereka terserap dengan baik oleh Bulog dengan harga yang menguntungkan petani. Jika hilirisasi berjalan, swasembada bukan lagi sekedar mimpi,” ujar Mentan Amran.
Sinergi Teknologi dan Kelembagaan
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menambahkan bahwa peran anak muda dan penyuluh sangat vital dalam transformasi pertanian. Ia menjelaskan bahwa sinergi antara teknologi dan kelembagaan diperlukan agar petani milenial memiliki pemahaman yang utuh mengenai rantai pasok cadangan nasional.
“Penguatan kapasitas SDM adalah kunci agar gabah yang dihasilkan memenuhi standar cadangan nasional,” jelas Idha.
Kontribusi SMK PP Sembawa
Kepala SMK PP Sembawa, Budi Santoso, menyampaikan apresiasi kepada kementerian pertanian atas dukungan yang diberikan kepada petani, penyuluh, dan stakeholder lainnya. Ia juga menyoroti peran Perum Bulog sebagai off-taker dari hasil produksi petani, terutama dalam budidaya gabah.
“Tahun kemarin Perum Bulog ditargetkan 3 juta ton, tahun 2026 ini ada penambahan 4 juta ton dan bukan hanya padi atau gabah, termasuk juga jagung dan kedelai untuk diserap oleh Perum Bulog,” tambah dia.
Tiga Sesi Materi Utama
Forum ini menghadirkan tiga narasumber yang membawakan tiga sesi materi utama:
1. Strategi Penyerapan Gabah oleh Bulog
Rinaldy Pratama, Manager Pengadaan Bulog Kanwil Sumsel dan Babel, menjelaskan strategi penyerapan gabah di Sumatera Selatan. Dasar pengambilan kebijakan tersebut adalah Inpres No 6 Tahun 2025 dan instruksi dari Bapenas. Bulog berkomitmen menjaga harga di tingkat petani agar tidak anjlok.
Penekanan diberikan pada pentingnya menjaga kadar air dan tingkat kebersihan gabah agar sesuai regulasi pemerintah sehingga Bulog dapat menyerap hasil panen secara maksimal.
2. Penguatan Kapasitas dan Kelembagaan
Zaid Subrata, Penyuluh Pertanian Kabupaten Banyuasin, menekankan pentingnya penguatan kelembagaan melalui koperasi, Poktan/Gapoktan, Upja, dan Bumdes. Edukasi standar mutu gabah, pelatihan pasca panen, peningkatan manajemen usaha tani, dan administrasi kelembagaan menjadi fokus utama.
3. Pengalaman Lapangan Petani Muda
Jabar Isnur Rahman, Petani Muda Kabupaten Banyuasin, berbagi pengalaman lapangan dan harapan petani. Ia menyampaikan manfaat nyata dari kepastian harga saat bermitra dengan Bulog, seperti harga lebih stabil, pembayaran lebih jelas dan terstruktur, serta meningkatnya kepercayaan diri petani.
Meski demikian, tantangan seperti kuota serapan gabah terbatas, jarak gudang yang jauh, proses administrasi yang lambat, dan penyerapan gabah yang terlambat tetap menjadi isu yang perlu diperhatikan.
Penutup dan Harapan Bersama
Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Muhammad Amin, menyampaikan closing statement yang menegaskan komitmen Kementerian Pertanian melalui Badan SDM dalam MoU dengan Direktorat Pengadaan Bulog. Ia berharap para kelompok tani dan rekan brigade pangan dapat memastikan usaha tani berjalan baik karena masalah gabah sudah tidak ada.
Amin berharap semua pihak saling bersinergi untuk menjadi penopang perekonomian masyarakat, khususnya di pedesaan.
Diskusi Interaktif dan Kesimpulan
Webinar ini diakhiri dengan sesi tanya jawab interaktif yang memicu diskusi hangat antara peserta dan narasumber. Berbagai pertanyaan seputar tantangan di lapangan, solusi praktis, dan peluang pengembangan produksi pertanian berhasil dijawab dengan lugas.
Kesimpulan dari webinar ini menegaskan bahwa swasembada pangan sangat penting untuk ketahanan nasional. Perum Bulog berperan krusial melalui penyerapan gabah petani untuk menjaga stabilitas harga, meningkatkan kesejahteraan produsen, dan menjamin cadangan pangan nasional.











