"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Budaya  

Kisah Santri Yogyakarta Menggapai Cahaya Alquran Melalui Braille

Kehidupan di Sudut Musala Yaketunis, Yogyakarta

Di tengah suasana yang tenang di sudut musala Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam (Yaketunis) Yogyakarta, hari itu terasa khusuk. Di atas hamparan karpet hijau, suara gesekan kertas tebal beradu dengan lantunan ayat suci yang mengalir fasih menanti kumandang azan Zuhur. Bagi orang awam, deretan titik yang menonjol di atas kertas putih dengan ukuran setara Alquran berukuran besar itu mungkin hanya teka-teki.

Namun bagi Egi Jordi (22) dan Fajar Kustiyono (18), titik-titik tersebut bagaikan jendela dunia, bahkan peta jalan yang menuntun arah kehidupan mereka. Jari-jemari keduanya tampak meliuk lincah, menari di atas baris demi baris Alquran Braille, bak tanpa keraguan dalam setiap makhraj yang terucap.

Egi menjelaskan bahwa kitab suci yang digunakannya sebagai penyandang disabilitas netra memang sangat berbeda dengan Alquran pada umumnya. “Ini juz per juz. Kalau dikumpulkan sampai 30 juz, bisa satu kardus penuh. Tebal banget, makanya harus dipisah-pisah,” ujarnya sembari tersenyum.

Bukan Santri Biasa

Egi, yang merupakan pemuda asal Muara Enim, Sumatera Selatan, dan Fajar, remaja asal Semarang, Jawa Tengah, bukanlah santri biasa. Sejak tiba di Yaketunis pada 2022 silam, keduanya telah melampaui batas kemampuan diri, dengan fondasi berupa teknik membaca Alquran Braille.

Kini, selepas duduk di bangku kelas XII SMA, mereka memegang amanah sebagai pembimbing TPA (Taman Pendidikan Alquran) bagi adik-adik kelasnya. Menjadi guru bagi sesama tunanetra tentu bukan perkara mudah, di mana tantangan terbesar adalah menghadapi perbedaan kemampuan setiap individu.

“Ada yang sudah tahap bisa membaca, ada yang belum sama sekali, bahkan ada yang belum hafal huruf sama sekali. Kita harus tahu mana yang didahulukan, mana yang butuh perhatian lebih,” ungkap Egi.

Fajar menambahkan bahwa kesabaran dan ketelatenan merupakan kunci utama sebagai guru pendamping, yang sudah dilakoninya beberapa tahun terakhir. “Lumayan menantang, soalnya memang harus sabar mengajari yang lambat membacanya. Apalagi, kalau membimbing yang benar-benar dari nol,” terangnya.

Cita-cita Besar

Saat ini, ada sedikitnya 38 anak dari berbagai penjuru nusantara yang bermukim di asrama, termasuk Egi dan Fajar, yang memilih bertahan demi masa depan. Semangatnya tak pernah padam, seiring target tinggi yang diusung dua sahabat ini selepas lulus SMA, yakni menembus Universitas Brawijaya, Malang.

Egi fokus mengincar kursi di jurusan Ilmu Hukum atau Ilmu Politik, sementara Fajar memiliki cita-cita besar untuk mendalami Ilmu Sosiologi. Bagi keduanya, keterbatasan penglihatan hanyalah kondisi fisik, namun visi dan mimpi mereka melampaui apa yang bisa dilihat mata manusia biasa.

“Makanya sekarang sudah mulai persiapan (menuju bangku kuliah), sambil tetap mengejar target hafalan Alquran juga tentunya, ya,” ungkap Fajar.

Mengangkat Harkat dan Martabat Tunanetra

Ibu Asrama Yaketunis, Siti Aminatun, mengungkapkan bahwa Yaketunis didirikan pada kisaran tahun 1964 oleh figur Supardi Abdussomad. Visi misinya adalah untuk mengangkat harkat dan martabat tunanetra, yang kala itu masih mengalami kesulitan untuk mengakses sarana pendidikan layak.

“Yang mendirikan Bapak Supardi, beliau itu tuna netra juga. Akhirnya terus berkembang sampai sekarang, jadi jujugan dari berbagai daerah,” urainya.

Sejarah mencatat, alumni dari asrama di Kemantren Mantrijeron ini telah melanglang buana menjadi ASN, dosen, hingga ada yang meraih gelar Doktor (S3) di UGM. Menurut Siti, pihak yayasan memang senantiasa menekankan mental pejuang kepada seluruh anak didiknya, supaya tidak menyerah pada keterbatasan fisik.

“Makanya, anak-anak di sini punya motivasi tinggi. Kita berikan pengertian, bahwa dunia kerja sekarang memberikan peluang besar bagi disabilitas,” ucapnya.

Di musala itu, titik-titik braille terus disentuh oleh ketukan jari anak-anak muda yang dianugerahi keistimewaan dari sang empunya hidup. Setiap ayat yang lantang dibaca adalah menjadi sebuah bukti, bahwa cahaya Tuhan bisa ditemukan siapa saja, bahkan di tengah kegelapan total sekalipun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *