Perbedaan Hisab dan Rukyat dalam Menentukan Awal Ramadhan
Pada hari Rabu, 18 Februari 2026, sebagian umat Islam di Makassar sudah memulai puasa. Mereka mulai melaksanakan shalat tarawih pada malam Selasa. Sementara itu, sebagian lainnya memilih untuk memulai shalat tarawih pada malam Rabu, 18 Februari 2026, dan mulai sahur pada dini hari Kamis, 19 Februari 2026.
Para tokoh agama terus berupaya menenangkan umat, sementara netizen sibuk berdebat di media sosial. Di Masjid HM Takdir Hasan Saleh, jemaah shalat Subuh mengisi tiga shaf. Ini menjadi hari pertama Ramadhan bagi yang mengikuti hisab, termasuk Muhammadiyah. Atau hari terakhir Sya’ban bagi ahli rukyat. Sidang Isbat di Kementerian Agama RI, Jakarta, Rabu malam, juga telah memutuskan bahwa Ramadhan jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026.
Ritual Sosial yang Terulang Setiap Tahun
Setiap menjelang Ramadhan, ritual sosial selalu terulang. Langit dipantau, teropong diarahkan, data hisab disebar, dan media sosial pun mulai berisik. Berisik karena ada yang sudah dipastikan sebelumnya. Hisab sudah memutuskan jauh pekan sebelumnya, sedangkan rukyatul hilal dilaksanakan di tengah menyebarnya kepastian hasil hisab.
Hilal, bulan sabit yang tipis, tak lagi sekadar penanda waktu. Hilal sudah menjadi pemicu perdebatan tahunan yang nyaris selalu sama. Hisab dan rukyat berhadap-hadapan, diperhadapkan, diperdebatkan, dipertentangkan. Yang satu disebut ilmiah, yang lain disebut tekstual. Yang satu dianggap maju, yang lain dipersepsikan tradisional.
Padahal, yang paling sering terdampak bukan para ahli falak atau fuqaha. Yang terdampak parah adalah umat. Kita. Kami. Mereka. Manusia biasa yang ingin beribadah dengan tenang.
Gerbang Tol Menuju Masyarakat Lelah
Dalam ruang akademik, perbedaan hisab dan rukyat sesungguhnya sudah selesai. Keduanya diakui sebagai produk ijtihad. Para pemuka sibuk melancarkan anjuran: “Jangan dipertentangkan”, “Semuanya benar”, “Laksanakan sesuai keyakinan”, “Sikapi dengan tenang”, bahkan ada yang menganjurkan “Jangan lagi dibahas”.
Di titik inilah persoalan Ramadhan tidak lagi semata fikih. Ia berubah menjadi persoalan psikologi sosial dan kesehatan mental keagamaan. Namun realitas di ruang digital berkata lain. Bisik-bisik jemaah masjid menyuguh realitas berbeda.
Di media sosial, perbedaan itu direproduksi setiap tahun dalam format yang lebih emosional. Bukan sekadar edukatif. Potongan ceramah, infografik setengah matang, klaim kebenaran sepihak, dan sindiran halus antar kelompok beredar luas. Algoritma tidak bekerja untuk menenangkan. Algoritma memperpanjang konflik. Yang viral bukan penjelasan paling jernih, tetapi yang paling memantik reaksi.
Alih-alih menjadikan fenomena itu sarana pembelajaran fikih. Wahana pendewasaan beragama. Tapi potensi sebagai sumber kisruh lebih besar. Umat, terutama generasi muda, tidak sedang belajar fikih. Mereka didera tekanan moral. Dihantui takut salah puasa. Dihimpit takut ibadahnya tidak sah. Dan dihantam ketakutan berada di “barisan yang keliru”. Itulah gerbang tol menuju masyarakat yang lelah.
Kelelahan Tak Disadari Terawat Setiap Momen
Filsuf Korea-Jerman Byung-Chul Han menyebut masyarakat modern sebagai burnout society. Masyarakat yang lelah bukan karena kerja fisik semata, tetapi karena tekanan normatif yang terus-menerus. Bukan dipaksa, melainkan didorong untuk selalu benar, selalu sadar, selalu memilih posisi moral.
Dalam bukunya The Burnout Society, Han menjelaskan bahwa kelelahan modern lahir dari banjir tuntutan. Harus produktif. Harus sadar. Harus mengambil sikap. Harus membela nilai. Perdebatan hisab–rukyat yang terus direproduksi sesungguhnya bekerja dengan mekanisme yang sama. Hisab vs Rukyatul Hilal menciptakan tuntutan halus.
Muslim yang bak harus tahu. Muslim yang benar harus memilih. Muslim yang saleh harus membela. Padahal mayoritas umat tidak hidup di ruang perdebatan ilmiah. Mereka hidup di ruang ibadah yang sederhana: sahur, puasa, tarawih, dan doa. Ketika agama dipenuhi tuntutan argumentatif yang tak berkesudahan, ia kehilangan fungsi dasarnya sebagai sumber ketenangan.
Fenomena yang Menggerogoti Ketenangan Ibadah
Fenomena itu bak buku ketemu ruas dengan apa yang oleh psikolog sosial Jonathan Haidt sebut The Anxious Generation. Generasi yang tumbuh dalam paparan konflik digital terus-menerus mengalami kecemasan bukan karena kurang informasi, tetapi karena kelebihan informasi tanpa otoritas yang jelas.
Dalam konteks ibadah, anxious generation itu tahu ada banyak pendapat. Mereka tahu ada banyak klaim kebenaran. Tapi mereka tidak tahu harus tenang di mana. Media sosial menciptakan ilusi bahwa setiap orang harus punya pendapat tentang segalanya. Termasuk tentang syahr, qamar, syams, falak, dan metodologi penentuan hilal. Akibatnya, ibadah yang seharusnya menenangkan justru menjadi sumber kegelisahan batin.
Kecemasan religius generasi digital: bukan ragu pada Tuhan. Yang mereka ragukan adalah sahnya amalnya sendiri. Jika Ramadhan setiap tahun selalu dibuka dengan debat berkepanjangan, maka yang keliru bukan pada hilalnya. Yang melenceng adalah etos komunikasi keagamaan kita.
Umat Berhak untuk Tenang
Ulama, akademisi, ustad, dan aktivis memikul tanggung jawab besar. Bukan hanya menyampaikan dalil. Mereka juga dituntut menjaga kesehatan mental umat. Karena pada akhirnya, ibadah Ramadhan bukan sekadar harus sah secara hukum, tetapi harus berefek efektif menenangkan jiwa. Ramadhan yang sah namun melelahkan secara batin adalah paradoks yang patut direnungkan.
Kita dan mereka berhak untuk tenang. Hilal akan terus diperdebatkan. Metode akan terus berkembang. Itu keniscayaan ilmiah dan fikih. Tetapi umat juga berhak atas satu hal yang sering terabaikan: hak untuk beribadah tanpa kecemasan yang tak perlu.
Di tengah burnout society dan Anxious Generation, perdebatan klasik mestinya sudah tidak relevan lagi. Ibadah dengan tenang bulan pilihan teoretis. Ketenangan hakiki sudah menjadi kebutuhan sosial. Agama tak pantas lagi menjadi sumber tekanan. Agama harus dikembalikan menjadi rumah batin yang teduh.
Ramadhan, pada akhirnya, bukan soal siapa lebih dulu melihat bulan. Siapa lebih tepat hitungannya. Siapa lebih awal tarawih. Siapa lebih terdepan sahur. Ramadhan sejatinya untuk yang lebih mampu meniti taqwa.











