"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Budaya  

Lara Menjadi Kubah, Kisah Aiptu Sakrawi Melayani Orang Tua di Tanah Bua

Kehidupan yang Berubah: Aiptu Sakrawi Membangun Masjid sebagai Wujud Bakti

Aiptu Sakrawi, seorang anggota Satuan Lalu Lintas Polres Luwu di Sulawesi Selatan, membangun Masjid Nur Nadimah di Kecamatan Bua sebagai bentuk bakti kepada orang tuanya yang telah wafat pada tahun 2016. Masjid berukuran 18×12 meter ini berdiri di perbatasan Desa Pabbaresseng dan Tanarigella, memberikan solusi bagi warga yang sebelumnya harus berjalan ratusan meter untuk melaksanakan salat berjamaah.

Perjalanan Awal yang Penuh Duka

Bagi Muhammad Sakrawi, tahun 2016 bukan sekadar angka di kalender. Itu adalah tahun ketika dunianya mendadak sunyi. Kepergian kedua orang tuanya dalam rentang tiga bulan meninggalkan luka mendalam bagi personel Satuan Lalu Lintas Polres Luwu tersebut. Sakrawi mengungkapkan bahwa duka tersebut seperti “patah hati tanpa obat”.

Meskipun sudah sepuluh tahun berlalu sejak kedua orang tuanya wafat, ia masih merasakan kekosongan yang tak tergantikan. “Saya pernah berandai, kalau habis puasa tidak usah ada lebaran. Karena pasti saya ingat lagi almarhum orang tua,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Mengubah Kesedihan Menjadi Amal

Agar tidak larut dalam kesedihan, Sakrawi memilih mengubah kepedihan menjadi amal jariyah. Ia membangun masjid sebagai bentuk bakti yang terus mengalir untuk kedua orang tuanya.

Masjid tersebut berdiri di perbatasan Desa Pabbaresseng dan Desa Tanarigella, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu. Lokasinya berjarak sekitar 46 kilometer dari Ibu Kota Kabupaten Luwu di Belopa, atau sekitar satu jam perjalanan darat. Wilayah ini berbatasan langsung dengan Palopo di sisi utara dan merupakan akses utama udara karena di sana terletak Bandara La Galigo.

Pemutus Jarak di Tanah Bersejarah

Ide membangun masjid muncul bukan hanya karena dorongan pribadi. Setiap kali berziarah ke makam orang tuanya di Desa Pabbaresseng, Sakrawi melihat warga sekitar kesulitan mencari tempat ibadah. Secara geografis, lokasi tersebut berada cukup jauh dari masjid terdekat. Warga Desa Tanarigella harus menempuh jarak lebih dari 800 meter menuju masjid di Pabbaresseng. Alternatif lain adalah Masjid Babul Jannah di Desa Padang Kalua yang berjarak sekitar 700 meter.

Bagi lansia atau warga yang berjalan kaki, jarak itu terasa berat. “Saya melihat belum ada tempat ibadah di sini. Masyarakat harus menghabiskan banyak tenaga hanya untuk salat berjamaah,” katanya.

Kecamatan Bua sendiri dikenal sebagai salah satu pintu masuk Islam di Sulawesi Selatan pada abad ke-17. Wilayah ini berkaitan dengan dakwah Datuk Patimang atau Datu Sulaiman, bersama Datuk ri Bandang dan Datuk ri Tiro. Jejak sejarah itu terekam pada Monumen Lapandoso di Pantai Muladimeng, tak jauh dari lokasi masjid.

Nama yang Memiliki Makna

Nama “Nur Nadimah” bukan tanpa makna. ‘Nur’ diambil dari nama ayahnya, Nurdin, dan ‘Nadimah’ dari nama ibunya, Nadimah. Masjid seluas 18×12 meter itu menjadi cara Sakrawi mengabadikan kedua nama tersebut.

“Setiap kali dua saudara saya pulang kampung dari Mamuju saat lebaran, setelah ziarah makam pasti singgah di masjid ini,” ujarnya. Pembangunan masjid dimulai pada 2019. Perjalanannya tidak selalu mulus. Saat kondisi keuangan menipis, pembangunan sempat terhenti. Namun ia percaya niat baik akan menemukan jalannya.

Misi Sosial dan Harapan Masa Depan

Masjid Nur Nadimah juga membawa misi sosial. Sebelumnya, lahan di belakang lokasi masjid kerap menjadi tempat berkumpul yang kurang produktif. Kini, suara azan yang berkumandang lima kali sehari diharapkan menjadi pengingat bagi warga. “Semoga yang biasanya berkumpul untuk hal negatif bisa tersentuh saat mendengar seruan salat,” harapnya.

Sebagai anggota Polri, Sakrawi memastikan pembangunan masjid tidak mengganggu tugasnya. Dengan manajemen waktu dan dukungan pimpinan di Polres Luwu, ia memantau progres pembangunan melalui tim kecil setelah jam dinas.

Kini Masjid Nur Nadimah berdiri kokoh di perbatasan desa. Imam masjid, Jamil Andi Sappeile, mengaku bersyukur atas kehadiran masjid wakaf tersebut. “Masyarakat senang. Dulu kampung agak sunyi, sekarang suasananya berbeda. Warga yang lewat juga merasa lebih tenang,” ungkapnya.

Masjid itu menjadi monumen cinta yang tak berhenti mengabdi, sekaligus jembatan silaturahmi bagi warga dua desa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *