"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Budaya  

Kisah Penjual Beduk di Kudus yang Tak Pernah Menyerah

Penjualan Beduk dan Rebana Menurun di Tengah Ramadan



Penjualan beduk dan rebana di tempat Sugiarto, pengrajin beduk asal Desa Kedungsari, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mengalami penurunan yang signifikan. Hal ini terjadi pada momen Ramadan tahun ini, di mana penjualan hanya mencatat satu pesanan.

Sugiarto, pria berusia 48 tahun ini, mengungkapkan bahwa selama 26 tahun berkecimpung dalam pembuatan beduk, ia biasanya menerima banyak pesanan. Namun, situasi kini jauh berbeda. Pada Ramadan kali ini, ia hanya mendapatkan satu pesanan beduk dari Palembang, dengan ukuran diameter 60 sentimeter x 1,2 meter dan harga sebesar Rp 10 juta.

Pada tahun 2015 silam, Sugiarto pernah menerima delapan hingga sepuluh pesanan beduk. Kondisi ini sangat berbeda dibandingkan beberapa tahun terakhir, di mana penjualannya menurun drastis. Bahkan, pada Ramadan tahun lalu, ia hanya menerima dua pesanan. Sedangkan di tahun ini, baru ada satu pesanan.

Selain membuat beduk, Sugiarto juga memproduksi rebana. Sayangnya, permintaan rebana juga mengalami penurunan di momen Ramadan tahun ini. Ia menerima pesanan baik secara keseluruhan maupun eceran. Harga satu set rebana mencapai Rp 2,5 juta, yang meliputi empat unit rebana, dua unit keprak, satu unit tam tung, satu unit bas, dan satu unit darbuka.

Pada tahun 2015, ia pernah menjual ratusan set rebana. Namun, di momen Ramadan tahun ini, jumlahnya hanya sekitar 30 set. Sebelum tahun 2020, penjualan beduk dan rebana menjangkau seluruh Indonesia, mulai dari Pulau Jawa hingga luar Pulau Jawa. Namun, kini permintaan semakin sedikit.

Upaya Memasarkan Produk

Sugiarto mencoba memasarkan produknya ke beberapa daerah seperti Tuban, Kendal, Yogyakarta, Malang, Surabaya, dan Cirebon. Namun, hasilnya nihil karena tidak ada yang berminat. Keadaan ini memberikan dampak terhadap karyawan di tempatnya. Beberapa dari mereka harus dirumahkan, sementara yang lain mencari pekerjaan di tempat lain.

Dari total 30 karyawan, kini hanya tersisa 15 orang. Meski pesanan sedikit, Sugiarto tetap berusaha memproduksi dalam jumlah kecil sebagai persiapan jika nantinya ada pesanan. Jam kerja karyawan diatur mulai pukul 07.00 WIB hingga 16.00 WIB setiap hari, kecuali hari Jumat yang libur.

Stok yang Menumpuk di Gudang

Stok beduk dan rebana yang menumpuk di gudang produksi miliknya menjadi tantangan lain. Beberapa rebana di tempatnya bahkan termakan rayap. Sugiarto menunjukkan gudang produksi yang kini tidak aktif karena karyawan diliburkan setiap hari Jumat. Proses produksi di gudangnya kini tidak seheboh dulu.

Di gudang masih ada ratusan set rebana yang mentah. Begitu pula dengan beduk yang belum diamplas dan dipasang kulit kerbaunya. Ia menyebutkan bahwa dahulu, beragam ukuran beduk dan rebana dibuatnya, mulai dari ukuran 60 sentimeter x 1,2 meter seharga Rp 10 juta, hingga ukuran terbesar 1,6 meter x 2 meter seharga Rp 150 juta.

Bahan Kayu Berkualitas

Bahan kayu yang digunakan adalah trembesi dengan usia 150 hingga 300 tahun. Pemilihan usia kayu ini bertujuan agar produk tidak mudah rusak. Kayu trembesi didapatkannya dari Ciamis, Jakarta, Surabaya, dan Banyuwangi.

Untuk rebana, ia menggunakan kayu nangka dan mahoni dengan ukuran diameter 30 sentimeter. Namun, suara gergaji mesin di tempat produksinya kini tidak lagi terdengar.

Alasan Bertahan di Usaha Keluarga

Sugiarto tidak tahu secara pasti penyebab sepinya pesanan beduk dan rebana. Namun, dari pengakuannya, rekan-rekannya juga mengalami hal serupa. Beberapa dari mereka sudah berhenti sejak beberapa tahun lalu, sementara yang masih bertahan pun pesanannya sepi.

Meski demikian, Sugiarto memilih untuk tetap bertahan dalam usaha pembuatan beduk dan rebana. Alasannya adalah karena usaha ini merupakan warisan dari ayahnya. Ia ingin merawat dan melestarikannya.

Ia mewarisi usaha ayahnya sejak tahun 2000, sedangkan ayahnya telah memulai lebih lama sejak sebelum 1996. Untuk mengatasi kesulitan, ia mencari pekerjaan sampingan, yaitu persewaan mobil ELF untuk travel. Saat ini, ia memiliki dua unit ELF. Hasil penyewaan mobil itu digunakan untuk kebutuhan dapur agar tetap ngebul.

Harapan di Masa Depan

Meskipun pesanan sedang sepi, Sugiarto tetap percaya bahwa suatu saat akan kembali normal. Ia meyakini bahwa situasi akan segera membaik. “Setiap sakit akan ada sembuh. Setiap sepi akan ada ramai. Segetir apa pun hidup ini, saya tidak getir,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *