"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Budaya  

Sejarah Pacitan: Jejak Kerajaan hingga Budaya Jawa Timur yang Unik

Sejarah dan Budaya Pacitan: Identitas yang Terbentuk dari Dinamika Politik dan Peradaban

Pacitan memiliki sejarah panjang yang mencerminkan dinamika politik, kolonialisme, serta perkembangan budaya masyarakat. Wilayah ini dikenal memiliki identitas unik karena secara budaya dekat dengan Jawa Tengah dan Yogyakarta, namun secara administratif menjadi bagian dari Provinsi Jawa Timur. Kondisi ini merupakan dampak dari kebijakan pemerintah Hindia Belanda setelah berakhirnya Perang Jawa.

Pacitan Antara Budaya Jawa Tengah dan Administrasi Jawa Timur



Pacitan dikenal memiliki identitas budaya yang kuat dengan nuansa Jawa Tengah dan Yogyakarta. Namun secara administratif, wilayah ini masuk dalam Provinsi Jawa Timur. Penggabungan Pacitan ke dalam Karesidenan Madiun (Residentie Madioen) pada tahun 1867 menjadi tonggak penting perubahan status administratif wilayah ini. Kebijakan itu memisahkan Pacitan dari pengaruh politik keraton dan menjadikannya bagian wilayah pemerintahan kolonial.

Perubahan struktur kekuasaan terjadi setelah Perang Diponegoro pada 1825–1830 yang menyebabkan kerugian besar bagi Belanda. Krisis ini mendorong pemerintah kolonial melakukan efisiensi birokrasi dengan mengurangi kekuasaan keraton. Sejak saat itu, Pacitan resmi menjadi wilayah pemerintahan dan digabungkan dalam Karesidenan Madiun bersama Ngawi, Magetan, dan Ponorogo. Meski demikian, jejak budaya Mataram Islam dari Surakarta dan Yogyakarta tetap melekat kuat dalam kehidupan masyarakat.

Wilayah Mataraman dan Pengaruh Kerajaan Jawa

Secara historis, Pacitan merupakan bagian dari kawasan Mataraman, yakni wilayah kebudayaan yang dahulu berada di bawah kekuasaan Kesultanan Mataram. Jejak sejarah menunjukkan wilayah ini pernah berada di bawah kekuasaan Keraton Surakarta. Hal tersebut dibuktikan dengan pengangkatan Raden Tumenggung Notopuro sebagai Bupati Pacitan pertama pada 1745 hingga 1757. Pengangkatan ini menandai awal sistem pemerintahan lokal yang terhubung dengan kekuasaan kerajaan.

Dinamika wilayah semakin kompleks setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755 yang membagi wilayah kekuasaan Mataram. Berdasarkan perjanjian itu, wilayah Pacitan terbelah menjadi dua bagian antara kekuasaan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Kini, pembagian wilayah menjadi salah satu alasan kuat mengapa kultur masyarakat Pacitan hingga saat ini dipengaruhi tradisi Surakarta dan Yogyakarta, meskipun secara administratif berada di Jawa Timur.

Letak Geografis dan Kondisi Wilayah Pacitan

Kabupaten Pacitan terletak di ujung barat daya Provinsi Jawa Timur dengan kondisi geografis yang khas. Wilayah ini berbatasan dengan Kabupaten Ponorogo di utara, Trenggalek di timur, Samudra Hindia di selatan, serta Kabupaten Wonogiri di barat. Sebagian besar wilayah Pacitan berupa pegunungan kapur yang merupakan bagian dari rangkaian Pegunungan Kidul. Kondisi geografis seperti ini turut memengaruhi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat sejak masa lampau.

Dalam sejumlah sumber disebutkan kondisi alam Pacitan yang didominasi pegunungan menyebabkan keterbatasan sumber pangan pada masa lalu. Hal ini kemudian memengaruhi berbagai narasi sejarah tentang penamaan wilayah tersebut. Meski memiliki kondisi geografis menantang, Pacitan juga dikenal memiliki potensi sumber daya alam yang besar, terutama di sektor pariwisata dan pesisir selatan.

Asal Usul Nama Pacitan

Sejarah penamaan Pacitan memiliki berbagai versi yang berkembang di masyarakat. Salah satu pendapat menyebut nama Pacitan berasal dari kata “Pacewetan”, gabungan kata pace (buah mengkudu) dan wetan yang berarti timur. Versi lain menyebutkan nama Pacitan berasal dari kata yang bermakna “camilan” atau makanan ringan yang tidak mengenyangkan. Makna ini dikaitkan dengan kondisi daerah yang dahulu dikenal sebagai wilayah dengan keterbatasan sumber pangan. Dalam Babad Momana Sultan Agung juga disebutkan kondisi Pacitan pada masa lalu sebagai daerah dengan potensi pangan terbatas. Fakta tersebut memperkuat anggapan penamaan Pacitan berkaitan dengan kondisi wilayah yang serba terbatas.

Meski demikian, penamaan tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi Pacitan saat ini. Daerah ini justru memiliki potensi alam yang besar dan berkembang menjadi wilayah dengan berbagai sumber daya unggulan.

Legenda dan Sejarah Awal Peradaban Pacitan

Sejarah Pacitan juga berkaitan dengan legenda rakyat dan perkembangan peradaban sejak masa Hindu-Buddha. Wilayah ini pernah berada dalam pengaruh Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh tokoh Ki Ageng Buwono Keling di Wengker Kidul. Masuknya Islam ke Pacitan kemudian dibawa oleh Ki Ageng Petung atau Sunan Siti Geseng bersama tokoh lain seperti Syekh Maulana Maghribi dan Ki Ageng Posong. Proses penyebaran agama ini turut memengaruhi perubahan sosial masyarakat.

Kisah pertempuran antara Ki Ageng Petung dan Ki Buwono Keling menjadi bagian dari legenda lokal yang menandai awal peradaban baru di wilayah tersebut. Dalam cerita rakyat disebutkan kemenangan Ki Ageng Petung menandai berkembangnya ajaran Islam di daerah Pacitan. Keberadaan Buwono Keling, penguasa awal Wengker Kidul diperkuat dengan adanya beberapa prasasti Jawa Kuno yang ditemukan di wilayah tersebut.

Munculnya Nama Pacitan pada Masa Perang Mangkubumi

Nama Pacitan juga dikaitkan dengan peristiwa perang gerilya melawan VOC Belanda pada abad ke-18. Pangeran Mangkubumi dari Keraton Surakarta pernah bergerilya di wilayah pesisir selatan Pacitan. Saat mengalami kekalahan dan kelelahan, Pangeran Mangkubumi mendapat pertolongan dari pengikutnya bernama Setraketipa yang memberikan minuman dari buah pace. Setelah pulih, wilayah tersebut dikenal dengan sebutan “pace sapengetan” yang kemudian berkembang menjadi Pacitan.

Setelah menjadi Sultan Yogyakarta, Pangeran Mangkubumi mengangkat Raden Ngabehi Tumenggung Notopuro sebagai bupati pertama Pacitan pada 1750. Peristiwa tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah berdirinya pemerintahan Pacitan serta awal penggunaan nama Pacitan sebagai wilayah administratif.

Cikal Bakal Pemerintahan dan Warisan Sejarah

Sejarah pemerintahan Pacitan juga berkaitan dengan wilayah Desa Nanggungan dan Sukoharjo yang menjadi pusat awal pemerintahan daerah. Desa Nanggungan dikenal sebagai lokasi peristiwa yang berkaitan dengan munculnya nama Pacitan. Sementara itu, Desa Sukoharjo menyimpan peninggalan sejarah berupa Sumur Njero yang digunakan dalam ritual Tirtowening pada peringatan hari jadi Pacitan. Sumur tersebut merupakan peninggalan pemerintahan awal di wilayah tersebut.

Sejumlah bukti sejarah lain seperti makam Tumenggung Notopuro dan sisa bangunan lama masih dapat ditemukan di wilayah tersebut. Peninggalan ini menjadi bukti keberadaan sistem pemerintahan lokal sejak masa awal. Hingga kini, sejarah panjang Pacitan dari masa kerajaan, kolonial, hingga modern menjadi bagian penting identitas daerah yang membentuk karakter sosial dan budaya masyarakat setempat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *