Kondisi Anggaran Negara dan Ketahanan Energi Indonesia
Pemerintah Indonesia memastikan bahwa kondisi anggaran negara masih cukup kuat dalam menghadapi eskalasi global, termasuk potensi kenaikan harga minyak dunia. Dengan adanya gejolak yang tidak berlangsung ekstrem, dampaknya dinilai masih bisa diserap dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun berjalan.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa pemerintah telah melakukan simulasi terhadap berbagai skenario harga minyak untuk satu tahun ke depan. Perhitungan tersebut menjadi dasar dalam menjaga ketahanan fiskal di tengah ketidakpastian global. Ia menyatakan bahwa jika krisis seperti ini berkepanjangan, anggaran akan diuji kemampuannya. Namun, menurut analisis yang ada saat ini, anggaran masih dalam kondisi baik, sehingga tidak ada masalah.
Kinerja penerimaan negara menunjukkan perbaikan signifikan pada awal tahun 2026. Penerimaan pajak dan bea cukai pada Januari–Februari 2026 tumbuh sekitar 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka ini menunjukkan adanya perbaikan yang signifikan di ekonomi dan perilaku masyarakat terkait pajak dan bea cukai.
Purbaya juga menegaskan bahwa pemerintah telah menghitung skenario kenaikan harga minyak pada level tertentu selama satu tahun anggaran. Selama kenaikan masih dalam batas simulasi, APBN dinilai mampu menyerap tekanan tersebut. Jika harga minyak naik terlalu tinggi, pemerintah akan melakukan perhitungan ulang.
Stok BBM dan Kapasitas Penyimpanan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa cadangan BBM di Indonesia masih kuat hingga 20 hari. Hal ini diungkapkan oleh Bahlil ketika mengikuti rapat dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Senin (2/3/2026). Ia menyampaikan rencana untuk menambah kapasitas penyimpanan stok bahan bakar minyak (BBM), dari yang semula hanya 25–26 hari menjadi 90 hari atau tiga bulan.
Faktanya, ketahanan energi Indonesia memiliki kapasitas penyimpanan maksimal di angka 25–26 hari, tidak lebih dari itu. Bahlil menyampaikan bahwa hal ini disebabkan oleh terbatasnya storage atau penyimpanan BBM yang dimiliki Indonesia. Saat ini, studi kelayakan pembangunan storage sedang berlangsung. Pemerintah menargetkan storage mulai dibangun pada 2026 dan direncanakan berlokasi di Sumatera.
Untuk ketahanan minyak saat ini, Bahlil menyampaikan bahwa stok minyak mentah (crude), BBM, serta LPG rata-rata berada di atas standar minimum ketahanan nasional. Adapun standar minimum yang ditetapkan pemerintah adalah 23 hari.
Perang Timur Tengah dan Dampaknya terhadap Pasokan Energi
Ketahanan energi Indonesia menjadi sorotan masyarakat di tengah perang antara Amerika Serikat–Israel dan Iran. Pada Sabtu (28/2), Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangkaian serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk Teheran. Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan kerusakan dan korban sipil. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat–Israel. Televisi pemerintah Iran mengonfirmasi kematian Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan tersebut. Media Iran melaporkan bahwa Selat Hormuz telah “secara efektif” ditutup menyusul serangan Amerika Serikat–Israel, meski belum ada pengumuman resmi mengenai blokade formal.
Selat Hormuz menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dunia serta volume besar ekspor gas alam cair dari Qatar dan Uni Emirat Arab. Sekitar 20 persen konsumsi minyak harian global atau sekitar 20 juta barel melintasi koridor tersebut.
Strategi Pemerintah dalam Menghadapi Konflik
Bahlil mengatakan pemerintah menyiapkan skenario alternatif menyusul penutupan Selat Hormuz akibat konflik Israel–Amerika Serikat dan Iran. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi dampak berkepanjangan terhadap pasokan energi global dan stabilitas dalam negeri. Ia menyampaikan hal itu usai memimpin rapat perdana Dewan Energi Nasional (DEN) atas arahan Presiden di Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Dalam skenario alternatif, pemerintah akan mengalihkan sebagian pembelian crude dari Timur Tengah ke Amerika Serikat guna menjamin kepastian pasokan. “25 persen dari total crude yang kita pesan dari Timur Tengah itu akan dialihkan. Ya, 25 persen,” ujar Bahlil.
Untuk produk BBM, Indonesia tidak mengimpor dari kawasan konflik. Impor bensin RON 90, 93, 95, dan 98 berasal dari negara di luar Timur Tengah, termasuk Asia Tenggara, dengan skema kontrak jangka panjang.
Prediksi Harga Minyak dan Dampak bagi Indonesia
Pakar energi dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, memprediksi harga minyak dunia bisa naik hingga 100 dolar AS per barel dari kisaran 72 dolar AS per barel dengan skenario penutupan Selat Hormuz. “Jika ditutup saat ini, besok lusa bisa langsung mencapai 90–100 dolar AS per barel,” ujar Yayan di Jakarta, Senin (2/3/2026).
Selat Hormuz merupakan jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman, terletak di antara Oman dan Iran, serta menjadi rute utama perdagangan energi global. Di selat ini mengalir sekitar seperlima dari total ekspor minyak dunia, termasuk sebagian besar minyak dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak sebelum dikirim ke pasar internasional.

Sebuah kapal terlihat berlabuh di lepas pantai Dubai, Uni Emirat Arab, menyusul penutupan Selat Hormuz oleh Iran , 1 Maret 2026. – (EPA/Stringer)

Pengendara mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite di SPBU di kawasan Jalan Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur, Senin (13/5/2024). – (/Thoudy Badai)











