Mengapa Malam Lailatul Qadar Penting bagi Umat Muslim
Sebagai umat Muslim, kita wajib meneladani teladan yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW. Segala tindakan dan kebaikan yang dilakukannya menjadi contoh terbaik untuk seluruh umat Islam di dunia. Salah satu malam yang sangat istimewa dalam bulan Ramadan adalah Malam Lailatul Qadar. Di malam ini, doa-doa akan dikabulkan oleh Allah SWT, dan pahala ibadah dilipatgandakan.
Rasulullah SAW bersabda bahwa Malam Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan. Hal ini menjelaskan betapa pentingnya momen ini bagi umat Muslim. Dalam Al-Quran, khususnya pada surat Al-Qadr ayat 3-5, disebutkan bahwa malam tersebut lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu, malaikat-malaikat dan malaikat Jibril turun dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu juga penuh dengan kesejahteraan hingga terbit fajar.
Mengikuti perbuatan Nabi dalam ibadah dan akhlak adalah bentuk ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu, hukum meneladani Rasulullah SAW adalah wajib bagi setiap Muslim, didasarkan pada perintah Allah dalam Al-Qur’an (QS. Al-Ahzab: 21 sebagai Uswatun Hasanah (suri teladan baik). Meninggalkan sunnah-Nya dapat berakibat pada kerugian, terlebih di malam Lailatul Qadar, sebaiknya umat Muslim fokus beribadah dan mengerjakan keberkahannya.
Amalan yang Bisa Ditiru dari Nabi Muhammad SAW di Malam Lailatul Qadar
Berikut beberapa amalan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika Lailatul Qadar:
- Ibadah pada 10 Hari Terakhir Ramadan
Semangat ibadah pada sepuluh hari terakhir Ramadan sangat dianjurkan. Nabi Muhammad SAW menghidupkan malam-malam tersebut dengan beribadah, membangunkan keluarganya, dan memperbanyak membaca Al-Qur’an serta berdzikir. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, beliau kencangkan sarungnya (bersungguh-sungguh dalam ibadah dengan meninggalkan istri-istrinya), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya untuk beribadah.” (HR. Bukhari, no. 2024 dan Muslim, no. 1174).
- Menghadiri Shalat Isya dan Subuh Berjamaah
Menghidupkan malam Lailatul Qadar bisa dilakukan dengan menghadiri shalat berjamaah, khususnya shalat Isya dan Shubuh. Imam Syafi’i dan ulama Madinah menjelaskan bahwa menghadiri kedua shalat tersebut termasuk bagian dari menghidupkan malam Lailatul Qadar. Dikatakan oleh Imam Malik dalam Al-Muwatha’, Ibnul Musayyib menyatakan:
“Siapa yang menghadiri shalat berjamaah pada malam Lailatul Qadar, maka ia telah mengambil bagian dari menghidupkan malam Lailatul Qadar tersebut.”
Dalam perkataan Imam Syafi’i yang qadim (yang lama):
“Siapa yang menghadiri shalat ‘Isya’ dan shalat Shubuh pada malam Lailatul Qadar, maka ia telah mengambil bagian dari malam tersebut.” (Latha-if Al-Ma’arif, hlm. 329).
Hadits dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Siapa yang menghadiri shalat ‘Isya berjamaah, maka baginya pahala shalat separuh malam. Siapa yang melaksanakan shalat ‘Isya dan Shubuh berjamaah, maka baginya pahala shalat semalam penuh.” (HR. Muslim, no. 656 dan Tirmidzi, no. 221).
- Melakukan Shalat Malam pada Malam Lailatul Qadar
Shalat malam pada Lailatul Qadar sangat utama. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi SAW bersabda:
“Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari, no. 1901)
Ibnu Hajar Al-‘Asqalani rahimahullah mengatakan bahwa yang dimaksud ‘iimaanan’ (karena iman) adalah membenarkan janji Allah yaitu pahala yang diberikan (bagi orang yang menghidupkan malam tersebut). Sedangkan ‘ihtisaaban’ bermakna mengharap pahala (dari sisi Allah), bukan karena mengharap lainnya yaitu contohnya berbuat riya’.
- Mengamalkan Doa pada Malam Lailatul Qadar
Doa pada malam Lailatul Qadar memiliki keutamaan tersendiri. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:
“Jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa doa yang mesti kuucapkan?” Jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berdoalah: ALLAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU’ANNI (artinya: Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf—menghapus kesalahan–, karenanya maafkanlah aku—hapuslah dosa-dosaku–).” (HR. Tirmidzi, no. 3513 dan Ibnu Majah, no. 3850, Abu ‘Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih).
Ibnu Rajab rahimahullah memberi penjelasan:
“Dianjurkan banyak meminta maaf atau ampunan pada Allah di malam lailatul qadar setelah sebelumnya giat beramal di malam-malam Ramadhan dan juga di sepuluh malam terakhir. Karena orang yang arif (bijak) adalah yang bersungguh-sungguh dalam beramal, namun dia masih menganggap bahwa amalan yang ia lakukan bukanlah amalan, keadaan, atau ucapan yang baik (saleh). Oleh karenanya, ia banyak meminta ampun pada Allah seperti orang yang penuh kekurangan karena dosa.”
Yahya bin Mu’adz pernah berkata:
“Bukanlah orang yang arif (bijak) jika ia tidak pernah mengharap pemaafan (penghapusan dosa) dari Allah.” (Latha-if Al-Ma’arif, hlm. 362-363).











